Selamat datang di blog sederhana ini, kiranya menjadi berkat bagi kita semua

Selasa, 05 Juli 2011

Renungan : 71 Tahun HKBP MANJUNJUNG BARINGINNA

HKBP MANJUNJUNG BARINGINNA (1940-2011)

Pendahuluan
Ditengah semaraknya euphoria perayaan Jubileum 150 tahun HKBP tahun 2011 ini (yang notabene adalah Jubileum ke- Kristen-an di Tanah Batak), justru HKBP kelihatannya mengabaikan satu momen penting dalam perjalanan Huria Kristen Batak Protestan yaitu Peringatan 71 HKBP Manjunjung Baringinna.
HKBP manjunjung baringinna tahun 1940, ditandai dengan Sinode Godang pertama yang memilih Pdt. Kasianus Sirait menjadi Voozitter (Ephorus) orang Batak pertama memimpin HKBP. Sebelumya selalu dijabat pendeta dari Jerman. Maka sejak itulah HKBP dinyatakan manjunjung baringinna (mandiri),
Momen Kemandirian  HKBP tersebut selain sebagai transformasi kepemimpinan HKBP dari Pendeta Expatriat kepada Pendeta Pribumi, juga merupakan awal transformasi cultural kristen batak yang sebelumnya di  warnai oleh budaya barat menjadi budaya batak yang “dikristenkan”., atau kekristenan yang “di-batak-hon”.
Latar belakang
Kedatangan para misionaris ke Tanah Batak harus diakui telah menjadi “cahaya” bagi orang Batak untuk bisa keluar dari kegelapan. Pada awalnya, ada beberapa badan penginjilan yang mencoba masuk ke Tanah Batak, al :
  • Ada Baptist Mission Society of England yang mengirim Burton dan Ward pada tahun 1824, (misinya gagal dan mereka meninggalkan tanah batak) 
  • American Board of Commissioner for Foreign Mission (ABCFM) yang mengirim Lyman dan Munson pada tahun 1834, (Keduanya terbunuh dan “dimakan” di Lobupining, Tapanuli Utara). 
  • Nederlands Zendelinggenootschap (NZG) yang mengirim Gützlaff pada tahun 1826 (meskipun akhirnya Gützlaff gagal bertolak ke Sumatra karena berkobarnya perang Bonjol), 
  • Rheinische Missionsgesellschaft (RMG) dari Barmen, Jerman. Badan misi yang disebut terakhir ini adalah yang kemudian berhasil “mengkristenkan” orang Batak. Pekerjaan penginjilan di daerah Tapanuli oleh RMG diawali sejak 07 Oktober 1861. Pada tanggal 07 Oktober 1861 empat orang pendeta, yakni: Pdt. Heine, Pdt. Klammer, Pdt. Betz dan Pdt. Van Asselt melakukan rapat untuk memulai pekerjaan penginjilan di Tapanuli. Mereka membagi wilayah pekerjaannya, di mana Pdt. Klammer ke wilayah Sipirok, Pdt. Betz ke Bungabondar, Pdt. Heine dan Pdt. Van Asselt ke wilayah Pahae/Sarulla. Pada akhirnya tanggal tersebut ditetapkan menjadi hari berdirinya Huria Kristen Batak Protestan. Pekerjaan RMG di tanah Batak semakin dimantapkan dengan kehadiran Pdt. I.L. Nommensen. Sesuai dengan keputusan rapat para pendeta di Sipirok pada 07 Oktober 1862, Nommensen bekerja untuk daerah Parausorat, dengan alasan bahwa di wilayah tersebut, Islam telah mulai mengembangkan pengaruhnya. Namun pada tanggal 07 November 1863 Nommensen berangkat dari Parausorat menuju Silindung, di mana daerah tersebut pada akhirnya menjadi pusat pekerjaan RMG di Samosir. Keberhasilan misi yang dilakukan oleh Nommensen di daerah Silindung mulai terlihat ketika pada tanggal 27 Agustus 1865 sebanyak 4 orang dewasa dan 5 anak-anak dibaptis. Hal tersebut berlanjut hingga awal tahun 1866, di mana sebanyak 50 jiwa kembali dibaptis. Oleh karena semakin banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan, pada tahun itu juga (16 Februari 1866) calon istri Nommensen dan Pdt. Johansen tiba di Sibolga untuk membantu pekerjaan yang dilakukan Nommensen di Silindung. Pdt. DR. IL Nomensen ditetapkan menjadi Ephorus HKBP yang pertama (1881-1918).
Selanjutnya, untuk waktu yang cukup lama, kepemimpinan tertinggi di tubuh HKBP, yaitu Ephorus, dipegang oleh pendeta yang diutus oleh RMG. Para pendeta pribumi yang ada saat itu hanya memegang jabatan-jabatan pembantu. Barulah pada Sinode Agung Istimewa pada tanggal 10-11 Juli 1940, untuk pertama kalinya putra Batak, yakni Pdt. K. Sirait, terpilih menjadi Voozitter (Ephorus) HKBP. Pergumulan yang dialami oleh gereja terbesar di Indonesia ini bukanlah sebuah pergumulan yang mudah. Perjuangan HKBP untuk mandiri mengalami berbagai macam tantangan.

Pardonganon Mission Batak (PMB)
Setelah kurang lebih 48 tahun sejak Injil diberitakan di tanah Batak, antusias orang-orang Batak yang telah menjadi Kristen sangat besar untuk ikut serta menyebarkan Injil ke daerah yang belum mengenal kekristenan. Kerinduan bersama untuk menyebarkan Injil itulah yang mendorong terbentuknya Pardonganon Mission Batak. Atas dasar kerinduan itu, pada tanggal 02 November 1899 oleh prakarsa Pdt. Henock Lumbantobing berdiri Zending Batak yang disebut Pardonganon Mission Batak “PMB” yang mana atas inisiatif Pdt. Henock Lumbantobing dan Pdt. Metzler, Pearaja dijadikan sebagai pusat Zending tersebut. Kata “Mission Batak” yang digunakan sebagai nama badan zending tersebut mengandung arti yang dalam bagi setiap orang Kristen pribumi, yang merasakan tanggungjawab atau kewajiban mutlak untuk mengeluarkan sesuatu dari miliknya kepadanya usaha zending pribumi tanpa menaruh rasa curiga kepada usaha zending luar negeri (Kongsi Barmen di tanah Batak sejak tahun 1861). Setelah pendirian badan zending tersebut, terdapat berbagai sikap yang antusias dan mendukung dari berbagai pihak, di antaranya:
  1. Sambutan dari Badan Zending “Kongsi Barmen” yang dengan gembira menyambut berdirinya badan zending tersebut. Menanggapi hal tersebut, Kongsi Barmen menganjurkan agar pada tahun pertama dan tahun kedua, Kongsi PMB agar mengumpulkan modal dan pada tahun ketiga melancarkan gerakan zending atas biaya sendiri. Kongsi Barmen juga setuju dengan program kerja yang dirumuskan Kongsi PMB, di antaranya : Untuk turut melancarkan usaha Zending di Pulau Samosir, Uluan, Pakpak/Dairi dan Simalungun, Membantu Kongsi Barmen untuk memberikan pelayanan yang cukup kepada jemaat-jemaat yang jauh terpencil dari tempat pendeta Eropa, Membantu usaha sosial di antara masyarakat Kristen dan bukan Kristen, antara lain merawat orang-orang cacat.
  2. Sambutan dari Konfrensi para pendeta pribumi dan pendeta Eropa, yang mana membuat suatu ceramah yang berjudul: “Apakah Yang Pokok Kita Gumuli Dalam Membina Guru Zending dan Pendeta Batak”? Dengan melihat peran serta pendidikan teologi dalam mendukung kesuksesan badan zending tersebut, konfrensi mengeluarkan suatu keputusan agar memindahkan seminari Pansurnapitu ke tempat yang lebih luas dan strategis, yang mana pilihan akhirnya jatuh ke daerah Sipoholon. 
  3. Sambutan para Raja dan Penatua Gereja di Silindung. Dalam satu pertemuan para raja dan penatua di Pearaja pada tanggal 10-11 Agustus 1900, gerakan zending PMB diperkenalkan kepada hadirin.
  4. Sambutan umat Kristen di Balige. Umat Kristen Balige yang dari dekat menyaksikan konfrensi para pendeta Eropa dan pendeta Pribumi bergerak lebih jauh dalam mensukseskan usaha zending HKBP “PMB”. Pada tanggal 10 Oktober 1900 seluruh anggota jemaat HKBP Balige berkumpul untuk menghadiri Rapat Zending yang pertama kali berlangsung di Balige. Rapat berhasil memilih anggota jemaat untuk dilantik menjadi Evangelist di daerah Zending, yakni St. Petrus dari Parparean, St. Musa dan St. Laban Siahaan dari Lumban atas. 
  5. Sambutan umat Kristen di Angkola (Tapanuli Selatan). Daerah Angkola sebagai daerah jemaat HKBP pada bagian Selatan merasa kurang puas jika hanya mendengar kabar berdirinya zending HKBP. Jemaat mengundang pengurus zending HKBP agar datang berkunjung ke Angkola untuk memberi penjelasan selanjutnya tentang badan zending tersebut. Atas permintaan itu, Pdt. Henock Lumbantobing berkunjung ke daerah Angkola. Beliau mendapat sambutan yang baik, di mana jemaat turut mendoakan zending HKBP, menyumbangkan dana bahkan ada yang mendaftarkan diri menjadi anggota tetap dari badan zending tersebut.
Setelah Ephorus Pdt. I.L. Nommensen meninggal pada 23 Mei 1918, kepemimpinan gereja diserahkan kepada Pdt. Valentin Kessel sebagai pejabat ephorus hingga tahun 1920. Setelah Pdt. Johanes Warneck menjabat sebagai Ephorus terlihat suatu semangat untuk menghidupkan kembali semangat zending. Pdt. Johanes Warneck berusaha supaya kekuatan zending pribumi diarahkan bukan melayani suatu daerah zending (daerah bukan Kristen) sebagaimana keadaan semula, tetapi melayani gereja secara keseluruhan; yang berarti bertanggungjawab untuk menyediakan kebutuhan gereja dalam segala bidang.
Pada tanggal 16 Februari 1921, Pdt. Johanes Warneck berhasil membentuk suatu komisi (Pdt. Johanes Warneck, Pdt. Metzler, Pdt. Karl Lotz dan 5 dari Kristen Batak). Pada hari itu mereka meresmikan pergantian nama baru yaitu dengan nama Zending Batak, dengan makna/tujuan baru. Zending Batak adalah lembaga gerejani yang melibatkan diri dalam segala urusan gereja muda di Tanah Batak, antara lain: meningkatkan hidup gerejani, menutup kebutuhan belanja para pendeta pribumi, Guru Jemaat dan para Evangelist, yang bekerja di tengah-tengah masyarakat bukan Kristen di perantauan. Dengan bentuk baru ini maka nampak bahwa pimpinan dari Zending Batak langsung di tangan Ephorus.
Sesuai dengan fungsi baru dari Zending Batak yang harus melibatkan diri dalam segala bentuk kegiatan gerejani, maka Zending Batak pada tahun 1923 mendirikan perkampungan khusus kepada orang-orang buta yang diberi nama “Hepata”. Kegiatan di lapangan sosial ini memberi arti yang tidak ternilai serta pemahaman kepada warga jemaat bahwa orang buta dan lumpuh adalah manusia ciptaan Tuhan yang butuh akan perbuatan kasih Tuhan.
Sebuah karya misi yang terlaksana dalam tubuh gereja Batak yang terlihat dalam PMB adalah sebuah bentuk misi yang transformatif. Misi pemberitaan akan Injil melalui para missionaris mendapat respon dari orang-orang Batak, mereka percaya dan dibaptis. Terang yang diberikan Injil menjadikan orang-orang Batak Kristen memiliki rasa ingin ikut serta dalam usaha pekabaran Injil tersebut. Inilah yang terjadi dalam Lembaga Pardonganon Mission Batak (PMB). Rencana jangka panjang yaitu mendirikan suatu gereja yang berdiri sendiri (manjunjung baringinna) tidak lepas dari saat permulaan Zending HKBP “PMB”.

Gerakan menuju kemandirian
Slogan yang muncul untuk mengungkapkan dampak terobosan kultur modern atas kehidupan orang Batak adalah “Hamajuon” (kemajuan). Slogan ini juga muncul bersamaan dengan slogan yang lain, yaitu “Manaekma bangso Batak” yang berarti majulah bangsa Batak. Kedua slogan ini bahkan menjelma menjadi gerakan yang hendak menghimpun potensi masyarakat Batak untuk mengejar kemajuan di bidang pendidikan, kesejahteraan, sosial-ekonomis, bahkan juga politik. Berbekal hamajuon mereka ingin setaraf dengan masyarakat Barat, dan sejajar dengan itu ingin melepaskan diri dari dominasi pihak Barat, baik secara sosial-politik-ekonomi maupun secara rohani.
Munculnya gerakan hamajuon itu membangkitkan kesadaran orang Batak Kristen untuk melepaskan diri dari segala dominasi orang Barat di segala bidang. Keinginan orang Batak Kristen untuk mandiri di lapangan penginjilan, pengelolaan jemaat dan sekolah semakin meningkat dan mulai mencari bentuk yang berbeda serta belajar dari Lembaga PMB sebelumnya. Keinginan dan aspirasi untuk maju dan mandiri itu melembaga dalam wadah Hatopan Kristen Batak – Perhimpunan Kristen Batak (HKB), yang merupakan cikal bakal Huria Kristen Indonesia (HKI).
Kalangan perantauan Batak ternyata lebih keras untuk melepaskan diri dari RMG. Pada tahun 1927, Hoeria Chisten Batak (HChB) berdiri sebagai gereja yang merdeka di Pematang Siantar. Hal yang sama berlangsung juga di Medan pada tahun 1928 dengan berdirinya Hoeria Christen Batak Medan Parjolo (HChB Medan I). Di Jakarta, hal yang sama terjadi juga dengan adanya Punguan Kristen Batak (PKB).

Gerakan kemandirian dalam tahun 1930 – 1940
Pada tahun 1930-an PMB kembali mencoba mengambil inisiatif agar HKBP menjadi mandiri, namun di tengah situasi dan keadaan yang lain. Keadaan ini memungkinkan suatu perubahan dalam hubungan HKBP dengan RMG, baik secara hukum maupun secara organisasi.
Segera setelah perubahan dalam tingkatan gereja, muncul persoalan lain yang berkaitan dengan hubungan antara pendeta Batak dan guru-guru pribumi yang bekerja di jemaat yang sama. Pendeta menjadi pimpinan jemaat, sedangkan orang-orang ingin agar guru jemaatlah yang menjadi pimpinan jemaat dan pendeta menjadi pimpinan di ressort. Masalah itu tidak diperhatikan oleh para pendeta Batak ketika memperjuangkan pembatasan hak dan kewajiban mereka dengan lebih tegas. Kenyataan ini menunjukkan bahwa perjuangan para pendeta Batak bersifat sepihak, tanpa mengingat kerangka menyeluruh gerakan kemandirian itu. Mereka hanya ingin memperoleh hak istimewa di dalam tingkatan yang telah ditentukan oleh RMG.
Orang-orang Eropa memegang posisi tinggi di dalam gereja dengan alasan bahwa mereka telah menikmati pendidikan teologi yang lebih tinggi. Namun alasan ini sepertinya hanya dibuat-buat. Ketika orang-orang Batak pertama lulusan dari Sekolah Theologia Tinggi (HThS) di Batavia datang, maka utusan RMG menyamakan posisi mereka (pendeta Batak lulusan HThS) dengan dirinya sendiri, tanpa adanya perbandingan pelajaran teologi antara seminari Zending di Barmen dan pelajaran HThS di Batavia.Ini berarti bahwa para utusan RMG telah berikhtiar unuk menunda kemandirian HKBP secara hukum dan organisasi sampai masa depan yang masih jauh.
Adalah Perang Dunia ke II yang memaksa para utusan RMG untuk melepaskan jabatannya dalam HKBP. Tatkala perang meletus, pemerintah Belanda mengganggap semua orang Jerman, termasuk zendeling RMG, adalah musuh mereka. Pada tanggal 10 Mei 1940, semua zendeling RMG dideportasi, kecuali tiga orang warga negara Belanda.
Akibatnya adalah orang-orang Batak harus siap menduduki jabatan-jabatan tinggi di gereja. Tetapi  zendeling H. F Kleine (salah seorang zendeling berkewarganegaraan Belanda yang tertinggal) diangkat menjadi pejabat Ephorus oleh para zendeling yang tersisa itu. Bahkan Batak Nias Zending juga didirikan untuk menggantikan RMG di tanah Batak. Namun akhirnya diputuskan untuk melaksanakan Sinode Godang HKBP yang istimewa pada tanggal 10-11 Juli 1940. Pada Sinode Godang itu Pdt. K. Sirait terpilih menjadi Ephorus pribumi pertama setelah mengalahkan Kleine dalam suatu pemilihan suara para peserta sinode. Dengan demikian pertama kali seorang pribumi menduduki jabatan tertinggi di dalam HKBP. Selain itu perlu ditekankan bahwa pemilihan itu sudah dipengaruhi adanya simpati nasional para anggota sinode, sekaligus menjadi tanda unsur Batak yang berniat memisahkan HKBP dari kepemimpinan orang Eropa, untuk seterusnya.

Penutup
Banyak sekali usaha yang telah dilakukan oleh orang Batak untuk mencapai gereja yang mandiri. Bahkan usaha ini sebenarnya sudah dimulai ketika Nommensen sendiri masih hidup. Namun, semua usaha yang dilakukan oleh orang Batak untuk mencapai gereja yang mandiri sepertinya kurang berhasil. Para utusan RMG tetap memegang jabatan-jabatan pentinng dalam HKBP, meskipun sudah semakin banyak pendeta Batak yang ada. Justru Perang Dunia ke II yang memegang peranan penting, yang dapat memaksa para utusan RMG untuk melepaskan jabatannya dalam HKBP.
Kalau pada mulanya orang Batak didatangi oleh orang-orang dari Eropa dan Amerika, maka selanjutnya, dengan semangat untuk menyebarkan Injil kepada orang-orang yang belum mengenal Yesus supaya mereka bisa diselamatkan juga seperti orang Batak, maka semangat kemandirian yang pertama kali justru datang dari semangat penginjilan. Sejak tahun 1899 itu, Zending Batak terus hidup dan menyebarkan Injil kepada jiwa-jiwa baru.
Usaha kemandirian bermula dari semangat di bidang sosial dan politik yang sudah dimulai oleh HKB. Kritik mereka pada saat itu yang menunjukkan semangat nasionalisme mereka, semangat nasionalisme kedaerahan mereka, yang menunjukkan perlawanan terhadap kekuasaan yang semena-mena. Bidang sosial dan politik adalah bidang yang tidak bisa dihilangkan dari gereja. Terlebih lagi di dalam situasi sekarang ini, di saat banyaknya penyalahgunaan kekuasaan, maka gereja perlu lebih menentukan sikapnya, agar gereja bisa menunjukkan “kemandiriannya”.

Perenungan
Sejarah ini menunjukkan bahwa momen kemandiran HKBP tahun 1940, adalah momen yang sangat penting dalam perjalanan HKBP, seharusnya juga diperlakukan sama dengan peringatan 7 Oktober 1861. Karena secara historis, Sinode Godang 1—11 Juli 1940, telah menunjukkan pengakuan akan kemampuan leadership “orang batak”   untuk memimpin sebuah gereja besar seperti HKBP. Namun yang saya lihat, Peringatan 71 Tahun HKBP Manjunjung Baringinna seperti tidak ada gaungnya. Hanya segelintir jemaat HKBP yang mengetahui bahwa Minggu 10 Juli 2011 adakah 71 tahun sejak HKBP manjunjung baringinna (saya sendiri tahu karena tercantum di Almanak HKBP).
Peringatan 71 tahun HKBP Manjunjung baringinna, seharusnya dijadikan momen perenungan dan evaluasi para Pimpinan HKBP : 
  • Apakah yang telah dilakukan oleh Pendeta Batak HKBP selama 71 tahun ini?
  • Apakah yang telah dilakukan oleh Pendeta Batak HKBP  “lebih baik” dari yang sudah dilakukan oleh para Pendeta Barat sebelumya? Atau mungkin sebaliknya.
Akhirnya saya hanya ingin menyampaikan : Selamat Hari Kemandirian HKBP ke-71 ! (1941-2011).

Sumber kutipan :
  • Pardonganon Mission Batak “PMB” (Sebuah Model Semangat Penginjilan di Tanah Batak) oleh Leonardo Sinambela
  • www.binsarspeaks.net

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

HTML