Selamat datang di blog sederhana ini, kiranya menjadi berkat bagi kita semua

Senin, 16 Mei 2011

Khotbah Minggu 15 Mei 2011

DUKACITA MENJADI SUKACITA
Yoh. 16 : 16-20
16:16 "Tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku lagi dan tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku."
16:17 Mendengar itu beberapa dari murid-Nya berkata seorang kepada yang lain: "Apakah artinya Ia berkata kepada kita: Tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku dan tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku? Dan: Aku pergi kepada Bapa?"
16:18 Maka kata mereka: "Apakah artinya Ia berkata: Tinggal sesaat saja? Kita tidak tahu apa maksud-Nya."
16:19 Yesus tahu, bahwa mereka hendak menanyakan sesuatu kepada-Nya, lalu Ia berkata kepada mereka: "Adakah kamu membicarakan seorang dengan yang lain apa yang Kukatakan tadi, yaitu: Tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku dan tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku?
16:20 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita

Pengantar

Nats ini merupakan sebagian dari kata-kata perpisahan Tuhan Yesus kepada murid-muridNya beberapa waktu sebelum Dia ditangkap.. Kata-kata yang disampaikan Yesus merupakan monolog dari  seseorang yang hendak pergi meninggalkan orang-orang dekat yang dikasihi karena masa tugas yang telah selesai. Yesus tahu bahwa waktunya tidak lama lagi bersama-sama dengan murid-muridNya. Sebagai Tuhan, guru dan sahabat yang baik Yesus sangat mengasihi murid-muridNya dan ingin memberitahukan bahwa IA akan meninggalkan mereka. KepergianNya adalah untuk kepentingan dunia ini bukan kepentinganNya pribadi. KepergianNya akan membawa dampak yang sangat tidak menyenangkan bagi murid-muridNya. Murid-muridNya akan menangis, meratap dan berdukacita, tetapi semua itu akan berubah menjadi  sukacita bagi dunia. Itu sebabnya Alkitab memberi judul perikop untuk nats ini “Dukacita yang mendahului kemenangan”.

Penjelasan

Ay. 16-18, Perkataan Tuhan Yesus “Tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku lagi dan tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku."  Membawa murid-muridNya kepada dua macam pemikiran, yaitu :
-       Pemikiran yang kacau, mereka berpikir apakah yang akan terjadi jika Yesus memang hanya sesaat lagi bersama-sama dengan mereka?
-       Pemikiraan yang dipenuhi rasa kekuatiran, mereka dipenuhi rasa ketakutan akan konsekuensi yanga kan mereka hadapi jika Yesus meninggalkan mereka, karena selama ini Yesus adalah icon yang mereka banggakan, mereka kuatir tidak akan mampu berbuat apa-apa jika Yesus harus pergi dari tengah-tengah mereka.
Pemikiran-pemikiran itulah yang mendorong murid-murid Yesus untuk mengajukan pertanyaan, meraka ingin kejelasan tentang apa maksud dan tujuan perkataan Yesus tersebut, di tengah ketidakpastian dan kekuatiran itu, mereka mengharapkan penjelsana lebih jauh dari Yesus tentang hal tersebut  ada yang berpikir, apakah Yesus akan mati? Yang lain berpikir apakah Yesus akan pergi ke tempat lain dan meninggalkan mereka? Lalu jika demikian siapa yang akan melanjutkan pekerjaan yang telah dilakukanNya? Dan bagaimana mereka akan menghadapi tekanan yang terjadi sebagai akibat dari perkataan-perkataan Yeusus selama ini?. Banyak hal berkecamuk di dalam pikiran mereka, tetapi mereka tidak berani bertanya langsung kepada Yesus, sehingga mereka bertanya kepada sesame mereka sendiri : "Apakah artinya Ia berkata: Tinggal sesaat saja? Kita tidak tahu apa maksud-Nya.".

Ay. 19-20, Yesus tahu apa yang berkecamuk di dalam hati murid-muridNya, Dia tahu bahwa mereka tidak bisa menerima begitu saja perkataan Yesus, dan sebelum mereka bertanya Yesus sudah menjawab : “Adakah kamu membicarakan seorang dengan yang lain apa yang Kukatakan tadi, yaitu: Tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku dan tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku? Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita”.

Renungan

Sesungguhnya Yesus menunjuk kepada kesengsaraan yang akan dialamiNya, yang untuk sementara akan membuat murid-muridNya sedih, menangis dan berduka melihat penderitaan Yesus, tetapi Yesus memberi pengharapan bahwa “dukacitamu akan berubah menjadi sukacita” .
Lalu, mengapa murid-murid Yesus tidak mengerti perkataan itu? Padahal selama mengikuti Yesus, mereka yang sudah mendengar khotbah berkali-kali tentang tema “Anak Manusia akan dimatikan dan bangkit pada hari ke-3”, apakah mereka tidak pernah masukkan ke dalam hati mereka.
Pesan pertama dari nats ini adalah bahwa hal itu sama dengan kita hari ini. entah sudah berapa kali kita mendengar Firman Tuhan? Dari Sekolah Minggu sampai sekarang, mungkin ribuan kali khotbah yang kita pernah dengar, tetapi berapakah banyak kalimat firman yang benar-benar kita ingat sampai hari ini? Lalu di antara beberapa kalimat tersebut, berapa banyak yang kita lakukan? Mungkin kedengaran sangat ironis ? Namun inilah fakta. Yesus sudah berulang-ulang kali memberitahukan saat kematian dan kebangkitanNya, namun para murid tetap tidak mengerti hal itu.

Pesan kedua yang ingin disampaikan kepada kita hari-hari ini ialah bahwa Tuhan telah mengatur seluruh perjalanan hidup kita sedemikian rupa dengan baik. Apabila kita mengalami penderitaan oleh karena Kristus, itu hanya untuk menguatkan kita dan akan membawa kita kepada pengharapan akan keselamatan. Itu sebabnya Paulus berkata dalam Rom. 5:3b-4 “….Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan”.
Dalam hidup ini tentu saja kita akan mengalami pengalaman yang silih berganti antara duka dan suka, sakit dan sehat, tertawa dan menangis, siang dan malam, dll. Dua hal yang saling kontradiksi yang selalu terjadi dalam kehidupan. Tetapi sebagaimana Yesus menderita, mati dan dan dikuburkan, Dia juga bangkit dan naik kesurga. Kematian dan Kebangkitan adalah dua hal yang kontradiktif, dimana kematian itu membawa dukacita, tetapi kebangkitan menjadi sukacita besar bagi seluruh umat manusia.

Pesan ketiga adalah kita diajak untuk merefleksikan apa yang terjadi dalam hidup kita. Kita pasti sering merasakan dukacita melalui permasalahan yang kita alami dalam hidup ini, apakah itu permasalahan keluarga, pekerjaan, lingkungan/komunitas, dsb. Namun Yesus ingin mengatakan kepada kita bahwa  semua itu bisa saja terjadi, itulah salib yang harus kita pikul, tetapi Dia menjanjikan sukacita abadi apabila kita tetap bertekun dan setia dalam tugas dan pelayanan kita dimanapun.

Jika Tuhan sanggup merubah air menjadi anggur, yang sakit menjadi sembuh, yang mati menjadi hidup, yang buta menjadi melihat, dan lain sebagainya, itu berarti Tuhan juga sanggup merubah Dukacita kita menjadi Sukacita karena Dia. Amin !

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

HTML