Selamat datang di blog sederhana ini, kiranya menjadi berkat bagi kita semua

Selasa, 07 Juni 2011

KHOTBAH MINGGU 12 JUNI 2011


PENTAKOSTA
Kis. 2:1-8
2:1 Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat.
2:2 Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk;
2:3 dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing.
2:4 Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.
2:5 Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit.
2:6 Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri.
2:7 Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: "Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea?
2:8 Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita:

Pengantar 
            Secara harfiah, Pentakosta adalah kata yang berasal dari bahasa Yunani itu berarti "hari ke-50". Bagi orang Yahudi, hari itu penting dan merupakah sebuah keharusan, sebagaimana diperintahkan oleh Tuhan kepada mereka. Tibanya hari Pentakosta berarti berakhirnya tradisi perayaan selama tujuh minggu, di mana umat Israel merayakan paskah. "Hari raya Tujuh Minggu, yakni hari raya buah bungaran dari penuaian gandum, haruslah kau rayakan, juga hari raya pengumpulan hasil pada pergantian tahun (Kel.34:22). Perlu kita perhatikan bahwa dari sekian banyak perayaan yang dilakukan oleh orang Yahudi, maka hari raya Pentakosta merupakan perayaan terbesar, di mana pada saat itu merupakah hari yang penuh sukacita dan di mana mereka bersyukur kepada Allah atas segala kasih dan pemeliharaanNya, termasuk akan hasil panen tuaian gandum dan jelai. Karena itu, mereka akan datang kepada Allah dengan membawa korban syukur yang merupakan persembahan mereka kepada Allah, sekaligus menyatakan pengakuan mereka bahwa segala yang baik yang mereka terima,  berasal dari Allah (baca. Ul.16:11 dan Im.23:17-20).

            Jika hari Pentakosta penting bagi orang-orang Yahudi, demikian juga bagi orang Kristen. Dalam PB kita membaca narasi dari Kisah Para Rasul bahwa hari Pentakosta merupakan hari turunnya Roh Kudus, di mana sejak hari Raya Pentakosta tsb Alkitab menunjukkan bahwa Roh Kudus bekerja secara penuh di dalam GerejaNya. Ini tidak berarti bahwa Roh Kudus belum bekerja sebelum hari raya Pentakosta tsb, karena kita dengan jelas membaca dalam Injil Sinoptik dan Yohanes bahwa Roh Kudus sudah bekerja sebelum itu, baik pada waktu pembaptisan Yesus, pencobaan di padang gurun, dll (Mat.3:16; Mark.1:10; Luk.3:21-22; Yoh.1:32-33; Mat.4:1; Luk.4:1).
            Di dalam PL, kita juga membaca bagaimana Roh memimpin para nabi pada saat tertentu dan ketika mengerjakan tugas tertentu. Namun demikian, Alkitab menjelaskan bahwa kehadiran dan peran Roh Kudus tidak pernah dialami oleh umat Allah secara penuh sebagaimana terjadi pada hari Pentakosta, yaitu hari setelah Yesus menyelesaikan karya penyelamatan melalui kematian dan kebangkitannya.

Penjelasan
            Sejauh manakah kita memahami pentingnya Roh Kudus dalam GerejaNya? Alkitab, khususnya Kisah Para Rasul menunjukkan bahwa turunnya Roh Kudus di hari Raya Pentakosta sangat penting. Itulah sebabnya, sebagian ahli menafsirkan bahwa sesungguhnya Gereja yang sejati baru berdiri di hari Pentakosta tsb (Kis.2).
            Menurut pandangan ini, Gereja yang sejati baru berdiri SETELAH SELURUH KARYA YESUS SELESAI. Ini berarti bahwa Gereja yang sejati baru ada ketika ada umat yang percaya mengalami karya penebusan Kristus secara sempurna. Masa sebelum itu dianggap sebagai masa persiapan Gereja.
            Pentingnya hari Pentakosta tersebut dapat dilihat dari penegasan Yesus pada  Kis.1: 4-5. Pada ayat tersebut Tuhan Yesus, di satu pihak melarang rasul-rasul pergi meninggalkan Yerusalem. Di pihak lain, rasul-rasul diperintahkan untuk "menantikan janji Bapa" (4). Mengapa? Bukankah dari segi pengetahuan dan pengalaman, rasul-rasul telah mengenal siapa Yesus sesungguhnya dan telah hidup bersamaNya selama kira-kira tiga tahun? Ditinjau dari segi waktu, apakah tidak sebaiknya mereka segera pergi keseluruh dunia untuk mengabarkan kabar baik itu sebagaimana tertulis dalam Mat.28? Benar rasul-rasul telah mengenal dan hidup bersama Yesus. Mereka tidak sekedar memiliki pengetahuan teoritis tentang Yesus. Mereka perlu segera pergi mengabarkan kabar baik itu. Namun demikian, Yesus melarang mereka karena semua pengetahuan dan pengalaman itu harus disertai dengan hadirnya Roh Kudus dalam diri mereka. Hal itu ditegaskan Tuhan Yesus pada Kis.1:8: "Kamu akan menerima KUASA KALAU ROH
KUDUS TURUN KE ATAS KAMU. Dan kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem. sampai ke ujung bumi
". Itulah sebabnya mereka diperintahkan untuk menantikan janji Bapa akan turunnya Roh Kudus di hari Pentakosta (sebagaimana kita lihat dalam nats ini).
            Pernyataan Tuhan Yesus tersebut sangat penting buat kita semua yang mengaku sebagai orang Kristen. Pertama, kita perlu menghayati kebenaran ini. Kekristenan tidak dapat dipisahkan dari pengalaman hidup bersama Roh Kudus  Alkitab bahkan menegaskan bahwa sesungguhnya, hidup baru di dalam Kristus adalah hidup di DALAM dan DIPIMPIN Roh. Hal ini secara jelas dan tegas diuraikan oleh rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma (pasal 8). Rasul Paulus menegaskan bahwa tanpa Roh Kristus, seseorang bukan milik Kristus (8:9b), dan anak-anak Allah harus dipimpin oleh Roh Allah (8:14).
            Jika kita memahami doktrin manusia sebagaimana ditegaskan oleh rasul Paulus,  maka kita akan melihat kemustahilan manusia untuk hidup benar dari dirinya sendiri. Setelah kejatuhan manusia dalam dosa (Kej.3) Rasul Paulus menggambarkan manusia dalam kondisi yang sangat mengerikan dan tidak ada harapan. Manusia bukan saja berdosa, tetapi diperbudak oleh dosa. Karena itu, mau tidak mau manusia harus berdosa. Dalam keadaan seperti ini, Alkitab menjelaskan bahwa manusia yang berbuat dosa, sebenarnya bukan karena dia tidak tahu bahwa hal itu adalah dosa. Juga bukan karena tidak memiliki kerinduan atau keinginan untuk hidup benar. Banyak orang yang bergumul dengan kebiasaan-kebiasaan jeleknya, seperti keinginan terlepas dari perjudian, percabulan, perzinahan, merokok, narkoba, dll. Namun, masalah utama yang mereka hadapi adalah ketidakberdayaan melawan kuasa dosa yang ada di dalam diri mereka. MAU, TAPI TIDAK MAMPU. Itulah sebabnya, jika kita mengalami pergumulan seperti itu, kita bersyukur karena ada Roh yang melepaskan kita dari segala perbudakan dosa tsb. Paulus menyerukan: "Roh yang memberi hidup telah memerdekakan kamu..." (Rom.8:1).    
       Sama seperti umat Allah di PL dengan penuh sukacita merayakan hari Pentakosta atas terlepasnya mereka dari perbudakan Firaun di Mesir, demikian juga umat Allah di PB dengan penuh sukacita dan syukur kepada Allah merayakan hari kelepasan dari perbudakan dosa. Kiranya kita semua bersorak sorai, penuh sukacita karena hidup kita yang dimerdekakan, hidup yang terus menerus dibaharui, hidup yang bertumbuh semakin dewasa di dalam Yesus. Bukankah hidup seperti itu merupakan ciri kekristenan yang sejati dan tidak dapat dibantah? Tapi, jika kita masih dibelenggu dosa-dosa tertentu, tidak mengalami kemerdekaan dan kelepasan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, apa artinya hari raya Pentakosta tsb?
            Selanjutnya, kita juga membaca penegasan Yesus yang sangat penting, yaitu turunnya Roh Kudus di hari Pentakosta dikaitkan dengan KUASA UNTUK BERSAKSI
"Dan kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem, Yudea dan Samaria sampai ke ujung bumi" (Kis.1:8). Penegasan itu penting, terutama di tengah-tengah adanya penyalahgunaan akan apa yang disebut dengan kuasa Roh Kudus. Kelompok tertentu mengajarkan bahwa tanda seseorang dipenuhi Roh Kudus adalah ketika dia mengalami manifestasi atau tanda-tanda tertentu di dalam hidupnya. Salah satu tanda yang disebutkan adalah soal berbahasa lidah. Karena itu, bahasa lidah (Yunani, glossolalia) dijadikan bukti (satu2nya dan bersifat mutlak) bahwa seseorang itu telah menerima Roh Kudus dalam hidupnya.
            Roh Kudus dapat dilihat dari berbagai hal, antara lain, kerinduannya untuk hidup kudus, memuji dan memuliakan Tuhan, menjadi berkat bagi sesama dan bersaksi bagi Yesus, sebagaimana kita baca dalam penegasan Tuhan Yesus pada Kis.1:8 tsb di atas. 
            Tugas menjadi saksi tsb tentu sangat penting. Terlebih lagi, menjadi saksi  bagi Yesus, sang Juruselamat dunia, yang di dalam kasih dan kerendahan hatiNya menyerahkan diriNya bagi umat berdosa. Kita semua memahami apa artinya menjadi saksi yang benar di dalam sidang pengadilan.
Seorang tukang pos hampir saja menjalani hukuman mati karena dituduh telah membunuh seorang wanita yang sangat kaya, yang meninggal dunia pada saat dia mengantarkan surat. Hal itu dibuktikan secara meyakinkan oleh sang suami dari korban. Tapi hukuman mati tidak jadi dilaksanakan, karena menjelang hukuman dilaksanakan, pembela menemukan satu bukti penting dari seorang lumpuh yang hidup mengandalkan kursi roda. Sekalipun orang tersebut kelihatannya tidak berarti, namun kehadirannya sangat penting di ruang pengadilan. Semua orang perlu mendengarkannya. Mengapa? Karena dia adalah saksi mata yang ketepatan menyaksikan bagaimana sang suami bertengkar dengan istrinya dan kemudian menghabisi nyawanya. Itulah sebabnya, ketika si lumpuh dengan berani mengatakan apa yang didengar dan dilihatnya, maka tuduhan palsu terhadap si tukang pos itu dapat dipatahkan dan dia bebas dari hukuman mati.
Demikian halnya dengan Tuhan Yesus. rasul-rasul diberi hak istimewa untuk menjadi saksi bagi Yesus. Itu berarti mereka dituntut untuk mengatakan apa yang mereka dengar, lihat dan alami tentang Yesus. Kesaksian itu sangat penting karena Yesus telah mengetahui sebelumnya akan adanya orang-orang yang salah mengerti tentang diriNya dan mengajarkannya secara salah. Tugas menjadi saksi tersebut sangat berat, penuh resiko dan menuntut harga, termasuk ancaman nyawa! Karena itu, kehadiran Roh Kudus dalam diri setiap saksi sangat mutlak, bukan saja untuk meneguhkan dan memberi keberanian kepada saksi, tapi juga supaya orang yang mendengar kesaksian tersebut dapat diyakinkan (Yoh.16:8). Dan benar, dengan kuasa dari Roh Kudus tersebut,
ketaatan dan kesetiaan para rasul menghasilkan buah, di mana jumlah murid yang percaya kepada Yesus berkembang dengan sangat cepat.
Lukas mencoba memberikan data statistik di mana dimulai dengan 120 orang (Kis.1:15), lalu setelah khotbah pada hari Pentakosta menjadi 3000 org (Kis 2:41), meningkat 5000 orang (Kis 4:4) (itupun yang dihitung baru hanya laki-laki) . Itu berarti peningkatan hampir 4200 persen! Angka di atas merupakan angka terakhir yang diberikan oleh  Lukas, karena selanjutnya, kita hanya menemukan istilah "jumlah murid makin bertambah..." (Kis 6:1). 
            Kiranya, tanda-tanda di atas juga menjadi tanda yang kita temukan di Gereja-gereja kita sebagai manifestasi dari hadirnya Roh Kudus dalam diri kita masing-masing. Kiranya, seiring dengan berubahnya hidup kita oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh tersebut, kita juga melihat perubahan di dalam Gereja kita, semakin bertambah banyak dan bertumbuh makin dewasa (Efesus 4:13).

Penutup
            Akhirnya, menarik sekali jika kita mengamati peristiwa pada hari Pentakosta tersebut. Dalam kenyataannya, ketika itu, rasul-rasul BELUM pergi ke seluruh dunia. Namun mari kita lihat pernyataan Alkitab berikut, bahwa di hari Pentakosta, "Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari SEGALA BANGSA DI BAWAH KOLONG LANGIT  (Kis.2:5). Jadi, sebelum rasul-rasul pergi ke seluruh dunia, Allah telah membawa seluruh dunia DATANG kepada rasul-rasul  Pada saat itu, dengan cara yang ajaib, Allah mengaruniakan kepada mereka kemampuan untuk mendengar rasul-rasul berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri "tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah" (Kis.2:11).
            Kenyataan tersebut penting untuk kita renungkan, agar kita tidak menganggap bahwa misi untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia seolah-olah sesuatu mimpi, yang tidak akan mungkin terjadi. Misi itu adalah misi Allah sendiri. Karena itu, Dia mampu melakukan apa yang diperintahkanNya melalui hamba-hambaNya yang taat dan berserah penuh kepadaNya. Masalahnya, apakah ketaatan dan penyerahan kita kepadaNya sudah mencerminkan hidup seseorang yang dipimpin dan dipenuhi oleh Roh Kudus?
            Kita semua orang-orang percaya adalah misionaris-misionaris yang ditugaskan untuk menjadi saksi dan memberitakan injil ke seluruh penjuru bumi. Dengan kuasa Roh Kudus kita pasti dimampukan melakukan hal itu, bisa kita mulai dari lingkungan terdekat kita. AMIN !

Sumber : Pdt. Mangapul Sagala, DTh


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

HTML