Selamat datang di blog sederhana ini, kiranya menjadi berkat bagi kita semua

Minggu, 08 April 2012

Renungan Paskah


Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.” 
(1 Korintus 15:14)
Dalam suasana penuh rasa syukur dan sukacita yang menggempita, hari-hari ini umat Kristen Indonesia dan seluruh dunia memasuki hari raya Paskah, hari peringatan kebangkitan Kristus dari kematian. Syukurlah, dalam hal ini penderitaan, kesengsaraan dan kematian yang dijalani Yesus mempunyai makna penebusan bagi manusia. Karena manusia sendiri tidak mampu melakukannya, maka melalui penderitaan, kesengsaraan dan kematian-Nya, Yesus menggantikan manusia yang oleh dosa-dosanya seharusnya menerima hukuman berupa penderitaan, kesengsaraan dan kematian itu.

Dengan demikian, penderitaan, kesengsaraan dan kematian yang harus dijalani Yesus demi tergenapinya missi penyelamatan-Nya itu, bukan kelemahan, kekalahan ataupun kegagalan. Dan ini dibuktikan dengan kebangkitan-Nya dari kubur di Hari Paskah. Kalau karya Yesus benar- benar berhenti atau dihentikan oleh kematian-Nya, memang missi penyelamatan-Nya boleh dikatakan tidak lengkap dan bahkan gagal. Tetapi syukur kepada Tuhan, karya Yesus tidak berhenti hanya sampai salib di Jumat Agung. Dengan kematian dan selanjutnya kebangkitan-Nya itu, dinyatakanlah betapa besar kasih, pengorbanan dan pengampunan, yang adalah juga manifestasi dan wujud dari kemahakuasaan-Nya yang melampaui segala kuasa dan keperkasaan yang bersifat manusiawi dan duniawi.
Paskah tahun ini menginspirasikan dan memotivasi kita untuk memusatkan perhatian dan pemikiran kepada makna Kebangkitan Kristus pada masa kini di dalam sejarah kehidupan kita. Paskah yang dipahami sebagai kebangkitan Kristus dari kematian, mendorong kita untuk mewujudkan keadaan yang kondusif dan damai. Kita percaya bahwa Yesus Kristus telah hidup dari kematian, kini Dia menciptakan kemanusiaan baru; kemanusiaan yang adil dan yang memiliki tanggung jawab dalam mengukir masa depan.
Kita meyakini bahwa momentum Paskah selalu memberikan secercah optimisme, sekalipun pada saat ini rasa kemanusiaan kita sedang terusik. Pada saat ini, kemanusiaan akan menjadi wacana penting sewaktu kita menyaksikan keadaan dunia menunjukkan ketidakberuntungan, bencana alam, dan dampak buruk globalisasi yang langsung atau pun tidak langsung, berimbas kepada masyarakat Indonesia terutama kaum muda dan anak-anak. Efek dari penggambaran sengsara Yesus selayaknya menjadi simbol yang menawarkan undangan untuk setiakawan dengan saudara-saudari yang menderita, yang menjadi korban.
Misteri Paskah tidak berhenti pada kayu salib, melainkan diikuti tindakan Allah yang membangkitkan Yesus dari alam maut, dan menganugerahkan roh yang satu dan sama dengan Roh yang menghidupi Yesus. Anugerah penebusan bagi umat beriman kristiani berarti menerima panggilan untuk menjalani hidup mengikuti Yesus, ikut memperjuangkan apa yang dikatakan dan yang dilakukan oleh Yesus, untuk menemukan Yesus pada yang paling hina, yang lapar, haus, telanjang, tak punya tumpangan, sakit, dan tersingkirkan. Misteri Paskah membawa undangan untuk ikut serta secara kreatif bekerja demi nilai-nilai yang diperjuangkan dan dibela oleh Yesus dengan menanggung risiko kematian di kayu salib. Dari perspektif misteri Paskah, ukuran untuk menilai adalah apa yang diperjuangkan dan dibela oleh Yesus dengan risiko sampai kematian di salib, yang dibenarkan oleh Allah dengan membangkitkan dari alam maut.
Paskah adalah pilihan, pilihan yang ditempuh Yesus Kristus dan pilihan itu adalah pilihan moral, pilihan yang bertolak dari kebebasan dan kata hati-Nya. Dalam peristiwa Paskah kita diingatkan bahwa Yesus Kristus telah memilih dengan kata hati untuk menempuh kematian demi membebaskan umat manusia dari kuasa dosa dan kuasa maut. Paskah adalah simbol dan meterai menangnya keberanan Allah atas kebatilan manusia. Paskah adalah menangnya kehidupan atas kematian. Paskah adalah menangnya kepentingan bersama umat manusia atas egoisme dan pementingan pribadi, keluarga dan kelompok sendiri. Paskah adalah menangnya pilihan kata hati atas pilihan karena suap dan bujuk rayu kesenangan materialisme.
Paskah berarti kemenangan. Paskah adalah happy end dari cerita penderitaan yang dipilih oleh Yesus Kristus. Kebangkitan adalah kemenangan atas kuasa kematian sekaligus proklamasi kemenangan atas kuasa doa: “Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut di manakah sengatmu?” Kemenangan hidup atas kematian yang ditandai dan dimeteraikan oleh kebangkitan Yesus Kristus, memaknai setiap pilihan yang diambil dan ditempuh oleh setiap orang percaya.
Paskah – kebangkitan dan kemenangan Kristus – adalah dasar iman Gereja. Rasul Paulus menegaskan hal ini dalam suratnya kepada jemaat Korintus, dengan mengatakan, “Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.” (1 Korintus 15:14). Penghormatan Gereja terhadap Paskah (termasuk peristiwa Jumat Agung di dalamnya) telah dimulai sejak zaman Gereja perdana dulu. Ibadah-ibadah Paskah selalu menempati tempat penting dalam kehidupan Gereja. Pemahaman dan penghargaan kita atas karya keselamatan Kristus semestinya bertumbuh dan berkembang sepanjang perjalanan kita bersama Dia. Ini berarti seharusnya pertumbuhan dan perkembangan iman kita terjadi setiap hari
Gereja-gereja dan umat Kristen Indonesia dapat belajar banyak dari penderitaan dan kebangkitan yang telah dijalani oleh Yesus Kristus. Penderitaan yang dijalani Yesus memberi makna bagaimana Ia memiliki komitmen tinggi terhadap pembaruan kemanusiaan; bahwa Ia sedia mengambil alih penderitaan yang mestinya dijalani manusia menjadi bagian dari sejarah hidup-Nya, dan tanggung jawab-Nya. Tuhan Yesus berkata: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Ayat 29) Tampaknya bukan hanya Thomas yang perlu mendapat peringatan itu, melainkan juga kita. Selamat Paskah!

Sumber : Pdt. Midian KH Sirait, MTh


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

HTML