Selamat datang di blog sederhana ini, kiranya menjadi berkat bagi kita semua

Kamis, 11 November 2010

Sermon Epistel Minggu 14 Oktober 2010

SETIA DALAM PERKARA DUNIAWI & SORGAWI


Luk 16:10-13
Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?  Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?  Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.


Pendahuluan
Ada pepatah lama mengatakan : “Orang tidak tersandung oleh Batu besar, tetapi oleh kerikil kecil”. Dalam hidup ini kita sering menyepelekan hal-hal yang kecil, dan mengabaikannya. Pada hal bisa saja hal-hal kecil itu menentukan langkah kita selanjutnya dalam menghadapi hal-hal besar. Segala sesuatu selalu dimulai dari hal yang kecil, manusia juga bertumbuh dari seorang anak kecil menjadi dewasa. Sering sekali hal-hal kecil yang kita abaikan, justru menjadi batu sandungan bagi kita untuk meraih hal-hal besar.
Di awal Pasal ini, Yesus membuat perumpamaan tentang seorang Bendahara yang tidak jujur, ketika dia tahu akan dipecat, dengan cerdik dia mengambil hati orang-orang di sekitarnya agar ketika dia dipecat ada orang yang mau menerimanya dan bersahabat dengannya. Dan tentang hal ini, Yesus berkata :  “ Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi."
Yesus bukan membela tindakan Bendahara yang tidak jujur itu, tetapi DIA hanya ingin menggambarkan bahwa ternyata orang-orang dunia lebih cerdik mencari keselamatannya sendiri daripada orang-orang yang hidup dalam terang.

Penjelasan
Dalam ayat (10-12) Yesus berbicara tentang kesetiaan. Kesetiaan yang harus dimulai dari hal-hal kecil, sebab kesetiaan kita terhadap “perkara-perkara kecil” akan menggambarkan kesetiaan kita terhadap “perkara-perkara besar”, Jika kita tidak setia dalam hal-hal “duniawi” (yang kecil menurut ukuran Tuhan), bagaimana mungkin kita setia terhadap hal-hal “Rohani” yang besar itu. Jika kita tidak setia menjaga, memelihara dan memanfaatkan harta yang di titipkan Tuhan kepada kita dalam dunia ini, bagaimana mungkin kita akan mendapatkan “Harta Sorgawi” yang sesungguhnya itu?
Tujuan hidup orang Kristen memang bukanlah dunia ini, Paulus berkata “Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia” (I Kor 15:19), Tujuan dan pengharapan kita sebagai orang Kristen adalah mendapatkan Harta Sorgawi yang tidak bisa dicuri, tidak akan dirusak oleh ngengat dan karat. Namun…..kita jangan lupa bahwa untuk sampai disana tidak bisa tembak langsung, tetapi kita harus menjalani terlebih dahulu kehidupan kita di dunia ini. Dan setiap tindakan / perbuatan kita selama masih di dunia ini, itulah yang akan menentukan apakah kita akan memperoleh “Harta Sorgawi” atau tidak. Itu sebabnya kita diingatkan bahwa kesetiaan kita dalam perkara-perkara duniawi akan menentukan arah langkah kita untuk mendapatkan perkara-perkara sorgawi. Sebagaimana Yesus katakana dalam Yoh 3:12 “Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi”
Perkara duniawi dan perkara rohani adalah dua hal yang berbeda, Duniawi menyangkut kepada harta/kekayaan, kekuasaan, kehormatan dan nafsu, tetapi Perkara Rohani menyangkut kepada Iman, Pengharapan dan Kasih. Sehingga di ay.13 dikatakan : “Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan…”. Ini menjelaskan bahwa kita tidak boleh men-setarakan hal-hal dunia dengan hal-hal Rohani. Kita tidak boleh mengabdi kepada Allah tetapi mengabdi juga kepada Kekayaan, artinya di satu pihak kita percaya kuasa Allah (hamba Allah), tetapi di pihak yang lain kita dikuasai oleh kekayaan (hamba uang).  
Tetapi yang benar adalah, ketika kita percaya bahwa Kekayaan, Kekuasaan dan segala sesuatu yang ada pada kita berasal dari Allah dan kita pakai untuk memuliakan Allah. Uang, Harta, Kekayaan dan sejenisnya adalah Perkara-perkara kecil di hadapan Allah, jadi jangan sampai kita tersandung oleh perkara-perkara kecil itu sehingga kita tidak mendapatkan perkara-perkara besar yang telah disediakan Allah bagi kita yaitu mahkota Sorgawi yang kekal, sebagaimana Tuhan katakan dalam Wahyu 3:11 “Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorang pun mengambil mahkotamu.”

Penutup
Kita dituntut untuk mampu mengelola kekayaan (Mamon) yang ada di dunia ini, untuk dipergunakan sebesar-besarnya bagi kemuliaan Allah. Empati kita terhadap korban bencana alam di Wasior, Mentawai dan Merapi yang kita wujudkan dengan bantuan/sumbangan, merupakan salah satu contoh bagaimana kita menggunakan Harta kita untuk kemuliaan Tuhan. Dengan membantu sesama berarti kita telah mengaplikasikan Kasih dalam hidup kita. Tetapi hendaklah kita melakukan itu dengan benar supaya jangan menjadi ajang untuk menonjolkan diri, seperti tertulis :Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu”.
Jika kita setia dalam pemberian kita yang “Kecil” itu (menurut ukuran Tuhan), maka Tuhan akan mempercayakan kepada kita Pemberian yang “Besar” yaitu Harta Sorgawi yang kita rindukan, Sebab ada tertulis dalam Ibrani 11:16 “Tetapi sekarang mereka merindukan tanah air yang lebih baik yaitu satu tanah air sorgawi. Sebab itu Allah tidak malu disebut Allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka

utm.09.11.10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

HTML