Selamat datang di blog sederhana ini, kiranya menjadi berkat bagi kita semua

Kamis, 14 Oktober 2010

TEOLOGI DI DALAM SOSIOLOGI

Teologi agama-agama (dalam bahasa Inggris Theology of Religions, dalam bahasa Latin Theologia Religionum) adalah cabang dari ilmu teologi yang membahas bagaimana kekristenan memberi respons teologis terhadap kenyataan adanya pluralitas agama di luar dirinya. Fokus studi teologi agama-agama adalah bagaimana umat Kristen memandang dan menilai agama-agama lain, serta bagaimana hubungan yang positif antar-agama dimungkinkan melalui teologi yang dikonstruksi. Salah satu pionir di dalam teologi agama-agama adalah teolog Inggris yang bernama Alan Race.
Teologi agama-agama merupakan bidang ilmu yang berbeda dengan studi agama-agama pada umumnya. Untuk menggambarkan perbedaan tersebut dengan lebih jelas, maka kita perlu membandingkan fokusnya masing-masing.

Teologi Agama-Agama dan Sosiologi Agama
Studi sosiologi agama-agama merupakan studi tentang hubungan-hubungan antara agama dan masyarakat serta bentuk-bentuk hubungan yang terjadi. Hal-hal yang menjadi perhatian dari studi ini adalah bagaimana kepercayaan-kepercayaan agama tertentu mempengaruhi suatu masyarakat, atau bagaimana kepercayaan agama tertentu mempengaruhi pola hubungan dengan umat beragama lain. Dalam bidang ini, yang menjadi obyek penelitian adalah aspek manusiawi (imanen), yang mana aspek Ilahi (transendensi) diwujudkan di dalam perilaku manusia sehari-hari. Akan tetapi, hal-hal yang transenden tidak terlalu diperhatikan atau dikesampingkan di dalam studi ini.
Teologi agama-agama juga mempelajari aspek manusiawi dan aspek Ilahi di dalam agama-agama. Akan tetapi, teologi agama-agama justru lebih tertarik untuk mempelajari aspek Ilahi yang mempengaruhi perilaku sehari-hari, dalam hal ini antara umat Kristen terhadap umat beragama yang lain.

Teologi Agama-Agama dan Filsafat Agama
Filsafat agama merupakan refleksi filosofis mengenai agama dengan menggunakan metode filsafat secara sistematis dalam menganalisis isi pokok suatu agama, seperti konsep Tuhan, Yang Suci, Keselamatan, Ibadah, Kurban, Doa, dan sebagainya. Filsafat agama berupaya mencari pembenaran rasional dari gerakan agama tertentu, serta memberi penilaian terhadapnya sehingga bersifat normatif. Teologi agama-agama juga memberikan penilaian seperti filsafat, tetapi di dalam terang iman Kristen yang berupaya menilai agama-agama yang lain, bukan berdasarkan rasionalitas seperti filsafat agama melainkan penyataan Allah.

Teologi Agama-Agama Fenomenologi Agama
Fenomenologi agama adalah bidang studi yang berupaya melihat kepelbagaian agama secara fenomenologis. Fenomenologis artinya bagaimana pemeluk agama-agama berbicara tentang apa yang mereka yakini dan percayai sejauh dapat diamati (fenomena). Di sini, penilaian oleh pengamat dihindari dan keunikan tiap agama berusaha dipertahankan. Gejala-gejala yang diperbandingkan hanya untuk memperdalam pengertian dari gejala-gejala religius yang dipelajari. Di dalam teologi agama-agama, penilaian terhadap agama lain dari perspektif kekristenan tidak dapat dihindarkan. Akan tetapi, semangat yang mendasarinya bukan semangat konfrontatif, melainkan justru bagaimana umat Kristen dan umat beragama lainnya dapat hidup bersama secara harmonis di dalam konteks kemajemukan agama.

Metode
Di dalam teologi agama-agama, seseorang harus mulai dengan pemahaman yang setia sekaligus kritis terhadap tradisi Kristen sendiri, lalu berupaya melihat agama yang lain di dalam terang iman Kristen. Pemahaman tersebut dapat tercapai melalui metode yang dapat dipertanggungjawabkan, seperti metode empiris, historis-kritis, filologis, fenomenologis, dan lain-lain. Metode-metode tersebut dipakai untuk melihat tradisi Kristen dengan lebih kritis maupun realitas kemajemukan agama, serta mendialogkan keduanya sehingga tercapai perspektif tertentu dalam memandang agama-agama lain.

Sumber : Prof. Santra Siahaan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

HTML