Selamat datang di blog sederhana ini, kiranya menjadi berkat bagi kita semua

Selasa, 01 November 2011

KHOTBAH MINGGU 06 NOP 2011

TUHAN MEMELIHARA ORANG-ORANG BENAR
Ev. Kej 8:18-22
8:18 Lalu keluarlah Nuh bersama-sama dengan anak-anaknya dan isterinya dan isteri anak-anaknya.
8:19 Segala binatang liar, segala binatang melata dan segala burung, semuanya yang bergerak di bumi, masing-masing menurut jenisnya, keluarlah juga dari bahtera itu.
8:20 Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi TUHAN; dari segala binatang yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram diambilnyalah beberapa ekor, lalu ia mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah itu.
8:21 Ketika TUHAN mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah TUHAN dalam hati-Nya: "Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan.
8:22 Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam."

Pengantar
Nats ini menggambarkan situasi setelah Air Bah mulai surut, setelah seratus lima puluh hari melanda seluruh bumi. Dalam ayat sebelumnya dikatakan bahwa air bah mulai melanda pada hari ketujuh belas bulan yang kedua, dan berakhir pada hari ketujuh belas bulan yang ketujuh, ditandai dengan terkandasnya bahtera[1] itu pada pegunungan Ararat (Kej. 7:11;8:4). Namun Nuh dan seisi bahtera belum berani keluar dari dalam bahtera menunggu sampai air benar-benar surut dan bumi menjadi kering. Nuh melepaskan burung gagak dan burung merpati untuk mengetahui keadaan di luar. Hingga pada tahun berikutnya bulan kedua hari ke duapuluh tujuh, barulah Nuh dan keluarganya serta segala binatang yang bersama-sama dengan dia, keluar dari bahtera setelah diperintahkan oleh Tuhan. Jadi jika diasumsikan 1 bulan = 30 hari, maka mereka berada di dalam bahtera selama 371 hari, dengan perincian sbb :
  • Hujan turun selama 40 hari (Kej.7:12), dimulai tanggal 17 bulan dua,
  • Air terus naik selama 110 hari berikutnya (Kej.7:24) = 150, sampai tanggal 17 bulan tujuh,
  • Air kemudian Surut selama 74 hari (Kej.8:5) = 224. Tanggal 1 bulan sepuluh,
  • 40 hari kemudian Nuh melepaskan burung gagak (Kej.8:6-7) = 264 hari, 
  • 7 hari kemudian Nuh melepaskan burung merpati (Kej.8:8) = 271,
  • Nuh melepaskan burung merpati lagi 7 hari kemudian (Kej.8:10) = 278, 
  • Untuk ketiga kalinya Nuh melepaskan burung merpati 7 hari kemudian (Kej.8:12) = 285, 
  • Nuh membuka tingkap bahtera 29 hari kemudian (Kej.8:13) = 314, tanggal 1 bulan pertama
  • Bumi akhirnya kering 57 hari kemudian (Kej.8:14), jadi total  = 371 hari, tanggal 27 bulan kedua.
Kisah dalam nats ini adalah situasi setelah hari ke 371, ketika Tuhan berfirman kepada Nuh : ”Keluarlah dari bahtera itu,…” (8;16).

Penjelasan

Dalam nats ini kita melihat ada tiga hal, yaitu :
  • Bahwa Tuhan pernah menyesal telah menciptakan manusia (Kej. 6:6), dan akibatnya semua manusia yang ada di bumi dimusnahkan lewat air bah yang maha dashaya (kecuali Nuh, istri dan ketiga anak dan menantunya).
  • Menunjukkan bahwa Allah itu penuh kasih, sehingga mengembalikan janji keselamatan itu kepada manusia lewat Nuh.
  • Allah menginginkan agar manusia itu memelihara kembali keutuhan seluruh ciptaanNya.[2]
Diatas telah diceritakan bahwa akhirnya Nuh dan keluarganya serta seluruh binatang yang bersama-sama dengan dia, keluar dari dalam bahtera. Bisa kita bayangkan bagaimana sukacita mereka ketika keluar dari dalam bahtera yang selama satu tahun lebih mereka tinggal di dalamnya tanpa adanya koneksi dengan dunia luar.
Setelah mereka keluar, hal pertama yang dilakukan oleh Nuh adalah mendirikan mezbah bagi Tuhan dan mempersembahkan korban bakaran diatasnya. (Ay. 20). Kemudian kita lihat, setelah Allah mencium bau korban bakaran tersebut dikatakan bahwa Allah menyesali dirinya dan berkata : "Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan” (Ay. 21). Mengapa Allah mengatakan demikian? Tentu saja karena Allah melihat kesungguhan Nuh sehingga hati Allah luluh olehnya.
Nuh mempersembahkan binatang dan burung yang tidak haram kepada Allah, karena dia mengingat kasih setia Allah yang telah menyelamatkan hidup mereka,  mereka diselamatkan dari air bah dan dari keterasingan  (bahtera) dan sekarang mereka dituntun oleh Allah untuk kembali memelihara keutuhan ciptaanNya seperti sebelumnya.
Korban bakaran yang dipersembahkan oleh Nuh telah menjadi dupa yang harum di hadapan Allah yang mempengaruhi pribadi Allah itu sendiri sedikitnya dalam dua hal :
  • Sesuai dengan Amsal 27:9 : “Minyak dan wangi-wangian menyukakan hati, tetapi penderitaan merobek jiwa”, artinya persembahan Nuh, mengingatkan Allah atas penciptaanNya yang pertama, dimana Allah menciptakan manusia itu segambar dengan Dia serupa dengan citraNya.  (Imago Dei)
  • Allah menunjukkan kasih setiaNya kepada seluruh ciptaanNya. Allah juga memberi semangat dan pengharapan baru bagi manusia itu agar mereka kembali memelihara dunia ini dan seluruh isinya.
Jika sebelumnya. manusia itu ingin dihapuskan oleh Allah karena murkaNya (Kej. 6:7), kini setelah Allah menerima persembahan yang menjadi dupa yang harum  dihadapanNya, Allah menunjjukkan pribadiNya yang baru, bukan lagi Allah yang memusnahkan, tetapi menjadi Allah yang menghidupkan melalui kasih setiaNya.
Dalam ay. 21, dikatakan bahwa Allah berjanji dalam hatiNya : "Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan”, itu berarti bahwa Allah telah memperbaharui dunia ini melalui kasih setiaNya. Tetapi di ay. 22, ada janji Allah yang lain yang harus kita perhatikan, yaitu : ”Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam", artinya bahwa janji Allah kepada manusia tidak akan berubah selama bumi masih, tetapi kita juga harus ingat bahwa bumi (dunia) ini tidak kekal dan ada akhirnya, tetapi setelah itu akan ada kehidupan kekal. Sehingga ketika kita sampai kepada masa itu (akhir dunia), kita masih memiliki pengharapan akan kehidupan yang baru yang firdaus yang baru yang kekal untuk selama-lamanya bagi orang yang percaya kepadaNya.

Renungan
  • Kejadian air bah yang terjadi pada zaman Nuh, seharusnya mengingatkan kita bahwa selain Pengasih, Penyabar dan Penyayang, Allah juga bisa murka karena dosa-dosa kita. Oleh karena itu jangan tunggu sampai murka Allah nyata atas kita, kini saatnya untuk bertobat dan kembali memperbaharui hidup kita kepada yang lebih baik. Mari kita hindari murka Allah dengan meninggalkan perbuatan-perbuatan kita yang jahat dan kembali ke jalanNya yang benar.
  • Mari kita lakukan apa yang dkehendaki Allah, a.l : mempersembahkan hidup kita untuk pekerjaan Tuhan, tetap memelihara hukum dan keadilan terhadap sesama manusia dan terhadap seluruh ciptaan, sampai pada kesudahannya bumi ini akan berakhir. AMIN !







[1] Bahtera itu ukurannya 300 hasta panjangnya x 50 hasta lebarnya x 30 hasta tingginya, bahtera itu bertingkat bawah, tengah dan atas. (dengan asumsi 1 hasta = 43,75 cm, ukurannya sama dengan   (l3l ,25 m) x (21,88 m) x (13,13 m).
[2] Pdt. Nelson Siregar, Sth, Impola Jamita HKBP

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

HTML