Selamat datang di blog sederhana ini, kiranya menjadi berkat bagi kita semua

Jumat, 08 Juli 2011

PROBLEMA : ANAK SUKA MENCURI


Mencuri adalah suatu perbuatan yang disengaja untuk mengambil milik orang lain untuk dimiliki, dipakai atau dijual sendiri. Perbuatan mencuri pada orang Dewasa tentu saja sudah termasuk kategori kriminal dan jelas hukumnya. Namun persoalannya adalah ketika kita menemukan anak kita yang masih berumur balita atau mungkin sudah remaja ternyata suka mencuri. Memang, mencuri pada seorang anak, dilakukan dengan berbagai alasan. Berbeda dengan yang dilakukan oleh orang dewasa. Hal ini sebenarnya bukan perilaku kriminal yang sesungguhnya, apalagi jika dilakukan pada anak yang usianya masih kecil.
Kita sebagai orang tua mungkin terkejut dan bingung sewaktu pertama kali mengetahui anak kita mencuri. Kadang kita berpikir hal tersebut merupakan hal yang wajar dalam perkembangan anak. Anggapan ini tentu saja tidak benar. Meskipun banyak anak mencuri tak berarti itu merupakan bagian dari perkembangan anak. Jadi, sekecil apa pun pencurian yang dilakukan anak, orang tua harus melarang dan menghentikannya.
Menurut seorang ahli, ternyata anak-anak itu dalam alam bawah sadarnya seolah-olah mempunyai anggapan bahwa mencuri itu perbuatan yang bisa diterima. Dan anggapan ini sendiri bisa berasal dari teman-teman mereka, orang tua atau masyarakat sekelilingnya.

Untuk itulah perlu satu cara pendekatan yang manis dan akrab untuk mengubah sifat anak yang suka mencuri itu, sebab bila orang tua tidak menanganinya dengan benar, tingkah laku yang awalnya tidak berbahaya itu dapat mengarah menjadi perbuatan yang berakibat lebih jauh.
Mencuri pada dasarnya selalu menyangkut pihak lain dalam arti tidak menguntungkan. Jelas di sini bahwa ada pihak ketiga yang tidak ada sangkut pautnya dengan persoalan anak, yang justru menderita akibat perbuatan anak tersebut. Bahkan dapat dikatakan bahwa pihak ketiga ini menjadi korban dari persoalan yang disebabkan oleh pihak-pihak lain yang sama sekali tidak ada hubungannya. Karena pencurian merupakan perbuatan yang sering ingin ditutupi oleh orang tua agar tidak merusak nama baik keluarga, maka persoalan yang telah menjadi pangkal sebab perbuatan tersebut juga telah ditutup saja, sehingga akan menambah jumlah korban yang tidak tahu-menahu mengenai adanya persoalan tersebut.
Karena anak-anak yang mencuri sering kali menimbulkan masalah dalam keluarga, maka dalam situasi seperti ini orang tua mudah dimanipulasi oleh anak. Kalau anak sampai mengadu domba antara orang tua yang satu dengan orang tua yang lain, dengan sendirinya hal ini dapat membahayakan hubungan antara anggota keluarga dan juga mempersulit penyelesaian masalah itu.
Namun meskipun demikian, dalam mempersoalkan perbuatan ini dalam hubungan anak-anak, kita harus bersikap hati-hati dengan ucapan kita sendiri. Kita sebaiknya menghindari penggunaan kata”men-curi” dan “pencuri” terhadap anak kecil. Anak kecil umumnya belum menyadari bahwa memperoleh sesuatu dengan cara mengambilnya dari orang lain, berarti bahwa orang lain itu kehilangan benda atau barang yang telah diambilnya. Anak kecil belum mengerti bahwa dengan mengambil benda yang dinginkan tanpa izin si pemilik, ia melanggar hak milik teman tersebut dan akan merugikan si teman itu.
Memang, kemungkinan bahwa gejala mencuri hinggap karena pengaruh-pengaruh yang kurang baik sebagai akibat pergaulan yang tak terbatas. Namun sebenarnya persoalan terletak pada cara memberi pendidikan pada anak itu sendiri. Si anak tidak akan mudah terpengaruh demikian saja oleh teman-temannya, bila dia diberi modal jiwa yang kuat dan pengertian yang baik.

Ada beberapa analisa yang saya buat sebagai sumber penyebab kebiasaan buruk ini :
  1. Adanya keinginan untuk memiliki. Keinginan ini dapat timbul karena anak sering kurang mampu menguasai diri. Ini biasa terjadi bila anak terlalu dilindungi. Anak akan lebih sering lagi mencuri bila orang tua tidak menyelidiki mengapa barang atau uang dalam rumah sering hilang. Dengan demikian anak semakin terjerumus ke dalam kebiasaan yang buruk.
  2. Tidak adanya pendidikan moral dalam keluarga akan mudah menjadikan anak-anak mempunyai kebiasaan mencuri.
  3. Sekadar menarik perhatian. Ada anak yang mencuri karena ingin menarik perhatian orang tua atau gurunya. Apabila tidak dapat memperoleh perhatian dengan cara yang benar, ia melakukannya dengan cara mencuri.
  4. Keinginan untuk diterima. Anak memiliki perasaan rendah diri, tetapi sangat berharap untuk dapat diterima, tetapi kurang ada sesuatu yang dapat ditonjolkan baik secara fisik maupun akademis. Oleh karena itu, supaya dapat diterima sebagai teman, ia lalu mencuri uang dan dengan uang curian, ia dapat "membeli" teman. 
  5. Bentuk dari pemberontakan Anak merasa tidak puas setelah ditegur dan dihukum oleh orang tua atau guru, lalu mencuri untuk melawan. Ada juga anak yang karena merasa ayah dan ibunya lebih mencintai saudara yang lain, ia mencuri untuk melawan.
  6. Masalah psikologis yang akhirnya muncul, yaitu terjadinya sibling rivalry (persaingan antarsaudara), social acceptance (penerimaan sosial), dan konsep diri, anak yang mengalami adanya persaingan antar saudara, akan merasakan ketegangan dalam hubungan di antara kakak dan adik. Hubungan mereka adalah persaingan. Anak yang lebih muda usianya merasa tidak berdaya. Apalagi, jika orang tua atau lingkungan lebih mengapresiasi anak yang lebih tua.
Guna mencegah dan mengatasi masalah mencuri pada anak-anak, beberapa petunjuk di bawah ini barangkali bisa dijadikan pedoman :
  1. Jangan memancing atau memberi kesempatan si anak untuk mencuri, misalnya meletakkan uang di atas meja, dll.
  2. Tunjukkanlah kepada anak, bahwa kita mencintainya, juga pada waktu ia mencuri. Jelaskanlah bahwa perbuatan mencuri tentu saja membuat perasaan kehilangan pada orang lain. la pun tentu akan mengalami perasaan yang sama bila ada orang lain mencuri miliknya.
  3. Tanamkan sistem dii rumah kita. Jika seorang anak ketahuan mencuri, maka sanksinya harus jelas dan pastikan agar ia mengembalikan barang curiannya kepada korban secara langsung.
  4. Tunjukkan kepada anak bahwa ia diperlukan dan dihargai, Anak yang merasa dihargai tidak akan mencuri.
  5. Jika anak ingin membeli sesuatu, percayailah, berilah dia uang dan biarkan ia membelinya sendiri. Bila permintaannya di luar batas kemampuan keuangan kita, berilah dia penjelasan yang bisa dia terima.
  6. Mereka harus paham, mencuri adalah kriminal dan dapat mengarah pada konsekuensi lebih jauh dari sekedar tak boleh keluar rumah. Ada hukuman lebih berat, penampungan anak nakal, bahkan penjara.
  7. Perasaan malu menghadapi apa yang telah ia perbuat dengan mengembalikan barang curian bisa menjadi pelajaran menetap yang berharga, mengapa mencuri itu salah. Hukuman lebih lanjut, seperti hukuman fisik, tak perlu dilakukan. Itu hanya akan membuat anak marah dan cenderung melakukan hal-hal lebih buruk.
  8. Bila anak anda telah mencuri lebih dari sekali, pertimbangkanlah untuk mencari bantuan profesional. Tindakan buruk berulang bisa jadi mengindikasikan masalah lebih besar.
  9. Dalam setiap keluarga, persaingan antarsaudara hampir tidak mungkin dihindari, tetapi orang tua sebaiknya menjadi bijaksana untuk tidak terlalu mempertajam perbedaan yang ada.
10.  Di atas segalanya yang paling penting ketika mengetahui anak melakukan tindakan mencuri adalah, bersikap tanggap sekaligus tenang. Dengan sikap orang tua yang terkendali, tidak akan menjerumuskan anak untuk tenggelam dalam rasa bersalah.









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

HTML