Selamat datang di blog sederhana ini, kiranya menjadi berkat bagi kita semua

Jumat, 20 April 2012

Khotbah Minggu 22 April 2012


HIDUP SEBAGAI ANAK-ANAK ALLAH

Ev. Roma 8:14-18

8:14 Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.
8:15 Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!"
8:16 Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.
8:17 Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.
8:18 Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita

Ep. Lukas 24:36-48

24:36 Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: "Damai sejahtera bagi kamu!"
24:37 Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu.
24:38 Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu?
24:39 Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku."
24:40 Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka.
24:41 Dan ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah Ia kepada mereka: "Adakah padamu makanan di sini?"
24:42 Lalu mereka memberikan kepada-Nya sepotong ikan goreng.
24:43 Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka.
24:44 Ia berkata kepada mereka: "Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur."
24:45 Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci.
24:46 Kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga,
24:47 dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.
24:48 Kamu adalah saksi dari semuanya ini.

Pengantar
Jika kita baca ayat sebelumnya dari nats ini (ay1-13), Paulus menegaskan bahwa kita yang percaya kepada Kristus tidak lagi hidup dalam daging, melainkan dalam Roh. Orang-orang yang percaya akan kematian dan kebangkitan Yesus telah diubah hidupnya dari sebelumnya dipimpin oleh daging menjadi dipimpin oleh Roh. Orang-orang percaya sekarang telah memiliki relationship / hubungan baru dengan Allah yaitu menjadi anggota keluarga Allah. Kebangkitan Yesus memberi kita anugrah bahwa kita telah diangkat (adopsi) menjadi anak-anakNya.


Penjelasan Teks
-          Ay. 14-15, Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.
Proses adopsi pada zaman Paulus bukanlah sesuatu yang mudah, sebab seorang anak yang akan diadopsi konsekwensinya adalah bahwa ia harus secara total keluar dari keluarga asalnya dan memutuskan hubungan dengan keluarga lamanya. Dalam konsep Kerajaan Romawi pada saat itu, latar belakang seorang anak adopsi harus dihapuskan, termasuk hutang-hutangnya. Kemudian setelah di adopsi dia mendapat hak sebagai anak yang sah dan mengikat dalam keluarga barunya serta menjadi ahli waris atas harta keluarga barunya. Hak tersebut secara hukum tidak dapat dicabut dan dia memiliki hak yang sama dengan saudara-saudaranya yang lain (anak kandung dari keluarga baru tersebut). Jadi seorang anak adopsi teah memilik identitas yang baru dalam hidupnya. Konsep inilah yang dipakai Paulus dalam menggambarkan bagaimana Allah mengangkat orang-orang percaya menjadi anakNya. Pengangkatan orang-orang percaya menjadi anak Allah resmi setelah kita menerima dan hidup oleh Roh Allah itu sendiri, sehingga dengan demikian kita layak berseru kepada Allah :  ya Abba, ya Bapa”. Indikasi bahwa kita adalah anak Allah akan kelihatan jika hidup kita dipimpin Roh Kudus, bukan roh perbudakan, sebab roh Perbudakan membawa kita hidup dalam ketakutan, kecemasan dan ketidak pastian.
-          Ay. 16, Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.
Dalam proses hukum adopsi, tentu saja harus ada saksi supaya proses tersebut sah. Sama halnya dalam budaya Batak, pengangkatan seorang anak harus disaksikan oleh pihak keluarga; Hula-hula, Boru dan Dongantubu. Pengangkatan kita sebagai anggota keluarga Allah disaksikan oleh Roh Kudus. Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita benar-benar telah menjadi anak-anak Allah. Roh itu bersaksi, bahwa pengangkatan itu benar adanya.[1]
-          Ay. 17-18, Penderitaan yang menghasilkan kemuliaan
Ketika kita diangkat menjadi anak-anak Allah, maka kita juga berhak menerima warisan sebagai anggota keluarga Allah. Warisan itu ialah bahwa kelak kita akan dipermuliakan bersama-sama dengan Kristus. Namun sebagaimana Kristus juga mengalami penderitaan dan kematianNya, lalu kemudian bangkit dan naik ke sorga, kembali kepada kemuliaanNya, maka demikian juga orang-orang percaya harus siap untuk menderita dalam dunia fana ini supaya kelak mendapatkan warisan kemuliaan bersama dengan Kristus. Saat ini mungkin saja orang-orang percaya akan mengalami penderitaan sebagai anak-anak Allah, namun Paulus berkata dalam Roma 12:12 : “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!”. Sebab itu anak-anak Allah harus bersabar menghadapi penderitaan itu. Lalu dalam ay. 18 Paulus menegaskan bahwa sebenarnya jikapun saat ini kita mengalami penderitaan karena Kristus, itu tidaklah seberapa dibandingkan dengan kemuliaan yang akan kita diterima kelak. Hal itu juga ditegaskan dalam surat Paulus kepada jemaat Korintus : “Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami”. (II Kor. 4:17).

Penutup & Renungan
  1. Untuk menjadi anak-anak Allah kita harus mau melepaskan kehidupan lama kita, masuk ke dalam hidup yang baru sebagai anggota keluarga Allah.
  2. Menjadi anak Allah, otomatis juga kita menjadi ahli warisNya, namun kita bukan hanya ikut mewarisi kemuliaanNya, tetapi juga penderitaanNya. Untuk itu, supaya kita mendapatkan kemuliaan bersama-sama dengan dia, maka kita harus siap untuk ikut menderita oleh karena Dia. Sebab dalam Mat 10:38, Yesus berkata :” Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.”.
  3. Untuk menjadi anak Allah, kita harus mau dipimpin dan dituntun oleh Roh kudus dalam setiap aktivitas kehidupan kita.   Sehingga dalam kehidupan kita tercermin karakter sebagai sebagai anak-anak Allah. AMIN


[1] Pdt. (Em) S.M. Simanungkalit, S.Th : “Menjadi Anggota Keluarga Allah”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

HTML