Selamat datang di blog sederhana ini, kiranya menjadi berkat bagi kita semua

Rabu, 18 Mei 2011

HIDUP KRISTEN BAGAIKAN MUSAFIR


Mazmur 90:10 berkata “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.”. Hal itu mengingatkan kita bahwa perjalanan hidup di dunia ini hanyalah kesementaraan, bukan kekekalan. Jika umur manusia rata-rata katakanlah 75 tahun, kita potong 20 tahun masa  sekolah dan 15 tahun masa lansia (tidak produktif), sehingga usia produktif kita hanyalah 40 tahun. Kalau kita potong sepertiganya untuk istirahat dan tidur, tersisa hanya sekitar 25 tahun yang efektif produktif. Ternyata hidup ini sangatlah singkat.
Manusia yang hidup dalam kesementaraan ini seringkali melupakan bahwa hidup ini adalah sementara. Berbagai bencana dan musibah yang membawa kematian seharusnya mengingatkan kita, bahwa hidup ini hanya sementara di dunia ini. Maka buat apa kita hidup? Apakah hidup ini hanya untuk kesementaraan yang kemudian akan berlalu dengan sia-sia? Ataukah kita hidup untuk kekekalan dengan memanfaatkan kesementaraan ini dan bersiap dalam kesementaraan ini?

Hidup adalah perjalanan, kita ibaratkan bagai seorang musafir yang berjalan melewati padang gurun. Ada beberapa cermin kehidupan yang kita lihat dari seorang musafir :
1.    Musafir memiliki tujuanyang jelas, Hidup manusia yang  rata rata 70 - 80 tahun ini sering kali tidak mempunyai tujuan, atau mempunyai tujuan yang salah, sehingga arah hidupnya sering berputar putar dan akhirnya jatuh menuju maut. Hidup yang tidak memiliki tujuan seperti itu tentu saja tidak berguna. Sebagai orang Kristen apa tujuan hidup kita. Kita mesti sadar bahwa kita ini hanyalah musafir di gurun kehidupan, sama seperti tatkala Israel dituntun Tuhan melintasi Gurun Sinai yang gersang demi mencapai tujuan yaitu Tanah Perjanjian Kanaan. Kanaan yang kita tuju sebenarnya bukanlah kemakmuran dunia, kekayaan dan kesuksesan, tetapi kita menuju Kanaan yang baru, Kehidupan kekal yaitu Surga yang Abadi. Paulus berkata bahwa dia berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. Jadi perjalanan hidup Kristen yang benar adalah perjalanan yang memiliki fokus tujuan  yang pasti yaitu langit dan bumi yang baru. Paulus yang sudah mengerti tujuan hidupnya bahkan tidak lagi takut akan kematian sehingga dia berkata : “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. (Fil. 1 : 21-22)
2.    Musafir menentukan Arah jalan yang harus ditempuh. Seringkali dalam perjalanan hidup ini, kita sudah punya tujuan tetapi tidak tahu jalan mana yang harus kita pilih, padahal Kristus telah memberi arahan yang jelas “Akulah Jalan dan Kebenaran dan hidup”. Sebagai Orang Kristen yang mempunyai tujuan kepada kehidupan kekal, tentu saja kita harus mengerti jalan yang harus kita tempuh sebagaimana 1Petrus 1:21 berkata :”Oleh Dialah kamu percaya kepada Allah, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati dan yang telah memuliakan-Nya, sehingga imanmu dan pengharapanmu tertuju kepada Allah”.
3.    Musafir selalu persiapkan bekal. Seorang musafir akan mempersipkan bekal diri selama di perjalanan. Bekal apakah yang perlu kita persiapkan sebagai umat Tuhan? Apakah bekal harta dan kekayaan? Tentu saja tidak, Yesus berkata dalam Mat. 6:19-20 "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.”  Jadi jelas bekal yang harus kita siapkan adalah bekal sorgawi, yaitu perbuatan-perbuatan baik yang kita lakukan dalam kasih dan iman kepada Yesus Kristus.
4.    Perjalanan musafir penuh ancaman, tantangan dan gangguan.  Dalam perjalanan hidup ini, tentu saja kita menemui berbagai persoalan hidup; penderitaan, kekurangan, ancaman, tantangan dan gangguan. Semua itu tentunya melelahkan. Lalu bagaimana sikap kita menghadapinya, Rom 12:12 berkata “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!”. Sebab kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan ( Rom 5 :3-4). Hidup Kristen tidak akan lepas dari masalah, tetapi jika kita tetap bertekun dalam menjalaninya, maka Alkitab berkata bahwa orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.

Mari kita senandungkan dan renungkan lagu Hai Musafir, Mau ke Mana - KJ 269

Hai musafir, mau kemana kau arahkan langkahmu?
Kami ikut titah Raja dan berjalan tak lesu:
Lewat gunung dan dataran arah kami ke istana,
Arah kami ke istana kota Raja yang kudus.
Arah kami ke istana kota Raja yang kudus.

Apa kamu dapat tahan dalam badai yang seru?
Tangan Tuhan yang menuntun: hati kami pun teguh.
Apa pun yang dihadapi, Yesuslah membimbing kami,
Yesuslah membimbing kami, kekotaNya yang kudus.
Yesuslah membimbing kami kekotaNya yang kudus.

Di neg’ri yang kamu tuju apakah harapanmu?
Jubah putih dan mahkota pemberian Penebus,
Minum air kehidupan dan kekal bersama Tuhan,
Dan kekal bersama Tuhan di neg’riNya yang kudus.
Dan kekal bersama Tuhan di neg’riNya yang kudus.

Apa kami boleh ikut ke neg’ri tujuanmu?
Tentu saja, ayo mari, mari ikutlah terus!
Mari ikut sungguh-sungguh: oleh Yesus kau ditunggu,
Oleh Yesus kau ditunggu di kotaNya yang kudus.
Oleh Yesus kau ditunggu di kotaNya yang kudus.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

HTML