Selamat datang di blog sederhana ini, kiranya menjadi berkat bagi kita semua

Rabu, 13 Oktober 2010

KHOTBAH MINGGU 17 OKT 2010


TELADAN YANG PERSUASIF, BUKAN PASIF


FILIPI 3 : 17-21
3:17 Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu.
3:18 Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus.
3:19 Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi.
3:20 Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat,
3:21 yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya

Penjelasan Nats

Nats di atas adalah salah satu bagian dari surat yang ditulis oleh rasul Paulus di dalam suratnya kepada jemaat Filipi. Nats ini dituliskan di salah satu bagian akhir atau penutup surat. Biasanya, di akhir surat Paulus selalu menuliskan nasihat-nasihat penting kepada pembaca atau jemaatnya.
Apa yang bisa kita pelajari dari surat Paulus tersebut? ini adalah sebuah paragraf persuasif yang terdiri atas sebuah ajakan dengan dua buah alasan yang menyertai. Paulus mau mengajak jemaat melakukan sesuatu. Paulus telah memiliki sejumlah alasan detail yang ditulisnya dengan logis dan beralasan. Berikut kita lihat ajakan dan alasannya.
Ajakan Paulus adalah jemaat Filipi mengikuti teladannya. Dia menyadari keterbatasannya berada bersama dengan jemaat. Oleh karena itu, dia juga mengajak jemaatnya untuk memperhatikan sungguh-sungguh orang lain yang telah meneladani Paulus dan rekan-rekannya. Dengan cara memperhatikan hidup mereka, maka jemaat akan meniru hal-hal baik dari mereka. Di sini, Paulus memberikan cara bagaimana kamu meneladani aku? Perhatikanlah mereka yang telah meneladani aku sebagai contoh atau teladan bagi kamu. Hidup Paulus dalam melayani Tuhan menghasilkan sebuah transfer kehidupan pada orang lain. Dia memberikan pengaruh dan perubahan pada hidup orang lain. Pengaruhnya sendiri adalah baik oleh karena hidup orang lain menjadi berubah. Namun, akan menjadi lebih baik ketika pengaruhnya membuat seseorang meneladani jejak langkahnya.
Sebuah ajakan yang persuasif tidak akan efektif jika tanpa alasan kuat menyertai. Sehingga, Paulus memberikan dua alasan mengapa harus mengikuti teladannya dan rekan-rekannya.
-          Pertama, alasan perbandingan. Dengan penuh tangisan Paulus menulis: “Lihatlah hidup mereka sia-sia: memusuhi Kristus, fokusnya hanyalah keinginan badaniah, hal-hal memalukan yang mereka kerjakan, hidup mereka sama seperti orang-orang dunia, dan pada akhirnya akan dibinasakan.” Ini tulisan yang cenderung kasar dari seorang rasul Paulus. Namun, ini sekaligus tulisan penuh dramatis dan emosional untuk memberikan efek kuat kepada jemaat. Lihat hidup mereka sungguh tragis, oleh karena itu ikutilah hidup kami, maka kamu akan memperoleh hidup bukan kesia-siaan atau kebinasaan. Ini sebuah ajakan penuh keberanian, kepastian dan keyakinan dari seorang rasul Paulus.
-          Kedua, alasan kontras. Kita bukan warga dunia, bukan berasal dari dunia tetapi kita adalah warga sorga, berasal dari sorga. Paulus sengaja mengkontraskan “mereka” dan “kita”; “dunia” dan “sorga.” Kemudian, mereka yang kelihatannya hidup penuh kenikmatan dunia, suatu saat akan dibinasakan, sedangkan kita yang masih bertahan dengan tubuh fana dan menderita, akan menerima kemuliaan kelak melalui kuasa Yesus Kristus ketika Dia datang. Alasan kontras mendukung alasan perbandingan di atas dan sekaligus menguatkan ajakan Paulus.

Renungan

Masih adakah yang bisa dijadikan teladan dalam hidup ini? Jawabnya tentu masih ada! Dan tidak akan ada habisnya orang yang bisa diteladani di dunia ini. Banyak tokoh di dunia yang patut diteladani, misalnya Bunda Teresa, Mahatma Gandhi, Martin Luther King Jr., dan sebagainya.
Namun pertanyaan yang lebih penting dan paling relevan dalam situasi sekarang ini adalah: bagaimana agar bisa menjadi teladan bagi orang-orang di sekeliling kita? Topik inilah yang menjadi perenungan kita pada minggu ini. Selain meneladani hidup orang lain, tidak kalah penting untuk menjadi teladan hidup bagi orang lain.
Memang, bagi Paulus menjadi teladan bagi orang lain bukanlah perkara mudah. Terkadang kita dihantui oleh kejahatan-kejahatan yang dilakukan pada masa lalu. Mungkin muncul juga perasaan bahwa kita tidak layak atau kurang sempurna. Akan tetapi Paulus mengatasi hal ini dengan suatu cara: “Melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang dihadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Yesus Kristus” (Filipi 3:13-14).
Bagaimana kita dapat menjadi teladan bagi orang lain?
-          Pertama, kita terlebih dahulu mesti dibebaskan dari masa lalu yang suram. Dibebaskan dari rasa bersalah. Intinya, menjadi manusia yang baru sama sekali. Manusia yang telah mengalami pertobatan, manusia yang ditangkap oleh Yesus Kristus.
-          Kedua, setelah mengalami pertobatan, seseorang mesti siap untuk hidup dalam pertobatan itu. Inilah yang disebut dengan Paulus dengan ‘menghadapi apa yang dihadapanku’. Pertobatan bukanlah sebuah fase hidup yang dialami sekali saja dan dapat diganti dengan fase hidup yang lain. Oleh karena itu tidak tepat jika mengatakan ‘telah/sudah hidup baru’ seolah-olah itu hanya sesuatu yang ‘pernah’ dilakukan. Menghidupi pertobatan artinya menghayati peran sebagai ‘manusia baru’. Yang selalu ‘berlari-lari kepada tujuan’, berjuang agar selalu bertahan dalam kekudusan. Yang menghayati statusnya sebagai warga sorga. Dengan cara inilah Paulus pada akhirnya bisa dan layak menjadi teladan jemaat: bertobat dan hidup dalam pertobatan itu, meninggalkan masa lalu dan menghadapi yang dihadapannya.
-          Ketiga, menjadi teladan sebagai pengikut Kristus adalah suatu hal yang patut kita usahakan. Sebab dunia yang sedang kita hadapi adalah dunia yang gelap. Dunia ini membutuhkan pertolongan dari para pengikut Kristus. Jadilah garam dan terang dunia, jangan rasanya menjadi hambar dan cahayanya menjadi redup. Bercahayalah di antara mereka seperti bintang-bintang (Filipi 2:15).

Kesimpulan :

Rasul Paulus yang adalah seorang gembala sejati yang memperingatkan para orang percaya, “Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu. Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus. Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi.”.
Paulus ingin membedakan antara “kita” dan “dunia”. Kita adalah orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat, tetapi Dunia adalah sebaliknya. Paulus mengatakan supaya “kita” menjadi pengikut Kristus sama seperti dia yang telah menjadi pengikut Kristus. (1Kor. 11:1).
Menjadi Pengikut Kristus bukan hanya sekedar menjadi orang “Kristen” tetapi lebih daripada itu kita harus menjadi Kristen yang meneladani Kristus dan kehidupan kita juga menjadi teladan yang baik bagi “Dunia”. Hidup kekristenan jangan hanya untuk diri kita sendiri tetapi adalah lebih baik jika melalui teladan hidup kita, kita juga mengajak orang lain menjadi hidup seperti Kristen yang benar. Jika Paulus mengajak kita untuk meneladani dia, maka kita juga boleh mengajak orang lain untuk meneladani kita.

Sebuah ilustrasi :

Pada suatu waktu, seorang pemuda nongkrong di sebuah terminal, kemudian dia ngobrol dengan seorang teman yang baru dikenalnya. Temannya itu bertanya : “Apakah Ayahmu seorang Kristen?”, Pemuda itu menjawab : “Menurut  saya Kristen, sebab dari Senin sampai Sabtu setiap pagi ia selalu berdoa sebelum berangkat kerja, selain itu sejak kecil saya melihat ayah saya setiap Minggu pakai dasi dan Jas berangkat ke gereja”. Terus Ibumu Kristen juga ?. Pemuda itu kembali menjawab, “mungkin, sebab selain sibuk arisan dan Kegiatan Seksi Ibu, Ibu saya dulu guru sekolah minggu”. Lalu Saudara-saudaramu?. Dia menjawab. “saya rasa mereka juga Kristen, sebab mereka sering latihan koor dan kegiatan-kegiatan lain di gereja”. Kemudia temannya itu bertanya lagi : “Pernahkah mereka mengajakmu ke gereja atau menasehati engkau supaya berdoa ?”. Pemuda itu menjawab : “Tidak pernah, sebab mereka masing-masing sibuk dengan kegiatannya sendiri, sehingga tidak ada waktu untuk memperhatikan aku”. Lalu temannya itu berkata : “ Kalau begitu nasib kita sama, marilah kita membuat kesibukan kita sendiri untuk mencari uang kantong kita, barangkali ada rezeki di terminal ini, menipu orang, mencopet atau apalah, yang penting kita jalani hidup kita sendiri”.

Sumber :
-          studyalkitab.com
-          ramlyharahap.blogspot.com
-          pargodungan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

HTML