Selamat datang di blog sederhana ini, kiranya menjadi berkat bagi kita semua

Jumat, 06 April 2012

Renungan Jumat Agung

 
”Aku Tidak Mendapati Kesalahan Apa pun pada-Nya” 
(Luk 23:4,14,22)

Sdr terkasih dalam Yesus Kristus,
Hari ini, kita memperingati Jumat agung (hari kematian Yesus Kristus) dan hari Minggu kita akan merayakan Paskah (hari kebangkitan Yesus), sebuah peristiwa penting dalam sejarah kekristenan. Sedemikian pentingnya, sehingga harus dirayakan setiap tahun oleh seluruh umat Kristen di dunia ini. Sebenarnya hakekat kematian dan kebangkitan Yesus jauh lebih besar dari pada kelahiranNya sendiri. Setiap orang merayakan hari kelahiran sebagai hari sukacita, tetapi orang Kristen merayakan kematian dan kebangkitan sebagai hari kemenangan.
Dalam kronologis kematian dan kebangkitan Yesus, banyak peristiwa dan pernyatan yang bisa jadikan renungan. Salah satunya ialah nats kita saat ini. Ketika Yesus dihadapkan kepada Pontius Pilatus ada tiga pernyataan penting yang disampaikan Pilatus kepada orang-orang Yahudi yang intinya menyatakan :” Aku Tidak Mendapati Kesalahan Apa pun pada-Nya”. Penyataan ini mengingatkan kita bahwa perjuangan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan bukanlah hal mudah. Kesaksian Kitab Injil mengenai proses pengadilan Yesus yang berakhir dengan vonis hukuman mati oleh Pilatus, penguasa Romawi setaraf Gubernur pada waktu itu (Mat 27: Luk 23 : Mark 15).
Keempat Injil memberitakan bahwa para imam Jahudi bersekongkol untuk membunuh Yesus karena pekerjaan dan ucapan Yesus dianggap merongrong kewibawaan agama Jahudi. Yesus harus disalibkan dan orang Farisi mempengaruhi publik untuk membebaskan Barabas penyamun, dan menyalibkan Yesus. Pengadilan yang dilakukan oleh Pontius Pilatus menjadi pengadilan sandiwara dan formalitas saja. Sesungguhnya hukuman sudah diputuskan sebelum sidang pengadilan itu berlangsung.
Pilatus berkata: “Aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada-Nya”. Pernyataan itu membuyarkan pengadilan massa yang telah lebih dahulu menclaim bahwa Yesus itu bersalah. Pilatus yang ditekan massa dan mendesak untuk dijatuhkan vonis hukuman. Gambaran kebrutalan manusia tanpa didasari kebenaran itu sempat meragukan Paulus, antara salah dan benar. Hal itu jelas kita lihat secara visual ketika kita menonton film The Passion of the Christ, karya Mel Gibson. Keraguan dan pendirian yang  ambivalen (mendua hati) itu, menyelimuti hati dan pikiran Pilatus. Bisikan sang istri turut mempengaruhinya, agar keputusan yang dijatuhkan Pilatus tidak dipengaruhi oleh amukan masa. Namun yang terpentingkan ialah, keputusan yang keluar dari mata hati. (Mat 27:19)
Mungkin akan muncul pertanyaan, mengapa Paulus ragu? Keraguan itu mencuat ketika ia dihadapkan antara kepentingannya secara pribadi dengan kepentingan yang lain. Orang yang ragu melakukan dan bertentangan dengan mata hati atau kata hati, hasilnya juga akan mempengaruhi identitas dan integrity seseorang, termasuk Pilatus. Ia di satu sisi ingin memnduduki dan memiliki jabatan terhormat, di sisi lain ia bergumul antara kebenaran dan ketidakbenaan.
Menghukum atau menjatuhkan kesalahan, vonis, menjadi pergulatan antara salah dan benar. Tentu memperjuangkan agar berpihak kepada yang benar dan berkadilan, tidaklah mudah. Ia butuh proses. Yaitu proses untuk menjembatani antara kebutuhan pribadi dengan kebtuhan Tuhan sendiri.
Amat disayangkan, ternyata Pilatus bukan penguasa yang memiliki pribadi yang tegas, katakan salah jika salah dan benar jika benar. Tampak di sana, ketidakkonsistenan Pilatus, yang telah diukir dalam sejarah perjalanan hidupnya. Akibat dari semua penampakan integrity sang pemimpin menjadi lemah, sarat dengan kelemahan dan mengakibatkan kewibawaaannya diragukan. Sebagai penguasa dan tokoh pemerintahan, jelas dia adalah seorang politikus.
Mengenai Yesus yang dihadapkan oleh para pemuka agama kepadanya untuk diadili, Pilatus dalam hati kecilnya sebenarnya yakin bahwa Yesus tidak bersalah apapun, sehingga tidak seharusnya dipidana. Namun demi mempertahankan popularitasnya di kalangan rakyat, dan berkaitan dengan itu kedudukan dan jabatannya di pemerintahan, serta untuk memperbaiki hubungannya dengan Herodes, akhirnya dia tega mengorbankan Yesus dan menghukum-Nya.
Sungguh teramat aneh, dalam hal ini Yesus telah menjadi korban dari fanatisme dan manipulasi para pemuka agama, yang tak mustahil sebenarnya hanyalah wujud dari egoisme, ambisi dan arogansi pribadi dan golongan belaka. orang yang dijuluki penguasa dan sipengendali teriorial itu mendesak, agar Yesus memberi jawab atas tuduhan dan pertanyaan yang dilontarkan kepada Yesus. “Engkau inikah Raja Orang Yahudi?”, dan pertanyaan teologis/filosofis: “Apakah kebenaran itu?”, kata Pilatus dalam sidang pengadilan kepada sang Yesus. Sejarah mencatat, Orang Nazaret itu mesti dihukum mati demi memuaskan keinginan para pemimpin agama beserta massa pengikut mereka, dan mengamankan jabatan politik sang penguasa, Pilatus. Dan Pilatus membasuh tangannya! (Mat 27:24). Pilatus memilih mengingkari kebenaran dan keadilan. Dalam hal ini Yesus telah menjadi korban ambisi dan oportunisme politik penguasa, demi popularitas dan kelestarian kedudukannya
Pengadilan pun memutuskan, bahwa Yesus bersalah, meski Pilatus sendiri berkata: “Aku tidak mendapat kesalahan apa pun pada-Nya”. Memang logika hukum dan kenyataan keadilan tidak selalu berjalan seiring. Antara praktek dan kenyataan sering tidak sejalan.
Kenyataan itu mengingatkan kita bahwa perjuangan kita masih panjang. Maka seruan untuk tidak berputus asa rasanya tepat untuk dikemukakan. Dalam pernyataan teologi, Jumat Agung mengingatkan kita, penderitaan bukan kata akhir, meski Yesus harus menjalani hal itu. proses pengadilan Yesus tersebut, Yesus telah menjadi korban dari keadaan, di mana fanatisme sempit dan kelicikan para pemuka agama, oportunisme dan ambisi penguasa, serta emosi massa yang terhasut dan tak terkendali, secara bersama-sama telah melahirkan vonis pidana mati yang sewenang-wenang dan tidak adil itu.
Di sana, di kayu salib tergantung selama tiga jam, memberi sinyal kepada kita bahkan untuk saat ini umat Kristen diingatkan untuk terus berupaya untuk menghentikan kekerasan, diskriminasi, ketidakadilan, ketidakjujuran, dan eksploitasi manusia. idup manusia lekat dengan kekerasan. Hal ini ditandai dengan makin maraknya bentuk kekerasan yang terjadi di sekitar kita. Tema konflik yang muncul kepermukaan ditandai dengan tindak kekerasan. Bumi penuh dengan aroma kekerasan. Benar ungkapan Jacques Ellul: kekerasan yang satu akan melahirkan bentuk kekerasan yang lain.
Sebab, fokus salib itu adalah dialamatkan kepada manusia dan kemanusiaan akan mendorong untuk menghentikan hukum yang menindas, yang pada gilirannya akan memampukan kita meyakini membangun kesejahteraan, kebudayaan dan pengetahuan yang luhur, mengurangi kemiskinan, keterbelakangan, dan pengangguran.
Akhirnya, hidup Yesus juga lekat dengan kekerasan, meskipun Yesus tidak pernah melakukan tindak kekerasan. Tangan Yesus selalu penuh dengan cinta kasih, menolong orang yang membutuhkan, dan melakukan kebaikan. Tetapi dunia riil, di sekitar Yesus bukanlah dunia yang steril tanpa noda. Di akhir periode hidup Yesus pun, akhirnya Ia menjadi korban tindak kekerasan dari orang- orang yang amat dikasihiNya. Tindakan yang sangat biadab untuk zaman itu, dan mengkambing-hitamkan orang yang tidak bersalah dengan disalibkan. Namun roh dan semangat pembaharuan yang dihembuskan oleh Yesus mengusik kemapanan mereka. Dalam sekejap, berkembang cepat menjadi suatu tragedi. Yesus datang membawa misi religiusNya, yaitu misi Allah. Tujuannya, menghadirkan suasana “Kerajaan Allah” di dunia. Wujudnya, damai sejahtera yang bercirikan kebenaran dan keadilan menjadi suatu kenyataan dalam hidup sehari-hari (Lukas 4:16-20).
Dengan demikian, penderitaan, kesengsaraan dan wafat-Nya itu bukan merupakan kekalahan dan kegagalan missi-Nya (Injil Matius 16:21-28; 17:22,23; 20:17-19; 26:1-5). Semasa hidup-Nya di dunia ini Yesus berkali-kali telah menyatakan kepada para pengikut-Nya bahwa demi karya penyelamayan-Nya bagi dunia dan umat manusia, Dia harus mengorbankan Diri dengan menjalani penderitaan dan kesengsaraan sampai mati.
            Namun jika seandainya, kasus ketidak adilan dalam pengadilan Yesus  kita tinjau kembali dan timbul pertanyaan : “Siapakah yang sebenarnya paling bersalah (terdakwa utama) dalam peristiwa pembunuhan Yesus? Mungkin akan banyak nama yang kita sebut, apakah Yudas si penghianat?, Imam-iman besar yang menjadi provokator? orang-orang Farisi kah? Apakah Pilatus yang memvonis Yesus dalam keraguan? Apakah tentara-tentara Roma yang menyiksa Yesus sepanjang via dolorosa?
            Sesungguhnya nama-nama tersebut bukanlah tersangka utama kasus pembunuhan Yesus, mereka hanyalah alat yang dipakai oleh Allah sendiri untuk menggenapi tugas penebusanNya sekaligus menjadi gambaran sifat dan kebobrokan manusia masa itu dan masa kini. Tetapi jika kita renungkan dengan benar, maka sebenarnya kitalah sebagai tersangka utama yang menyebabkan Yesus mati. Dosa kitalah yang membuat Yesus harus menanggung sengsara hingga disalibkan.
Oleh karena itu, ketika kita geram dan marah melihat kekejaman yang dilakukan orang Yahudi dan tentara Roma terhadap Yesus, sesungguhnya kita harus geram dan marah kepada diri kita sendiri ketika kita masih melakukan dosa.

Renungan
-         Mari kita hindari integritas Pilatus yang mendua itu agar kita lebih memilih Yesus yang memberi dirinya untuk korban orang lain, agar mereka selamat.
-         Ketika kita masih melakukan dosa, ingatlah bahwa Yesus menderita dan mati di kayu salib adalah karena kita. Amin

Sumber : Pdt. Midian KH Sirait, MTh

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

HTML