Selamat datang di blog sederhana ini, kiranya menjadi berkat bagi kita semua

Rabu, 23 November 2011

KHOTBAH MINGGU, 27 NOP 2011

ANAK DOMBA YANG LAYAK MENERIMA KUASA
Wahyu 5 : 1-14
5:1 Maka aku melihat di tangan kanan Dia yang duduk di atas takhta itu, sebuah gulungan kitab, yang ditulisi sebelah dalam dan sebelah luarnya dan dimeterai dengan tujuh meterai.
5:2 Dan aku melihat seorang malaikat yang gagah, yang berseru dengan suara nyaring, katanya: "Siapakah yang layak membuka gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya?"
5:3 Tetapi tidak ada seorang pun yang di sorga atau yang di bumi atau yang di bawah bumi, yang dapat membuka gulungan kitab itu atau yang dapat melihat sebelah dalamnya.
5:4 Maka menangislah aku dengan amat sedihnya, karena tidak ada seorang pun yang dianggap layak untuk membuka gulungan kitab itu ataupun melihat sebelah dalamnya.
5:5 Lalu berkatalah seorang dari tua-tua itu kepadaku: "Jangan engkau menangis! Sesungguhnya, singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah menang, sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab itu dan membuka ketujuh meterainya."
5:6 Maka aku melihat di tengah-tengah takhta dan keempat makhluk itu dan di tengah-tengah tua-tua itu berdiri seekor Anak Domba seperti telah disembelih, bertanduk tujuh dan bermata tujuh: itulah ketujuh Roh Allah yang diutus ke seluruh bumi.
5:7 Lalu datanglah Anak Domba itu dan menerima gulungan kitab itu dari tangan Dia yang duduk di atas takhta itu.
5:8 Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, tersungkurlah keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu, masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan kemenyan: itulah doa orang-orang kudus.
5:9 Dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya: "Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa.
5:10 Dan Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi."
5:11 Maka aku melihat dan mendengar suara banyak malaikat sekeliling takhta, makhluk-makhluk dan tua-tua itu; jumlah mereka berlaksa-laksa dan beribu-ribu laksa,
5:12 katanya dengan suara nyaring: "Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian!"
5:13 Dan aku mendengar semua makhluk yang di sorga dan yang di bumi dan yang di bawah bumi dan yang di laut dan semua yang ada di dalamnya, berkata: "Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba, adalah puji-pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya!"
5:14 Dan keempat makhluk itu berkata: "Amin". Dan tua-tua itu jatuh tersungkur dan menyembah.

Pengantar
Dari seluruh kitab dalam Alkitab, kitab Wahyu adalah kitab yang paling menarik untuk dibaca dan ditelaah. Sangatlah menarik karena kitab Wahyu menimbulkan rasa keingintahuan manusia terhadap hal yang berhubungan dengan akhir jaman, seperti angka 666, naga, segala jenis binatang yang keluar dari perut bumi, dsb. Namun untuk dapat mengerti hal tersebut bukanlah hal yang mudah sehingga banyak pihak yang menafsirkannya dengan caranya masing-masing.

Namun, maksud dan tujuan Firman Tuhan ditulis bukan hanya sekedar untuk memuaskan keingintahuan kita saja. Maksud utama penulisnya ialah untuk memberi harapan serta semangat kepada para pembacanya, dan juga untuk mendorong mereka supaya tetap percaya pada waktu dianiaya dan ditekan.
Kita mengenal dan mengetahui bahwa Kitab Wahyu merupakan kitab yang ditempatkan paling terakhir dalam urutan kitab-kitab Perjanjian Baru. Kata “Wahyu” dalam nama kitab ini merupakan terjemahan dari kata Bahasa Yunani Apokalypsis yang berarti menyingkapkan sesuatu yang tersembunyi. Kata ini sebenarnya menunjuk pada jenis sastra yang terdapat dalam kitab ini.
Pada umumnya, sastra apokaliptik dalam konteks Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru dimaksudkan untuk menyatakan rahasia-rahasia yang berhubungan dengan akhir zaman atau makna sejarah.[1] Kitab ini berisi simbol-simbol dan lambang-lambang yang pada zaman sekarang menimbulkan pelbagai tafsiran yang tidak hanya beragam tetapi juga seringkali controversial.
Nats Kitab Wahyu 5 : 1-14 ini, menceritakan tentang sebuah pemandangan yang agung di dalam sorga, tentang penebusan ciptaan Allah ini. Nats ini dapat kita bagi dalam tiga kelompok :
  • -          tentang Gulungan Kitab yang dimeteraikan
  • -          tentang siapa yang layak untuk membuka gulungan kitab tersebut
  • -          pujian dan nyanyian baru bagi Dia yang telah membuka materai kitab tersebut.[2]

Penjelasan Teks

1. Gulungan Kitab yang dimeteraikan
  • Ay. 1: “Maka aku melihat di tangan kanan Dia yang duduk di atas takhta itu, sebuah gulungan kitab, yang ditulisi sebelah dalam dan sebelah luarnya dan dimeterai dengan tujuh meterai.        Kitab itu merepresentasikan sebuah warisan yang telah hilang. Dan ketujuh materai kitab itu (gulungan itu digulung dan dimateraikan, kemudian digulung lagi dan dimateraikan, demikian seterusnya hingga materai yang ketujuh memateraikan seluruh gulungan itu), sehingga untuk membuka kitab itu, materai yang pertama harus dibukaterlebih dahulu, kemudian materai yang kedua dan materai yang ketika dan seterusnya hingga materai yang ketujuh dibuka dan seluruh gulungan kitab itu terbuka dan dapat dibaca. Kitab itu adalah sebuah kitab tentang sebuah warisan yang telah hilang. Warisan yang telah diciptakan untuk kita, untuk keturunan Adam. Dan kita telah menghilangkannya di dalam dosa dan kejahatan kita. Dan iblis telah mengambilnya: dosa, kematian, neraka, setan, kejahatan dan hukuman serta kutuk telah mengambil warisan kita itu hingga hari ini. Dan berdasarkan hukum dan adat istiadat dari Yunani kuno, tanda dari sebuah warisan yang hilang adalah sebuah gulungan kitab yang dimateraikan. Dan fakta bahwa di dalamnya ada tujuh materai menekankan rintangan  yang kuat atas warisan ini. Dan musuh kita (setan / iblis) telah mengambilnya dan kitab penebusan itu menunggu seseorang yang layak, yang mampu untuk menebusnya kembali dan memperbaharuinya kepada pemilik yang sah. Dan ketika kitab penebusan itu berada di tangan seseorang yang layak maka materai itu dibuka kemudian dilemparkan ke dalam hukuman Allah yang diikuti dengan pembukaan materai-materai selanjutnya. Dan dosa, neraka, maut dan setan dilemparkan ke dalam lautan api, dan dihancurkan selamanya dan sampai selama-lamanya, dan Allah menciptakan sebuah bumi baru dan langit baru bagi kita dan mengembalikan warisan kita yang telah dihilangkan di dalam Adam dan di dalam dosa. Itu adalah kitab dengan tujuh materai yang berada di tangan Allah. Itu adalah simbol dari sebuah warisan yang telah dijual dan hilang. Kitab itu merepresentasikan rintangan yang terletak di atas kepemilikan itu yang sedang menunggu seseorang untuk menebusnya, untuk membelinya kembali, untuk mendapatkannya kembali dan mengangkat kembali pemiliknya yang semula.
2. Siapakah yang layak membuka Gungan Kitab itu?
  • Ay. 2 : “Dan aku melihat seorang malaikat yang gagah, yang berseru dengan suara nyaring, katanya: Siapakah yang layak membuka gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya?”.      Seluruh pikiran kita sekarang terpusat atas kitab yang dimateraikan itu. Dan suara malaikat yang nyaring berkata bahwa masa itu telah datang. Jika ada seorang yang bisa,  jika ada seorang yang layak dan mampu menebus kembali warisan ini, maka dia boleh melangkah ke depan, sebab waktunya telah datang untuk menebus seluruh kepemilikan itu.     Dan suara malaikat yang kuat itu, jauh menembus ke dalam sudut kemuliaan dan mencari hingga seluruh bumi dan menjangkau hingga dunia dari orang mati. Dimanakah seseorang itu? Dan pencarian pun dilakukan di dalam sorga? Dimanakah seseorang itu? Dan pencarian pun dilakukan di seluruh bumi. Dimanakah seseorang itu? Dan pencarian dilakukan di dunia lain? Dimanakah seseorang yang mampu untuk datang dan memangku jabatan penebusan ini dan untuk mendapatkan kembali kepemilikan warisan ini dan untuk menebusnya kembali dari musuh yang sekarang memilikinya? Siapakah, kata malaikat dengan suara yang nyaring. Siapakah yang layak untuk membuka kitab itu dan untuk melepaskan ketujuh materai itu dan untuk membersihkan warisan itu dari rintangan yang berat?
  • Ay. 3, Kemudian kata yang terdapat dalam ayat berikutnya:  “Tetapi tidak ada seorang pun yang di sorga atau yang di bumi atau yang di bawah bumi, yang dapat membuka gulungan kitab itu atau yang dapat melihat sebelah dalamnya”.   Pencarian dilakukan di sorga dan tidak seorang pun yang di sorga yang mampu atau layak. Ketika malaikat dan dan kuasa-kuasa dan penghulu malaikat dan semua tingkat lapisan yang berada di sorga, melihat kitab yang dimateraikan itu dan melihat tulisan yang ada di sebelah dalamnya, dan satu pun tidak ada yang mampu dan layak, mereka  mundur dalam rasa malu dan ketidak-mampuan; dan mereka menjadi diam dan kelu; dan seluruh sorga menjadi hening. Dan, tidak seorang pun yang ditemukan di dunia bawah, tidak seorang pun yang ditemukan dalam kematian, di dunia roh, yang layak. Dan, bahkan tidak ada seorang pun yang ditemukan di bumi. Tidak ada satu pun. Dengan kata lain, bahwa selama berabad-abad, secara historikal. sejak Adam kehilangan warisannya, ada begitu banyak orang yang berusaha untuk menebusnya kembali, untuk memenangkannya kembali, untuk menemukan kebaikan yang tertinggi dan memberikan kita kembali warisan yang telah hilang itu. Seni dari peradaban dunia telah berusaha melakukannya. Seluruh ilmu pengetahuan politik sepanjang abad telah berusaha melakukannya. Revolusi ini, bentuk pemerintahan yang berbeda, berusaha untuk menemukan beberapa cara untuk membawa kembali warisan yang telah hilang itu kepada umat manusia. Filsafat, pemikiran manusia yang terbaik, telah berusaha memikirkan hal itu.  Dan bahkan Agama yang diciptakan manusia berusaha untuk mendapatkan hal itu kembali. Selama berabad-abad, sepanjang sejarah umat manusia, usaha itu telah dilakukan. Siapakah yang layak, yang mampu, untuk menebus kembali, untuk memberikan kembali kepada kita, warisan yang telah hilang itu? Siapakah? Dan tidak ada seorang pun di sorga, di bumi dan dan di bawah bumi, tidak seorang pun yang mampu untuk membuka kitab itu ataupun melihat di sebelah dalamnya.  
  • Ay. 4, Dan muncullah ungkapan yang ekspresif dalam bahasa Yunani, sebagaimana Yohanes menulisnya: “Maka menangislah aku dengan amat sedihnya” .     Penekanannya adalah penderitaan hati dan kedukaan dari Yohanes ketika dia menanti seseorang dari sorga atau dari dunia bawah atau di atas bumi untuk maju ke depan dan menebus warisan yang telah hilang ini (ciptaan Allah yang telah hancur). Dan ketika dia menunggu, tidak ada seorang pun yang ditemukan, tidak bumi, tidak di sorga, tidak di bawah bumi, tidak ada seorang pun yang dapat ditemukan. Dan Yohanes menulisnya dalam sebuah cara di mana anda dapat melihat penderitaan yang dalam dari jiwanya. “Maka menangislah aku dengan amat sedihnya.   Ini adalah air mata dari seluruh umat Allah sepanjang abad. Air mata dari Rasul Yohanes adalah air mata dari Adam dan Hawa, yang diusir keluar dari Taman Eden, ketika mereka menunduk di hadapan maut, ketika mereka membasahi tanah dengan air mata melihat tubuh yang kaku dan hening dari anak mereka Habel. Ini adalah air mata anak-anak Israel yang berada di dalam perbudakan ketika mereka berseru kepada Allah di dalam kesusahan dan penderitaan mereka. Ini adalah air mata dari orang-orang pilihan Allah selama berabad-abad ketika mereka berseru ke atas sorga. Ini adalah tangisan dan air mata yang memancar dari dalam hati dan jiwa umat Allah, ketika mereka melihat keheningan dari kematian orang-orang yang mereka kasihi, ketika mereka berdiri di depan kuburan mereka yang terbuka, ketika mereka mengalami pencobaan dan penderitaan dalam hidup, hati yang luka dan kekecewaan yang sukar untuk dilukiskan. Kematian adalah kutuk dari dosa dan pemberontakan yang terletak di atas ciptaan Allah yang indah. Dan ini adalah akibat dari dia yang telah memegangnya, yaitu sang penyusup itu, perusuh itu, makluk asing itu, naga itu, ular tua itu, iblis itu. “Maka menangislah aku dengan amat sedihnya,” karena makna dari itu adalah bahwa bumi ini akan tetap berada di dalam kutukannya. Karena makna dari hal itu adalah kematian dan dosa dan hukuman dan neraka akan bertakhta selama-lamanya dan kedaulatan dunia Allah akan tetap tinggal di tangan Setan sampai selama-lamanya.
  • Ay. 5, “Lalu berkatalah seorang dari tua-tua itu kepadaku : Jangan engkau menangis! Sesungguhnya….”. Seorang tua-tua, yang dirinya sendiri telah mengetahui bagaimana hatinya telah diregenerasikan, seseorang yang tahu bagaimana dirinya telah ditebus, yang tubuhnya telah dibangkitkan dari debu tanah, dan salah satu tua-tua, seorang tebusan, seseorang yang telah dibayar oleh darah, berkata : “Jangan menangis, Sesungguhnya, singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah menang, sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab itu dan membuka ketujuh meterainya”. Ini adalah suara para nabi yang telah menubuatkan kedatangan Mesia sang Penebus, yang diberitakan oleh Kristen mula-mula, inilah yang diumumkan oleh mereka kepada dunia. Itu adalah Injil Anak Allah..
  • Ay. 6, “Maka aku melihat di tengah-tengah takhta dan keempat makhluk itu dan di tengah-tengah tua-tua itu berdiri seekor Anak Domba seperti telah disembelih.     Dan Dia berdiri seperti telah disembelih, artinya Yesus yang telah diremukkan dan darahnya dicurahkan. Disana berdiri Anak Domba yang telah disembelih. Yohanes telah melihatNya mati di Kayu Salib di Golgota, sekarang dia melihatNya berdiri di tengah-tengah takhta, sedang bersiap untuk menerima kedaulatan Allah atas alam semesta ini. Berdiri di atas dasar pengorbananNya, telah mengidentikkan diriNya dengan kita sebagai seorang kaum dan kerabat penebus. Berdiri untuk mengambil seluruh kepemilikan dan untuk melemparkan penyusup, dan perusuh dan musuh dan mahluk asing yaitu iblis, sang naga tua. “Dan Anak Domba seperti telah disembelih.”     Itu adalah gambaran dari Tuhan kita Yesus Kristus di dalam kedatanganNya yang pertama ketika Dia berdiri dan mereka meludahi Dia, mengalami penghinaan yang menyakitkan itu, mereka menekan mahkota duri di atas keningNya dan mereka mengejek Dia dan memberika sebuah buluh sebagai tongkat lambang kekuasaan, dan memakaikan sebuah jubah ungu yang lapuk. Dan mereka memaku Dia seperti penjahat pada umumnya ke sebuah salib dan meninggikanNya supaya dilihat oleh seluruh dunia—sebuah penampilan yang memalukan dan dikutuk oleh dunia. Sebuah mahkota duri dikenakan kepadaNya. Dia berdiri seperti seekor anak domba yang telah disembelih, dengan tenggorokan yang telah dipotong, dengan darah yang telah dicurahkan hingga Dia mati. Itu adalah dasar dari penebusan, darah yang membasuh dosa, korban yang telah membayar harga dan hukuman atas kejahatan kita. Dasar dari penebusan: seekor anak domba yang telah disembelih.  Tetapi sekarang, masanya telah datang, ketika korban itu, ketika hamba Allah yang menderita itu yang telah membayar dosa-dosa kita, yang telah menebus kita dan membawa kita kembali kepada Allah—masanya telah tiba bagi Anak Domba Allah itu untuk mengambil dari dari tangan penyusup, dari tangan kematian, dari tangan maut, dari tangan kutuk dan hukuman atas dosa—masanya telah tiba ketika  di dalam keagungan Singa itu, sebagai Raja Kemuliaan—untuk menerima kembali bagi kita dan menyerahkan bagi kita warisan kita yang telah hilang. Dia telah menang, Dia telah berjaya. Dia telah menaklukan semuanya. Singa dari Yehuda, Tunas Daud telah menang.  Dia adalah pemenang. Dia telah menang pada masa pencobaan di padang gurun. Dia telah menang pada hari penyaliban, ketika Dia jatuh ke dalam belenggu kematian. Dia telah menang ketika Dia meremukkan mereka dan bangkit dari kematian. Dia telah menang ketika Dia masuk ke dalam sorga, membawa para tawanan dan memberikan hadiah kepada manusia. Dan Dia telah menang sekarang ketika Dia mengambil seluruh kepemilikan itu dari tangan penyusup dan mengembalikannya kepada kita, ras Adam, keturunan Adam yang telah jatuh.  “Maka aku melihat berdiri seekor Anak Domba seperti telah disembelih, bertanduk tujuh dan bermata tujuh”. Tujuh tanduk merupakan representasi dari kepenuhan kuasa yang telah diberikan ke dalam tanganNya. Dan tujuh mata, penglihatannya (kecerdasan Allah dalam memelihara umatNya), mengamati, mengarahkan, mengawasi, memimpin dan menempatkan mereka terhadap hari yang terakhir itu, seperti yang disebutkan dalam kitab Wahyu ini, ketika Dia akan mengambil kekuasaan bagi diriNya sendiri dan memerintah dunia ini.
  •  Ay. 7, “Lalu datanglah Anak Domba itu dan menerima gulungan kitab itu dari tangan Dia yang duduk di atas takhta itu….”      Itu adalah tindakan terbesar dari seluruh sejarah penciptaan Allah. Itu adalah tindakan terbesar di dalam Kitab Wahyu. Dan itu adalah tindakan terbesar dalam sejarah umat manusia, ketika Dia datang untuk mengambil kitab itu. Dia mengangkat surat bukti hak penebusan untuk mengembalikan kepada kita warisan kita yang telah hilang. Dan tindakan itu merupakan jawaban doa dari orang kudus sepanjang zaman. (Ay.8) Dan di dalam tindakan itu ada hukuman Allah terhadap dosa, terhadap Setan tehadap maut, terhadap alam maut dan terhadap neraka. Dan di dalam tindakan itu adalah pengusiran dan pelemparan orang-orang yang menyangkal tujuan Allah bagi kita, ketika Dia melihat kita sebelum dan sesudah dasar-dasar bumi diciptakan.
3. Pujian dan Nyanyian baru bagi Anak Domba
  • Ay. 8-14, “Dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru….”      Sekarang, ketika gulungan kitab itu telah diterimaNya, mereka menyanyikan nyanyian baru. Melihat kenyataan bahwa hanya Anak Dombalah yang mampu mengambil dan membuka kitab yang termetarai itu, diadakanlah perayaan dalam pujian yang sangat meriah. Pujian yang pertama-tama dilakukan oleh keempat makhluk dan keduapuluh empat tua-tua (ay. 8-10), kemudian oleh malaikat yang jumlahnya sangat besar (ay. 11-12) dan pada akhirnya oleh seluruh ciptaan (ay. 13-14) yang secara bersama-sama menyanyikan suatu nyanyian baru.     Kita lihat bahwa dalam ay.8 diawali dengan frase “Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu…” Kata ‘ketika’ di sini menunjuk pada suatu suasana penting yang sedang dan akan terjadi. Bila dikaitkan dengan ayat-ayat sebelumnya, hal itu melukiskan suasana surgawi: Dia yang duduk di atas takhta dan gulungan kitab – ditulisi sebelah dalam dan sebelah luarnya dan dimeterai dengan tujuh meterai – di tangan-Nya (ay. 1); seorang malaikat yang gagah (ay. 2); seorang dari tua-tua itu (ay. 5); di tengah-tengah takhta dan di tengah-tengah tua-tua itu berdiri seekor Anak Domba seperti telah disembelih, bertanduk tujuh dan bermata tujuh (ay. 6); datanglah Anak Domba itu dan menerima gulungan kitab itu dari tangan Dia yang duduk di atas takhta itu (ay. 7).   Penggunaan kata ‘Ia’ dalam ay. 8 merujuk pada Anak Domba yang datang dan menerima gulungan kitab itu dari tangan Dia yang duduk di atas takhta itu (ay. 7). Kata ‘mengambil’ merupakan suatu tindakan menerima dari seseorang. Sedangkan frase ‘gulungan kitab itu’ merujuk pada gulungan kitab yang ada di tangan kanan Dia yang duduk di atas takhta (ay. 1).            Tindakan Anak Domba mengambil gulungan kitab itu menimbulkan reaksi dari mereka yang berada di sekitar takhta tersebut dan kemudian reaksi dari lingkungan yang lebih luas. Setiap makhluk, semua yang pernah hidup di bumi, yang telah diselamatkan maupun yang belum diselamatkan akan memuliakan, menghormati, memberkati dan mengakui kekuatan-Nya yang dasyat. Hal ini sejalan dengan apa yang terdapat dalam Filipi 2:10. Semua lutut kan bertelut, setiap lidah mengaku bahwa Yesus-lah Tuhan. Tanpa kecuali, yang hidup maupun yang mati, orang kudus ataupun orang berdosa, bahkan, Lucifer juga harus mengaku siapa Yesus. Itulah Hari Kemenangan dan victory dahsyat manakala segala bentuk kontroversi tentang diri-Nya telah terselesaikan, oleh-Nya. Sebagaimana sediakala, sehubungan dengan keIllahian, Yesus adalah penerima kehormatan ini dan Bapa dimuliakan. Dia sangat berkenan kepada Putera-Nya dan bersuka-ria di dalam kemuliaan atau hormat yang diberikan kepada PuteraNya. Dia bangga akan Putera-Nya.[3] 
  • Nats ini diakhiri dengan reaksi dari keempat makhluk itu yang berkata: “Amin” dan tua-tua itu jatuh tersungkur dan menyembah (ay. 14).
 Renungan
  • Nats ini menceritakan tentang sebuah gulungan kitab yang menyingkapkan masa depan bumi dan kerajaan Allah.  Tidak ada seorang pun yang layak membukanya dan ini membuat Yohanes sebagai penerima wahyu menjadi sangat sedih (ay. 4), karena tidak ada seorang pun yang bisa mengungkapkan rahasia masa depan bumi dan kerajaan Allah.  Dan itu berarti Yohanes maupun kita semua akan hidup dalam keadaan yang serba tidak menentu, tidak ada jaminan dan pengharapan akan terjadi sesuatu yang baik di masa depan kita.
  • Namun ada ada satu pribadi, membuka gulungan kitab tersebut, yaitu Anak Domba Allah, Yesus Kristus. Dialah satu-satunya yang layak. Sebab Yesus telah membuktikan kemenanganNya dengan darahNya di kayu salib.  Tidak ada kuasa lain yang lebih hebat dariNya.  Anak Domba itu mempunyai 7 tanduk dan 7 mata (ay. 6) yang melambangkan kesempurnaan kemenangan dan kekuasaanNya.  Hal ini berarti jelaslah bahwa Yesus Kristus yang memegang kendali atas sejarah dunia dan umat manusia, bukan iblis dan kejahatan manusia.  Tidak heran jika kemudian keduapuluh empat tua-tua dan empat makhluk, bahkan seluruh malaikat surga dalam ayat 9, 11-14 menyanyikan pujian bagi Kristus.  
  • Jika kebenaran seperti itulah yang kita pegang, maka melalui nyanyian pujian semua makhluk, kita diingatkan untuk memusatkan diri pada pujian dan penyembahan, terus beriman kepada Kristus, bukan kepada yang lain. AMIN.
 

[1] Xavier Leon-Dufour, Ensiklopedi Perjanjian Baru,hlm. 134.
[2] DR. WA Criswell, THE WORTHINESS OF THE LAMB
[3] C. Joe McKnight, Kitab Wahyu

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

HTML