Selamat datang di blog sederhana ini, kiranya menjadi berkat bagi kita semua

Selasa, 01 Maret 2011

Sermon Epistel Minggu Estomihi, 06 Maret 2011


KARAKTERISTIK KASIH
1 Kor 13 : 1-13
13:1 Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.
13:2 Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.
13:3 Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.
13:4 Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
13:5 Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
13:6 Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.
13:7 Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.
13:8 Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.
13:9 Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna.
13:10 Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap.
13:11 Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.
13:12 Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.
13:13 Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.

Pengantar

Pasal 13 dari Surat Paulus yang Pertama kepada Jemaat di Korintus ini adalah yang paling terkenal dari keseluruhan 16 pasal yang ada dalam surat ini. Dalam pasal ini Paulus melukiskan ciri-ciri kasih  yang sejati yang merupakan intisari pengajaran Kristus.
Paulus ingin menjelaskan bagaimana aplikasi Kasih itu di dalam kehidupan manusia. Paulus mengirimkan surat ini kepada jemaat Korintus, dengan harapan  ingin memecah berbagai persoalan yang timbul dalam jemaat itu.
Kasih, tidak cukup hanya dengan retorika bahasa saja, tetapi jauh lebih daripada itu  aplikasi kasih yang benar akan menjawab segenap permasalahan dan persolaan yang timbul dalam segala aspek kehidupan manusia.
Ada beberapa pokok pikiran yang kita lihat dari pasal 13 ini :
·         Ay. 1-3            : Tanpa Kasih, apa pun yang kita lakukan takkan berarti bagi Tuhan.
·         Ay. 4-7            : Ciri-ciri Kasih
·         Ay. 8-13          ; Kasih diatas segalanya

Penjelasan

-          Ay 1-3, Tanpa Kasih, apa pun yang kita lakukan takkan berarti bagi Tuhan
Seringkali kita melakukan sesuatu (perbuatan baik) dengan tendensi yang berbeda dari apa yang diharapkan oleh Tuhan. Pola kehidupan manusia yang “pamrih” lebih menonjol daripada ketulusan dan keikhlasan. Walaupun di luar kelihatan seakan-akan tulus, namun di dalam (hati)  selalu saja ada keinginan untuk mendapatkan sesuatu sebagai “pamrih” atas apa yang kita lakukan. Prinsip hidup “take & give”, hubungan timbal balik yang saling menguntungkan masih merupakan bagian penting dalam bubungan antar manusia.
Kasih yang sejati tidak cukup ditunjukkan hanya dengan kata-kata manis, intelektual rohani, pengorbanan, kedermawanan  bahkan iman yang besar sekali pun kepada Tuhan. Semua itu takkan berarti apa-apa apabila tidak dibungkus dalam Kasih yang sejati. Prinsip-prinsip kehidupan yang mengharapkan balasan, keuntungan, pujian dan  kehormatan sebagai “akibat: dari perbuatan baik tentu saja tidak masuk dalam kategori perbuatan kasih.
Tetapi ketulusan, keikhlasan, kesungguhan dan kejujuran dalam melakukan perbuatan baik tanpa mengharapkan (tidak terselip sedikit pun di dalam hati) untuk mendapatkan balasan, itulah hakekat sebenarnya dari perbuatan kasih. Kasih itu harus dilakukan dengan jujur Sebagaimana Paulus katakan dalam Roma 12 : 9a “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura!
-          Ay. 4-7, Ciri-ciri Kasih
Dalam nats ini Paulus menunjukkan ada sepuluh ciri-ciri atau karakteristik kasih, yaitu :
1.      Sabar.
Amsal 25:15 berkata “Dengan kesabaran seorang penguasa dapat diyakinkan dan lidah lembut mematahkan tulang”. Itulah kuasa kesabaran, sehingga ada ungkapan “orang sabar dikasihi Tuhan”. Roma 12:12 juga berkata “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!”.
2.      Murah hati
Dalam Lukas 6 : 36 Yesus berkata : “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.”. Jelas bahwa Alllah sudah sangat bermurah hati kepada kita, sehingga kita wajib meneladani kemurahan Allah itu untuk kita implementasikan terhadap sesama. Murah hati artinya melakukan kebaikan tanpa merasa terpaksa, bukan karena rasa takut dan bukan demi gengsi dan kehormatan.
3.      Tidak cemburu (iri dengki)
Cemburu disini tidaklah sama dengan rasa cemburu yang dialami oleh pasangan suami istri maupun muda-mudi. Tetapi lebih diarahkan kepada kecemburuan social (Iri dan dengki). Amsal 14:30 berkata : “Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang”. Iri hati selalu membawa dampak negative bagi subjeknya dan sebenarnya tidak berpengaruh apa-apa bagi objeknya.  
4.      Tidak memegahkan diri dan tidak sombong
Kesombongan adalah sifat yang sering timbul ketika kita sudah ada dalam kemapanan. Bukan hanya sombong duniawi, anak-anak Tuhan juga bisa terjerumus ke dalam kesombongan rohani.
5.      Tidak melakukan yang tidak sopan
Kesopanan juga menjadi bagian dari karakter kasih. Cara bertutur sapa dengan sesama juga menggambarkan apakah kita memiliki kasih atau tidak. Bicara kasar dan menyakitkan hati tentu saja jauh dari karakter kasih, tetapi kesopanan dan keramahtamahan yang tulus akan menunjukkan kasih yang ada dalam hati kita.
6.      Tidak mencari keuntungan diri sendiri
Melakukan segala cara untuk mencari keuntungan sendiri seringkali kita lihat dalam kehidupan kita sehari-hari. Tidak peduli apakah ada orang yang menderita dan menjadi korban sebagai akibat dari usaha kita mencari keuntungan itu. Konglomerasi yang terjadi di Negara kita juga mempraktekkan hal yang sama.
7.      Tidak pemarah
“Pemarah” tidak sama dengan “marah”. Kita bisa saja marah terhadap ketidak adilan dan ketidak benaran, tetapi jangan jadi Pemarah. Amsal 15:18 berkata “Si pemarah membangkitkan pertengkaran, tetapi orang yang sabar memadamkan perbantahan”. Bahkan untuk istri pemarah dikatakan dalam Amsal 21:19 “Lebih baik tinggal di padang gurun dari pada tinggal dengan perempuan yang suka bertengkar dan pemarah”.
8.      Tidak menyimpan kesalahan orang lain
Hati kita adalah bait Allah, jadi tidak seharusnya di hati kita ada dendam, sakit hati, kepahitan dan menyimpan kesalahan orang lain. Dengan kata lain kasih itu penuh pengampunan.
9.      Tidak bersukacita karena ketidak adilan
Ada istilah SMOS ( Senang melihat orang susah dan Susah melihat orang senang). Istilah sangat cocok untuk menggambarkan bagaimana sifat yang bisa bergembira diatas penderitaan orang lain. Ketidak adilan adalah musuh kita bersama, walaupun itu tidak terjadi terhadap diri kita, kita harus ikut memperjuangkannya.
10.  Kasih menutupi segala sesuatu, percaya segala segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.
Kasih itu mampu menutupi segala sesuatu (kekurangan dan kelemahan orang lain), kasih itu saling percaya dan memiliki pengharapan, dan akhirnya kembali seperti diatas Kasih itu membutuhkan kesabaran dan ketekunan.

-          Ay. 8-13,  Kasih diatas segalanya
Bagian ini menjelaskan betapa Kasih itu melebihi segalanya. Bahkan kasih itu digambarkan sebagai sesuatu yang kekal (tak berkesudahan) dan  sempurna, sehingga kesimpulannnya Ay. 13 berkata : “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih”.
Mengapa kasih disebut sebagai yang paling besar? Iman dan pengharapan lebih cenderung kepada hubungan pribadi kita dengan Tuhan, sedangkan Kasih menyangkut hubungan yang lebih universal antara Manusia dengan Manusia dan antara manusia dengan Tuhan.  Hal itu sejalan dengan ajaran Tuhan Yesus dalam Mat 22 : 36-40 :” "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”.

Penutup

Dalam nats ini kita melihat Paulus menggambarkan ”kasih,”. Gambaran Kasih yang di sampaikan Paulus itu adalah gambaran kasih. Allah yang sudah terklebih dahulu mengasihi kita. Kita sebagai anak-anak Allah harus mampu menerapkan kasih Allah itu dalam relasi kita dengan sesama.
Kasih adalah inti utama ajaran Kristen, sudah seharusnya kasih itu mewarnai setiap kehidupan kita. Jika kita mampu mengaplikasikan kasih itu sesuai dengan karakteristik kasih yang disebutkan diatas, maka niscaya kehidupan kita akan selalu diliputi oleh damai sejahtera, dalam keluarga, lingkungan tempat tinggal, lingkungan pekerjaan, gereja dan bahkan kasih itu akan mewarnai kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara. Amin !

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

HTML