Selamat datang di blog sederhana ini, kiranya menjadi berkat bagi kita semua

Rabu, 13 Juli 2011

BABTISAN


            Pelbagai macam cara aturan cerdik diciptakan untuk mepengaruhi orang-orang percaya dengan mempermasalakan atau dengan sengaja membuat masalah, sehingga banyak orang terperdaya atau terpengaruh dengan bujukan yang menyesatkan. Baptisan dalam Alkitab tidak begitu rumit dan tidak perlu di pertentangkan, namun saat ini ada sekte tertentu (red. gerakan Kharismatik) yang mempertentangkan dengan tujuan untuk mengelabui orang-orang yang tidak mengerti apa itu Baptisan yang telah dia terima. Yang sering mempertentangkan Baptisan adalah kelompok Anabaptis dan sekte Kharismatik. Mereka berusaha membuat berbagai cara untuk mengatakan, bahwa ajaran mereka yang paling benar dari semua ajaran. Secara khusus menyangkut “Baptisan Kudus” yang banyak dipermasalahkan. Dampaknya banyak angkatan muda yang begitu gampang terpengaruh, jatuh dalam rayuan si penyesat, bukan orang muda saja, diperkirakan ada orang tua yang terpengaruh tetapi tidak terus terang. Orang-orang yang telah jatuh rayuan si penyesat, biasanya tidak bersedia meninggalkan gereja asalnya (tetap terdaftar di gereja misal HKBP, GKI, GPIB dll namun tidak lagi beribadah di sana). Hal ini mendatangkan dua pertanyaan, pertama: apakah dia mau mencari korban lain? Akan banyak korban lain, apabila kita tidak mengetahui secara benar Baptisan yang telah kita terima ketika kita masih kecil, ini dipersoalkan untuk mempengaruhi dan ini dapat membawa akibat yang buruk bagi iman seseorang. Kedua apakah dia karena malu kepada temannya, sebenarnya di tidak perlu malu kepada temannya yang lain. Ya jika Ya, tidak jikalau tidak, dia harus berani meninggalkan gereja asalnya jika sudah dibaptis ulang, yang menurut imannya itu yang benar, tidak mendua hati (red ½ HKBP, ½ Kharismatik) ,sudah sepantasnya dia malu pada Tuhan yang telah dipermainkannya.
            Biasanya begitu gampang mereka menghukum dengan cap “Baptisan anak-anak yang kita terima” tidak syah, tidak benar, tidak sempurna, tidak alkitabiah dll, harus diulang. Untuk itulah orang – orang percaya “waspada kepada si penyesat” yang dengan rayuan dan tipuannya selalu berseru – seru “Baptisan gereja tertentu tidak syah, tidak ada Roh Kudusnya”. Perlu diberi penjelasan arti Baptisan secara theologis, dengan harapan angkatan muda dan kita semua tidak terpengaruh oleh ajaran – ajaran tertentu, yang hanya mengombang – ambingkan iman kepercayaan kita.

Pengertian Baptisan!
            Istilah “baptisan” ada dua, yakni pertama “bapto, I dip, dipped in blood, I dye” yang diartikan “celup dan membenamkan” biasanya dipergunakan dalam konteks pengertian literal (Luk 16: 24; Yoh 13: 26; Why 19: 13 Holy Bible ABS – 1964 & A pocket Lexixon to the Greek New Testamen, 1972) dan kedua “baptizo” yang diartikan memandikan, membersihkan, dipakai dalam pengertian peribadatan (Mrk 7: 4). Di sisi lain Baptisan merupakan kultus pembersihan yang menghadirkan suatu yang baru melalui suatu perubahan. Proses ini biasanya melalui pemasukan kaki ke dalam air (Yos 3: 15) dan mencellupkan jari tangan ke dalam darah Perjanjian dan memercikkan sedikit dari darah itu (Im 4: 6, 17), artinya membenamkan ketidak kudusan sehingga terjadi penyucian. Bagi orang Yunani ini dikenal dalam Baptisan “Proselyt”, merupakan ritus penyucian bagi orang-orang yang berasal dari kafir, yang hendak memasuki persekutuan Yahudi. Sama seperti seorang anak kecil yang baru dilahirkan, yang kemudian terjadi banyak perubahan hidupnya dari hidup keberdosaan (kematian) kepada hidup yang baru.

Baptisan Yohanes!
            Baptisan Yohanes, memperkenalkan suatu kesadaran akan Kuasa Mesias, yang mirip dengan baptisan proselyte dan itu dilakukan sekali untuk selamanya. Sedikit perbedaan antara kedua baptisan ini, yakni yang berhubungan dengan “eschatology”. Baptisan Proselyt menekankan terjadi dalam ruang lingkup mereka sendiri, sebaliknya lebih jelas dan urgen bagi Yohanes, yakni untuk mempersiapkan semua orang terhadap kedatangan TUHAN yang begitu dekat. Itulah yang membuat Yohanes pergi untuk mempersiapkan jalan, yang berhubungan dengan nubuat para nabi (Yes 1: 16; 4: 4, Yer 2: 22). Ini menunjuk kepada Kerajaan Allah yang akan datang dan dinyatakan dalam diri Yesus Kristus.
            Baptisan yang dilakukan Yohanes merupakan prakarsa terhadap pengumpulan “community Mesiani”, memanggil mereka untuk menyerahkan diri dibaptis dengan air, yang mendatangkan pertobatan, mencakup pembersihan moral dan sangat menentukan kepada pengampunan dosa. Kala itu baptisan Yohanes merupakan persiapan terhadap pelayanan dari “Seorang” yang akan datang dan sekali gus membawa penghakiman, Yohanes membaptis dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasutNya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api (Mat 3: 11).
            Yohanes melihat ini dan meyakini penghakiman yang dibawaNya merupakan “Pembabatan”, kapak itu sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api (Mat 3: 10; Luk 3: 9 17).

Relevansi baptisan Yohanes kepada Yesus!
            Mengapa Yesus datang kepada Yohanes, jika Dia tidak membutuhkan baptisan pertobatan? Yang pasti Yesus datang kala itu ke Yohanes, bukan menunjuk kepada pertobatan atau penyucian. Namun itu suatu penunjukkan akan suatu pemisahan diriNya untuk pelayanan Mesias yang telah diperdengarkan pada saat Dia menerima baptisan itu. Roh Allah turun atas Dia, terbukanya pintu surga yang mendahului pencurahan Roh yang dinampakkan melalui api dan cahaya sebagai gambaran penerimaan Tuhan. Halnya dengan seekor burung merpati sebagai pemurnian, kita melihat dari segi tradisi, bahwa peristiwa itu dalam tradisi Yahudi diyakini sebagai “kemurnian” yang mengungkapkan adanya suatu “pemilihan atau pengangkatan Yesus sebagai Raja”.
            Dua hal yang perlu dipahami dalam peristiwa tersebut, yaitu:
  • Pertama Baptisan itu memasukkan Yesus ke dalam maut dan kematian, 
  • kedua Baptisan itu merupakan penobatan atau pengurapanNya dalam dunia, untuk memulai tugas-tugasNya, misi pelayananNya di dalalm dunia ini sebagai Raja.
            Sekilas menjadi pertanyaan, supaya kita tidak saling menuduh baptisan orang lain salah, baptisan kami yang benar yaitu: ”apakah kita mau menerima baptisan seperti yang diterima Yesus?” Kalau jawaban kita mau, kita harus ramai – ramai ke sugai Yordan, hanya untuk menerima baptisan? Tentu itu repot. Atau apakah kita mau menjadi pesaing utama baptisan Yesus. Kitalah yang paling kerdil dan picik, jika kita menganggap hanya Baptisan di sugai Yordan dan di sungai lainnya yang syah dan kudus. Kita membatasi kuasa Tuhan akan baptisan.

Penetapan Baptisan!
            Penetapan diawali dari Amanat Agung / Perintah Yesus sendiri kepada murid – muridNya untuk pergi ke seluruh dunia. Dalam The Greek New Testament disebut “Mateteusate, baptizontes, teach, baptizing, ajari semua orang, baptis” di dalam nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Lalu bagaimana itu dilakukan? Pertama sekali, sebenarnya Pelayanan Baptisan hanya dibatasi pada jemaat – jemaat di Palestina. Tapi setelah kebangkitan Yesus berlalu, pelayanan Baptisan memperolah bidang cakup yang lebih luas, sesuai dengan tugas/perintah yang diberikan kepada para muridNya (Mat 28: 18 – 20). Perlu kita ingat bahwa Yesus sendiri tidak pernah melakukan pelayanan Baptisan melainkan murid-muridNya (Yoh 4: 2). Namun Ia menugaskan kepada murid-muridNya agar melakukan pelayanan Baptisan untuk membawa orang-orang yang percaya ke dalam persekutuan dengan Tuhan, dan orang yang dibaptis menjadi anak Allah berdasar pada karya penebusan AnakNya dan sekaligus pemberian Roh Kudus.

Kiasan Baptisan!
            Kita harus sepakat mengerti, bahwa Keselamatan yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia diberikan melalui baptisan, itu kita lihat dari beberapa kiasan yang dipakai, yaitu:
  •  Pertama : Paulus mengatakan bahwa Baptisan itu sebagai “partisipasi” dalam kematian dan kebangkitan Yesus (Rom 6: 3 – 4; Kol 2: 12) dan yang menerima baptisan memperoleh keselamatan. Bapak Reformasi Marthin Luther katakana bahwa “hidup orang Kristen adalah baptisan, tiap saat manusia lama yang ada dalam diri kita, harus disalibkan dan dikuburkan dengan Yesus”. Ini dilakukan dengan menjalankan perbuatan kita sehari-hari sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan, manusia harus dibangkitkan bersama Yesus.
  •  Kedua : Baptisan sebagai “pemberian Roh Kudus” yang membuat kita masuk dalam persekutuan dengan Yesus. Dengan Roh Kudus, keselamatan yang terkandung dalam kematian dan kebangkitan Kristus dapat kita terima dan hayati dalam hidup kita, karena di tanpa Roh Kudus, pelayanan baptisan menjadi ritual gereja yang tidak berarti. Roh yang sama menyatakan Yesus adalah Anak Allah (Mrk 1: 10 – 11), itulah yang memberikan kuasa dan mempersatukan para murid pada hari Pentakosta dan itulah yang mempersatukan kita dalam baptisan hingga kini.
  • Ketiga: Sebagai tanda “sunat” di dalam Kristus Yesus, karena sunat yang dilakukan manusia dalam Perjanjian Lama, tidak dapat menyelamatkan. Sunat dalam Kristus terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa (Kol 2: 11 – 12) yaitu penghapusan dosa dalam penumpahan darah dalam Yesus melalui sengsara dan kematianNya, dikuburkan dan dibangkitkan. Dalam Kristus, orang beriman telah menerima sunat hati dan itu terjadi dalam baptisan.
  • Keempat: Baptisan itu adalah tanda “Perjanjian Allah” dan oleh karena kurban Kristus, Allah berkenan mengampuni dosa orang yang dibaptis dan memberikan hidup yang kekal.
  •  Kelima: Baptisan sebagai “materai” keselamatan dari Allah sekali dan untuk selamanya (Rom 6: 3 – 4; Kol 2: 12 – 13), dimateraikan oleh Roh Kudus (Ef 1: 13) dan memberikan kepastian .

Bagaimana Baptisan dilaksanakan
            Kita tidak menerima perintah dari Yesus untuk melakukan baptisan dengan cara, tempat dan waktu tertantu. Tidak ada satu ayatpun dalam Alkitab yang membicirakan baptisan harus dilaksanakan di sugai, dicelupkan (red, ada yang melaksanakan di bak mandi), dipercikan dan dituangkan. Tidak ada satu ayatpun dalam Perjanjian Baru yang menunjukkan pada batas-batas umur untuk dibaptis, harus dewasa, harus bayi, tetapi yang ada hanya kepada kira-kira 3000 orang Yahudi yang dibaptiskan pada peristiwa Pentakosta (Kisah 2). Baptisan yang dilaksanakan haruslah apa yang diperintah Yesus: “Baptislah mereka di dalam nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus” dan baptisan yang dilaksanakan muridNya. Baptisan di Aion dekat Salim, itu yang diputuskan manusia Yohanes dengan alasan karena di situ banyak air (Yoh 3: 23). Bukan air Aion yang menyelamatkan, bukan air itu yang mempunyai kekuatan, melainkan Firman Tuhan yang ada di dalam air itu, tanpa Firman Tuhan di dalam air itu, air itu hanyalah air biasa saja dan bukan baptisan. Firman Tuhan itu yang memerintahkan untuk dibaptis. Tidak ada alasan untuk mengatakan baptisan yang di Aion dekat Salim itu yang melepaskan orang dari hukuman dosa kematian, melainkan “Perintah Yesus dan Firman Tuhan itulah yang membebaskan”
            Dalam perkembangan gereja masa kini, ada beberapa cara teknis yang dilakukan dalam membaptis. Ada gereja yang sangat berkeras (red. terutama aliran Kharismatik dan Pentakosta) menentukan baptisan sesuai dengan tradisi Yohanes, dan bahkan menclaim baptisan selam yang mereka lakukanlah yang benar (red. jangan lupa itu juga merupakan keputusan manusia yang bernama Yohanes sebagai perintis kedatangan Mesias Yesus), karena Yesus tidak pernah menentukan baptisan dilakukan diselamkan di sugai, dicelupkan, dipercik, dituangkan, tapi Dia katakan “baptislah”. Namun itu tidak perlu dipersoalkan, sejauh pelayanan baptisan itu dilayani dengan air di dalam nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Simbolis air diperhatikan dengan sungguh-sungguh dan tidak diremehkan. Penggunaan air itu menyatakan “penyucian ciptaan”, mereka yang dibaptis ke dalam tubuh Kristus diberi bagian pada hidup yang diperbaharui. Ada 3 cara baptisan yang dilakukan oleh gereja-gereja masa kini, yaitu:
  • Pertama : Menyiramkan, baptisan ini dilakukan dengan menyiramkan air ke kepala yang menerima baptisan dengan satu keyakinan, bahwa air itu bukanlah air biasa, melainkan air yang berisikan Firman dan Titah Allah yang telah dikuduskan. Bukan karena air itu si penerima baptisan mendapat Keselamatan dari keampunan dosa, melainkan Firman Tuhan itu, maka baptisan itu menyelamatkan.
  • Kedua : Memercikkan, baptisan ini dilakukan dengan memercikkan berulang kali ke atas kepala yang menerima baptisan. Baptisan seperti ini biasanya dilakukan dalam gereja Katolik dan gereja Ortodok
  • Ketiga : Menyelamkan, biasanya orang yang dibaptis diselamkan di dalam kolam air, di sugai dan sejenisnya secara langsung, ini mengikuti baptisan tradisi Yahudi yang dilakukan Yohanes dan Petrus di sugai dan umumnya dilakukan oleh Pentakosta dan Kharismatik.
            Bukan disiram, dipercikkan dan diselam yang menjamin kebenaran pelaksanaan baptisan, yang menjamin hanya dilaksanakan dalam Perintah Yesus, yaitu baptis mereka dalam Nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Sekali lagi untuk dipahami “diselamkan di sugai adalah yang dibuat manusia Yohanes Pembaptis dalam tradisi kehidupan Palestina”.
Kita tidak dapat memaksakan pendapat, bahwa baptis yang diselam itu yang benar, apabila itu terjadi, kita sama dengan apa yang dikatakan Yesus: “ Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat perintah manusia” (Markus 7: 8), karena baptis selam di sugai adalah tradisi kehidupan Palestina, apakah kita mau menjadi orang yang hidup menurut tradisi Palestina atau mengikut Perintah Yesus?
            Sebagai pengikut Kristus, jangan berani mengatakan bahwa dengan baptis selam tradisi Yohaneslah yang benar. Hal ini dengan beberapa alasan, yaitu:
  • Pertama : Baptisan yang benar hanya sesuai dengan Perintah Yesus, tidak boleh ditawar-tawar lagi, yaitu baptisan dalam Nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Diluar itu adalah sesat, hanya karena kemauan dan keputusan manusia.
  • Kedua perlu kita pahami, andaikan Yohanes Pembaptis hidup dalam tradisi bangsa Batak,di Tapanuli mungkin Yohanes membaptis bukan di Aion dekat Salim karena banyak airnya, mungkin saja Yohanes membaptis di aek Sarulla, aek Sibundong, aek Sigeaon, atau mungkin saja Yohanes membawa baptisan itu di Danau Toba supaya lebih luas dan lebih bersih. Jadi bukan diselamkan menjadi jaminan Baptisan itu benar. Baptisan itu pun benar, jika dilakukan di dalam Perintah Yesus
  • Ketiga : Seseorang yang hidup di gurun pasir, yang tidak ada sugai untuk menyelamkan yang mau dibaptis, tidak ada air, apakah yang perlu kita pakai untuk membaptisnya agar menerima keselamatan melalui baptisan. Apakah dia harus kita gotong ke Aion dekat Salim, mencari sugai untuk diselamkan. Atau maukah Yesus memaafkan saya, apabila saya baptis dia dengan air ludah, bukan air ludah itu yang menyelamatkan dia, melainkan Firman Tuhan yang saya percaya begitu tajam. Dalam Ibrani 4: 12 dikatakan: “ Sebab Firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun, Ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum. Bnd. Yesus memberikan kesembuhan dengan kuasaNya dengan air ludahNya (Yoh 9: 6)
            Itu juga yang dilakukan para Misioner ke tanah Batak, ketika mereka mengkhotbahkan Yesaya 1: 18 “Sekali pun dosamu…seperti salju”. Nenek moyang kami bangsa Batak tidak mengenal salju, jangankan kenal, melihatpun belum. Tetapi para Misioner menggantikan salju menjadi “bontar songon itak” (tepung dari beras yang dijadikan lapet, kue ombus-ombus, putu Silindung dan sejenisnya). Itaklah yang dikenal nenek moyangku bukan salju. Itulah yang saya yakini bahwa bukan harus diselam, dicelupkan yang benar dan syah baptisan. Kita harus mampu menyabarkan bahkan merubah diselamkan menjadi dipercikan atau disiram, yang paling penting kembali kepada Perintah Yesus: “Baptislah mereka di dalam Nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus”.

Baptisan anak-anak (bayi)
            Syahkah baptisan bayi? Hal ini masih banyak yang mempertentangkannya, karena bayi belum mengerti dan belum percaya. Oleh karena itu, harus tegas dikatakan: “Tidak ada alasan mengatakan bayi belum percaya tidak dapat menerima keselamatan melalui baptisan”. Orang yang tidak percayapun diselamatkan Yesus oleh karena iman orang lain. Di Kapernaun, anak pegawai istana, diselamatkan Yesus, bukan iman anaknya yang menyelamatkan, melainkan iman orang tuanya (Yoh 4: 46 – 53). Iman kepala rumah ibadah Yairus yang percaya, bukan putrinya dan putrinya diselamatkan dari kematian (Luk 8: 40 …), orang lumpuh yang diusung oleh sahabat-sahabatnya, membongkar atap tempat Yesus mengajar dan menurunkan tepat di hadapan Yesus, Yesus memuji iman mereka, bukan iman orang yang lumpuh yang menyelamatkan dia, tetapi dia disembuhkan (Luk 5: 17 …), seorang perwira berkata kepada Yesus: “katakanlah sepata kata, maka hambaku itu akan sembuh”, bukan iman hamba perwira yang menyelamatkannya, melainkan iman perwira tersebut dan hambanya diselamatkan (Luk 7: 1…) dan bahkan seorang janda yang menangis karena anak tunggalnya mati, tidak dikatakan bahwa janda itu beriman, tetapi Yesus tergerak oleh belas kasih dan menghidupkan anak muda di Nain, sekali lagi bukan iman anak muda itu (Luk 7: 11…) dll.
            Jangan mempersoalkan bayi belum mengerti dan belum percaya, tetapi persoalkan apakah baptisan yang saya lakukan dan terima sesuai dengan perintah Yesus? Semua yang diselamatkan Yesus dari kisah di atas, tidak ada satupun dari antara mereka yang percaya, melainkan kepercayaan orangtuanya, temannya, atasannya, tetapi mereka diselamatkan Yesus. Terlampau kerdil kita, kalau masih mempertentangkan bayi belum percaya, sehingga tidak layak menerima Keselamatan dari Yesus melalui baptisan. Bayi yang belum percaya, melainkan ia diselamatkan oleh iman orangtuanya dalam baptisan Kudus, bukan iman bayi itu, namun sekali lagi iman orangtuanya.
            Tidak heran, apabila banyak orang yang belum mengerti arti baptisan itu, terombang-ambing imannya dan bahkan mau menerima kembali baptisan ulang. Aliran Kharismatik dan sejenisnya dengan getol menyuarakan lewat sebuah ajarannya mengatakan: “tidak akan ada keselamatan bagi orang-orang yang menerima baptisan semasa anak-anak”. Ajaran ini cukup menyesatkan orang-orang percaya, khususnya banyak warga Kristen yang mau mendengarkannya ajaran tipu daya tersebut. Artinya ajaran ini, mau menyatakan bahwa bapak-bapak gereja terdahulu, yang menyebarkan Firman Tuhan (dan mungkin tanpa mereka Injil tidak pernah sampai kepada yang mereka yang mengatakan baptisan anak-abak tidah syah), seperti: Polycarpus mati martir (167/8 AD), Pdt Samuel Munson dan Pdt Henry Lyman (1834) yang mati dibunuh di Lobu Pining Tapanuli Utara, Pdt. DR I L Nommensen yang kadang disebut Rasul suku Batak dll, semuanya menerima baptisan semasa bayi, juga tidak menerima keselamatan.
            Baptisan anak-anak/bayi sejauh dilakukan berdasarkan Perintah Yesus, itu baptisan yang benar dan syah. Dengan kata lain, tidak ada dasar untuk tidak membaptis anak-anak dalam keluarga dan tidak ada suatu kuasa apaun yang dapat melarang anak-anak untuk berpatisipasi dalam menerima keselamatan yang Allah berikan kepada manusia dalam Yesus Kristus melalui baptisan. Kisah Rasul menuliskan: “Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu… (2: 38 – 39). Anak-anak dan bayi juga termasuk dalam Perjanjian Allah yaitu melalui baptisan, yang diutamakan dalam baptisan itu adalah “Perjanjian Allah”. Berkat Perjanjian Allah diperluas hingga kepada keturunan orang beriman. Yang pasti anak-anak pun turut serta dalam peringatan-peringatan bersama dengan orang tua mereka.

Baptisan bayi di Huria Kristen Batak Protestan. (HKBP)
            HKBP dengan konfessinya mengatakan: “Kita percaya dan menyaksikan Pembatisan Kudus jalan pemberian anugerah kepada manusia, sebab dengan pembaptisan disampaikan kepada yang percaya keampunan dosa, kebaruan hidup, kelepasan dari maut dan iblis, serta sejahtera yang kekal”. “Dengan baptisan ini kita menyaksikan: Anak kecil pun harus dibaptiskan karena dengan baptisan itu, mereka juga masuk ke dalam persekutuan yang menerima anugerah pengorbanan Kristus, berhubungan dengan pemberkatan anak-anak oleh Tuhan Yesus”
            HKBP membaptiskan bayi berdasarkan Perintah Tuhan Jesus “Pergilah, jadikanlah semua bangsa muridku, dan baptislah mereka dalam Nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus…” (Matius 28: 18 – 2). Firman Tuhan Yesus dalam Injil Markus: “ Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus supaya Ia menjamah mereka, akan tetapi mudi-muridNya memarahi orang-orang itu. Ketika Yesus melihat itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: “Biarkan anak-anak itu dating kepadaKu, jangan manghalang-halangi mereka, sebab orang-orang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barang siapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya. Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan meletakkan tanganNya atas mereka Ia memberkati mareka”.
            Dalam Pelayanan baptisan anak-anak di HKBP ada beberapa janji yang diikrarkan orangtuanya berjanji di hadapan Tuhan yang mengetahui segala segala sesuatu dan di hadapan jemaat yang percaya akan Perintah Yesus, janji itu adalah:
  • Pertama : Bahwa mereka menghendaki agar anak-anak mereka dibaptis ke dalam Nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus (red Batak “tu na hinaporseaanmuna = kepada yang mereka percayai).
  • Kedua : Bersedia membimbing anak-anak agar mereka mengetahui dan melakukan Firman Allah
  • Ketiga : Bersedia menyuruh anak-anak ke gereja dan membersarkannya dalam pengajaran Kristen Protestan agar mereka menjadi anggota jemaat yang hidup dalam Yesus Kristus.
            Ketiga janji itulah yang menghantarkan mereka membawa anak-anak (bayi) untuk menerima baptisan Kudus kepada apa yang mereka Percayai. Sesungguhnya bukan air itu yang mempunyai kekuatan melainkan Firman Tuhan yang ada di dalam dan menguatkan air itu, serta iman yang mempercayai bahwa Firman Tuhan berada di dalam air itu. Karena tanpa Firman Tuhan di dalamnya, maka air itu hanyalah air biasa saja dan bukan baptisan. Inilah air yang penuh berkat kehidupan dan menyucikan kalahiran kembali di dalam Roh Kudus seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus kepada Titus: “Tetapi karena rahmatNya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, yang sudah dilimpahkanNya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita, supaya kita sebagai orang yang dibenarkan oleh kasihNya, berhak menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita” (3: 5 …) Itu yang biasa dilakukan Protestan khususnya Huria Kristen Batak Protestan (red. HKBP, baptisan itu yang penulis lakukan).
            Vonis yang dilemparkan gerekan Kharismatik dan kelompoknya untuk menarik (kadang-kadang disebut mencuri) anggota-anggota jemaat lainnya dengan semboyan “baptis bayi tidak syah karena belum percaya”. Vonis ini mempengaruhi orang percaya yang imannya kerdil dan tidak mengetahui apa dan bagaimana makna dari baptisan. Sebenarnya tidak patut lagi mempersoalkan baptisan “anak-anak” atau “baptisan dewasa”, yang perlu dipersoalkan bagaimana Berita Keselamatan sampai ke ujung bumi, bukan baptisan kita benar, baptisan orang lain salah. Kita kembali meninjau ke sejarah baptisan yang terjadi setelah Kebangkitan dan Kenaikan Yesus.
            Untuk melihat kebenarannya atas penilaian Kharismatik, ada baiknya kita kembali kepada dasar pertama, yaitu bahwa “baptisan” yang kita laksanakan adalah perintah Yesus dan bukan kemauan manusia. Persoalan baptisan “anak-anak dan baptisan dewasa”, tidak ada kita temui dalam Perjanjian Baru, yang kita temui adalah dua jenis baptisan, yaitu:
  • Pertama : Baptisan “persekutuan/keluarga”. Ini banyak kita temui, Krispus dibaptis bersama-sama seisi rumahnya (Kisah 18: 8; bnd 1 Kor 1: 14), Lydia dibaptis dengan seisi rumanya (Kisah 10: 48), kepala penjara dibaptis dengan seisi rumahnya (Kisah 16: 33) dan Stepanus dibaptis dengan seisi rumahnya (1 Kor 1: 16). Yang dimaksud dengan seisi rumah/keluarga, pastilah persekutuan hidup, dan anggotanya bukan saja terdiri dari suami, istri, anak-anak, tetapi mungkin juga termasuk hamba-hamba yang hidup dan bekerja dalam keluarga itu. Persekutuan itu dikenal dengan “Oikos” (dari sinilah asal kata Okumene) dan kepala keluarga mempunyai kuasa yang besar, pemegang pimpinan. Baptisan dalam oikos tentulah dilayani dalam dan berdasarkan iman, bukan iman individual, melainkan iman persekutuan. iman korporatif, jadi baptisan keluarga itu berdasarkan pengetahuan dan iman. Paulus mencatat dalam surat pertama ke jemaat Korintus (10: 1 – 4): “ Aku mau, supaya kamu mengetahui, saudara-saudara, bahwa nenek moyang kita semua berada di bawah perlindungan awan dan bahwa mereka semua telah melintasi laut. Untuk menjadi pengikut Musa mereka semua telah dibaptis dalam awan dan dalam laut. Mereka semua makan makanan rohani yang sama dan mereka semua minum minuman rohani yang sama, sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dbatu karang itu ialah Kristus”. Semua telah dibaptis, orangtua, dewasa, anak-anak, bayi. Bayi tidak ditinggalkan Musa menjadi korban Firaun dalam kekuatan bala tentaranya
  • Kedua : Baptisan Individu. Ini dilakukan kepada dua orang saja, yaitu kepala perbendaharaan Sri Kandake, ratu negeri Etiopia (Kisah 8: 26…) dan Paulus, keduaduanya adalah orang-orang yang tidak terlibat hidup dalam hubungan rumah tangga.

Baptis Ulang mempermainkan Perintah Yesus dan dosa
            Mengapa harus dibaptis ulang? Yang jelas, karena baptisan itu sekali untuk selamanya, maka baptisan tidak perlu diulang lagi. Dalam Perjanjian Baru (Kisah 19: 1 – 6) kita temui baptisan ulang hanya sekali dilakukan, itu pun disebabkan beberapa alasan yang tertentu, yaitu:
  • Pertama: Baptisan Yohanes pada saat itu mengajak orang kepada pertobatan dan memperbaharui diri, sedangkan baptisan yang kita terima adalah materai pengesahan Allah, bahwa kita telah turut mati dan dibangkitkan bersama Yesus dan berhak menjadi pewaris kerjaan Allah.
  • Kedua : Karena mereka dibaptisan dalalm baptisan Yohanes, mereka harus percaya kepada Yesus (red. yang memerintahkan “baptis dalam Nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus) dan mereka menerima baptis ulang dalam Nama Tuhan Yesus.
  • Ketiga : Baptisan itu kurang sempurna dan tidak menyelamatkan bangsa Yahudi, itulah maka mereka harus dibaptis ulang
            Karena baptisan itu kudus adanya dan merupakan perintah Yesus, maka tidak perlu diulang-ulang hanya untuk memenuhi kemauan hati manusia belaka. Oleh karena itu: “Celakalah orang-orang yang mempermainkan Perintah Yesus”.
            Oleh karena Baptisan merupakan sakramen yang diperintahkan Yesus, itulah sebabnya, jika kita mengulang baptisan yang kita terima, kita telah mempermainkan Perintah Yesus dan berdosa. Biasanya orang-orang yang mau dibaptis ulang karena doktrin dari Kharismatik dan sejenisnya adalah orang-orang yang paling celaka, karena tanpa disadari, dia telah mempermainkan Perintah Yesus, mereka mau dibaptis ulang dengan diselamkan seperti yang dilakukan Yohanes demi kemauan dan kepuasan manusia. Baptis ulang saat ini hanyalah permainan dari yang menamakan dirinya pengkhotbah dan pembaptis, tetapi kadang kadang dia seperti musang berbuluh domba untuk mencari mangsanya.
            Karena ini, tidak patut lagi mempertentangkan atau mempersoalkan syah tidaknya baptisan anak-anak maupun baptisan dewasa, walau pun banyak orang yang sudah terlanjur. Jangan memvonis bahwa baptisan anak-anak tidak benar dan baptisan dewasa yang benar, baptisan percik dan dituangkan tidak benar, melainkan baptisan selam. Semua baptisan Kudus benar apabila dilakukan sesuai dengan perintah Yesus sendiri “baptislah mereka di dalam Nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Baptisan itu sekali untuk selamanya.
            Yang terpenting harus dipahami, bahwa “baptisan” yang dilaksanakan dengan percik, dituangkan, diselamkan harus dipercayai bahwa Firman Tuhan itu yang menyelamatkan dan sekali untuk selamanya. Firman Tuhan tidak pernah mengajarkan baptisan harus diulang-ulang, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan (Ef 4: 5). Lalu bagaimana kita menghadapi musuh yang ternyata paling berbahaya selama ini, dengan mengatakan “tidak syah baptisan gereja lain”? Jawaban yang pasti: “W a s p a d a l a h  S i p e n y e s a t”

Sumber : Pdt. Johannes Siregar, STh (www.lammagodang.wordpress.com)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

HTML