Selamat datang di blog sederhana ini, kiranya menjadi berkat bagi kita semua

Selasa, 08 Februari 2011

Sermon Epistle Minggu, 13 Feb 2011

TUHAN ITU BESAR, BERKUASA DAN ADIL
Maz. 99 : 1-9
99:1 TUHAN itu Raja, maka bangsa-bangsa gemetar. Ia duduk di atas kerub-kerub, maka bumi goyang.
99:2 TUHAN itu maha besar di Sion, dan Ia tinggi mengatasi segala bangsa.
99:3 Biarlah mereka menyanyikan syukur bagi nama-Mu yang besar dan dahsyat; Kuduslah Ia!
99:4 Raja yang kuat, yang mencintai hukum, Engkaulah yang menegakkan kebenaran; hukum dan keadilan di antara keturunan Yakub, Engkaulah yang melakukannya.
99:5 Tinggikanlah TUHAN, Allah kita, dan sujudlah menyembah kepada tumpuan kaki-Nya! Kuduslah Ia!
99:6 Musa dan Harun di antara imam-imam-Nya, dan Samuel di antara orang-orang yang menyerukan nama-Nya. Mereka berseru kepada TUHAN dan Ia menjawab mereka.
99:7 Dalam tiang awan Ia berbicara kepada mereka; mereka telah berpegang pada peringatan-peringatan-Nya dan ketetapan yang diberikan-Nya kepada mereka.
99:8 TUHAN, Allah kami, Engkau telah menjawab mereka, Engkau Allah yang mengampuni bagi mereka, tetapi yang membalas perbuatan-perbuatan mereka.
99:9 Tinggikanlah TUHAN, Allah kita, dan sujudlah menyembah di hadapan gunung-Nya yang kudus! Sebab kuduslah TUHAN, Allah kita!

Pendahuluan


Kitab Mazmur diambil dari bahasa Ibrani: mizmor atau seringkali dieja sebagai mitsmor. Dalam beberapa bahasa Eropa kitab ini disebut "Psalm" yang diambil dari bahasa Yunani: "Psalmos". Dalam bahasa Melayu kitab ini disebut kitab Zabur, dari bahasa Arab.
Kitab Mazmur adalah bagian dari Alkitab yang merupakan kumpulan mazmur, buku nyanyian dan buku doa. Secara mayoritas kitab berisi mazmur karangan Daud. Para pakar berpendapat bahwa buku ini dikarang oleh berbagai pujangga dalam waktu yang lama sekali.
Sanjak-sanjak keagamaan ini bermacam ragam: ada nyanyian pujian dan ada nyanyian untuk menyembah Tuhan; ada doa mohon pertolongan, perlindungan dan penyelamatan; doa mohon ampun; nyanyian syukur atas berkat Tuhan, permohonan supaya musuh dihukum. Doa-doa ini ada yang bersifat pribadi, ada pula yang bersifat nasional. Beberapa di antaranya menggambarkan perasaan seseorang yang paling dalam, sedangkan lainnya menyatakan kebutuhan dan perasaan seluruh umat Allah.
Mazmur-mazmur dipakai oleh Yesus Kristus, dikutip oleh penulis-penulis Perjanjian Baru, dan menjadi buku ibadat yang sangat dihargai oleh Gereja Kristen sejak semula. Sejumlah Mazmur digubah menjadi nyanyian gereja dan hingga sekarang masih tetap dinyanyikan.
Mazmur 99 ini merupakan madah pujian untuk mengagungkan Tuhan sebagai Raja yang Mahabesar di Sion, Raja yang Mahakudus, dan mengundang umat untuk mengakui kekudusan Tuhan. Ada empat bagian yang kita lihat dalam madah ini yang menunjukkan keberadaan Tuhan sebagai Raja,
-          Tuhan itu Raja yang besar ( Allah itu Raja segala bangsa ) (Ay. 1-3)
-          Tuhan yang menegakkan hukum dan keadilan (hak dan kewajiban diatur dan teratur secara Vertikal dan horizontal), tidak berpihak untuk kepentingan seseorang, di mata hukum semua sama. Pengertian hukum berkaitan dan sinonim dengan kasih, keadilan dan kebenaran. (Ay. 4-5)
-          Tuhan Mendengar dan menjawab doa kita. (Ay. 6-8)
-          Tuhan itu harus ditinggikan sebab Ia Kudus. (ay.9)

Penjelasan

1.      Tuhan itu Raja yang Besar, Dahsyat dan Kudus
Sebuah pengakuan yang sangat berharga dan menentukan dalam hidup kita adalah bahwa Tuhanlah Raja, yang empunya semuanya. Inilah yang diungkapkan pemazmur dalam madah ini. Keberadaan Tuhan sebagai Raja, Penguasa dan Pemilik atas bumi dan langit. Tuhan yang berhak atas segala ciptaan, makhluk yang hidup.Tidak ada tandingan kekuasaan-Nya. Bertitik tolak dari penciptaan, pemeliharaan dan peristiwa-peristiwa terjadi yang dilakukan Tuhan. Kesaksian Alkitab yang dituliskan orang-orang percaya mengungkapkan iman percayanya kepada Allah, bahwa Hakekat Allah yang tidak berawal dan tidak berakhir (Alpha dan Omega).
Dalam konteks pemazmur yang sudah memasuki masa/zaman kerajaan/kekusaaan teritorial, fisik dan sosiologis pada masa PL, istilah Raja muncul untuk kepentingan sosial-ekonomi-politik umat/bangsa Israel terhadap bangsa-bangsa lain. Bentuk pemerintahan Israel pada zaman pemazmur sudah kerajaan, maka ungkapan Raja pun menjadi ungkapan yang teologis diungkapkan kepada Allah. Istilah Raja kepada  Tuhan bukanlah kerajaan secara politis, teritorial tetapi melebihi dari kekuasaan politis, teritorial. Sebab kerajaan Allah bukan dari dunia dan bukan kerajaan yang dibatasi ruang dan waktu. Dialah Raja di atas raja dalam arti mahakuasa yang menentukan segala kehidupan, termasuk bangsa-bangsa. Tempat Allah pun di tempat kemuliaan yang tidak terbandingkan dengan di dunia. Ay. 1-3 : “TUHAN itu Raja, maka bangsa-bangsa gemetar.Ia duduk di atas kerub-kerub, maka bumi goyang.  TUHAN itu maha besar di Sion, dan Ia tinggi mengatasi segala bangsa.  Biarlah mereka menyanyikan syukur bagi nama-Mu yang besar dan dahsyat; Kuduslah Ia!”. Kita (semua bangsa-bangsa) diajak untuk tunduk dan taat secara mutlak kepada pemerintahan Tuhan sebagai Raja, Dialah yang berkuasa atas hidup dan mati kita.Kepadanyalah kita bersandar, memohon/meminta dan berserah diri, kepada-Nyalah kita datang bersyukur, memberi hormat dan kemuliaan melalui tutur kata, perilaku, perbuatan, kerja/karya kita yang menyenangkan hati Tuhan. Dan kita menyambut dengan kekudusan (tidak bercela, tanpa noda, tidak ada dosa, bersih, jujur, tulus, tidak mendua hati) mengakui keberadaan Allah yang tidak ada bandingan-Nya dengan apa dan siapapun. Dialah satu-satunya yang patut kita agungkan, muliakan dengan hati yang tulus, tidak mendua hati sebab Tuhan itu kudus (tanpa cacat, noda, dosa). Menguduskan Tuhan berarti; Mutlak hati kita tertuju kepada Tuhan sebagai Raja yang berkuasa atas hidup kita.Hati kita tidak mendua kepada-Nya.Dialah Tuhan satu-satunya yang patut diagungkan, dimuliakan di dunia ini.

2.      Tuhan itu berkuasa dalam menegakkan hukum dan keadilan
Karena itu semua umat dan bangsa diajak untuk menyanyikan syukur dan mengaku kuduslah Allah itu. Allah yang layak menerima pujian syukur dari umat dan bangsa Israel.Allah itu diakui sebagai Raja yang kuat, yang mencintai hukum karena sifat Allah cinta hukum. Allah itu benar dan adil dan disambut umat dengan kuduslah Ia. Oleh karena itu semua bangsa-bangsa, umat percaya diajak untuk sujud dan menyembahnya; Kita menyembah dan sujud kepada Allah melalui perkataan dan perbuatan kita sehari-hari. Dan Hidup kita menjadi nyanyian syukur kepada Allah atas segala perbuatan Allah yang  besar bagi dunia, dan kita. Hidup kita menjadi nada-nada keindahan bagi Tuhan, segala tutur kata, perbuatan baik kita menjadi kesukaan-Nya. Kita diajak meninggikan Tuhan melalui segala aspek kehidupan kita, hidup dalam kebenaran, kasih dan keadilan yang bersumber dari Tuhan.
Hidup kita yang benar, lurus, serasi, tertib, teratur dengan Tuhan dan sesama manusia, dalam bahasa sehari-hari tidak neko-neko. Dalam segala bidang kehidupan, apapun fungsi kita, jawatan, pekerjaan kita, sebagai atasan atau bawahan, disitu kita meninggikan Tuhan, sujud dan menyembahnya dalam praktek hidup sehari-hari bukan dalam bentuk ritual saja.Apabila kita melakukan tugas dan tanggung jawab kita masing-masing sesuai dengan kehendak Allah itulah bentuk nyanyian syukur kita. Raja yang kuat, yang mencintai hukum, Engkaulah yang menegakkan kebenaran; hukum dan keadilan di antara keturunan Yakub,...... (ay. 4-5).

3.      Berserulah kepada-Nya dan Ia akan menjawab
Allah yang kita tinggikan dan bersujud kepada-Nya adalah Allah yang berpihak kepada yang dikasihinya. Allah menunjukkan kasih karunia-Nya, menyertai umatnya dengan 2 tanda di perjalanan dari Mesir ke Kanaan; Tiang awan pada siang  dan tiang api pada malam hari. Gambaran kasih Allah yang tidak dibatasi ruang dan waktu.Siang dan malam Allah hadir dalam tindakan penyertaan-Nya, sehingga anak-anak Tuhan tidak pernah merasa jauh dari Tuhan.Tanda itulah menjadi jaminan penyertaan yang membuat umat-Nya tidak usah takut dan gentar. Tuhan Allah stand by untuk mencukupkan segala keperluan umat yang dikasihi-Nya.
Dan hingga sekarangpun janji Allah tetap berlaku, janji itu tidak sebatas perjanjian lama atau hanya kepada orang-orang tertentu menurut ukuran manusia. Setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam nama Tuhan, Allah menjawab. Jawaban yang tepat sesuai dengan waktu Tuhan, dan dengan rancangan Tuhan. Kita berseru dengan segala pengakuan yang tulus dan jujur akan kesalahan-kesalahan yang kita lakukan sehingga Allah mau mendengar seruan kita. Allah mau mengampuni setiap pelanggaran kita, memulihkan kita dan mengembalikan pengharapan kita.Hal itu telah dinyatakan di dalam diri Anak-Nya Tuhan Yesus Kristus. Dialah penggenapan janji Allah yang paling berharga bagi dunia dan manusia (Yoh.3: 16). Dialah jawaban atas segala rencana Allah bagi dunia, bagi kita dan jawaban Tuhan indah pada waktunya. Dialah yang membalaskan segala perbuatan-perbuatan kita selama kita hidup di dunia ini baik atau jahat  (Pengk. 12: 14). Di dalam Dia juga ada pengampunan, karena Allah pengasih dan pengampun bagi setiap orang yang mau datang dan percaya kepada-Nya.
Kita belajar bahwa kunci keberhasilan setiap tokoh-tokoh beriman dalam Alkitab ditunjukkan karena keterikatan/hubungan yang mutlak kepada Allah.Keterikan yang mutlak, sepenuhnya bersandar kepada Tuhan membuat segala sesuatunya terjawab. Mempercayakan hidup kita sepenuhnya kepada Allah itulah kunci jawaban atas doa dan permohonan kita ( Ams. 3:5-7). ( Musa dan Harun di antara imam-imam-Nya, dan Samuel di antara orang-orang yang menyerukan nama-Nya. Mereka berseru kepada TUHAN dan Ia menjawab mereka. Dalam tiang awan Ia berbicara kepada mereka; mereka telah berpegang pada peringatan-peringatan-Nya dan ketetapan yang diberikan-Nya kepada mereka....ayat 6-8).

4.      Tinggikan dan sujudlah kepada-Nya
Sebuah Undangan yang sangat berharga untuk tugas mulia, sebagai jawaban atas pengakuan iman percaya kita kepada Allah. Kita merasa dihargai, dihormati apabila kita diundang oleh orang lain ambil bagian dalam sukacitanya. Demikian juga Firman Tuhan mengajak kita, kita diundang untuk ambil bagian dalam sukacita-Nya.Kita jangan mengambil hak Allah, kemuliaan dan hormat adalah hak Allah. Kita diundang untuk mengembalikan segala hormat dan pujian kepada Allah, Sebab Dialah yang berkuasa, menentukan hidup kita dan masa depan kita. Allah yang berhak ditinggikan, diagungkan, dimuliakan.Meninggikan Tuhan dengan segala aspek kehidupan dan segala praktik hidup orang percaya, tanpa membedakan yang rohani dan jasmani.
Semua aspek kehidupan, budaya manusia tertuju kepada apa yang dikehendaki Allah menjadi alat/instrumen yang menjadi kemuliaan Allah. Menghadirkan kerajaan Allah (damai sejahtera, kasih dan keadilan) di tengah-tengah dunia itulah meninggikan Tuhan. Melalui praktik hidup sehari-hari orang beriman tercermin membawa kesejukan, ketenangan bagi sesama, lingkungan masyarakat sekitar. Hidup kita ada di tangan Allah, hidup kita pemberian Allah, hidup kita adalah ibadah bagi Allah, hidup kita adalah bahagian dari rencana Allah untuk alam, manusia (sesama). Hidup kita bukan hanya untuk diri kita sendiri (Flp. 2:4).
Meninggikan bukan ukaran matematika, tetapi kualitas hidup yang berarti, berguna, bermakna bagi Tuhan melalui karya, perbuatan kita terhadap alam ciptaan dan sesama manusia yang berorientasi kepada kehendak Allah. Hidup yang berarti itu membangun persekutuan, pelayanan dan kesaksian  di tengah-tengah keluarga, gereja dan masyarakat. Persekutuan yang dibangun di dalam kasih, persaudaraan, kebersamaan, keperdulian dalam keluarga (suami-isteri dan anak-anak), juga dalam gereja; keutuhan, kebersamaan dan keperdulian terhadap mereka yang lemah, kurang dalam sosial-ekonomi, dalam pendidikan dan kesehatan.Terhadap masyarakat sekitar, lingkungan masyarakat yang berbeda suku dan agama, supaya kita menjadi kesukaan banyak orang. Hubungan vertikal kita dengan Tuhan mungkin erat, Ritual ibadah kita rajin, tetapi kehidupan aspek sosiologis (bertetangga, bermasyarakat) mungkin masih dipertanyakan, apakah juga sejalan dengan firman Tuhan?. Siapa tahu kita kurang pas menempatkan diri di tengah-tengah kemajemukan suku dan agama, mungkin ada hal-hal yang membuat kecemburuan sosial, atau mungkin ada praduga/prasangka arogansi, kesombongan budaya kita (melalui tatacara kehidupan kita) yang tidak bersahabat dan tidak santun bagi sekitar.
Mungkin tanpa kita sadari merasa raja-raja dari Tapanuli/Toba sana, sehingga mau ”mangarajai” karena mungkin kita sudah memiliki ini dan itu di mana kita tinggal sebagai perantau membuat iri atau cemburu sosial. Setiap yang terjadi bagi kita umat percaya (atau HKBP) Instrospeksi, perenungan, yang juga memikirkan ulang bagaimana kita sujud dan menyembah Tuhan dalam aspek sosiologis sehingga orang lain (terutama yang berbeda agama) tidak merasa terganggu bahkan menganggap musuh, mengundang kebencian. Hal ini sebagai refleksi kehidupan orang yang sujud dan menyembah Tuhan dalam hidup kita. Tinggikanlah TUHAN, Allah kita, dan sujudlah menyembah di hadapan gunung-Nya yang kudus! Sebab kuduslah TUHAN, Allah kita!  Amin

Penutup
Tuhan diyakini dan dipuji sebagai sebagai Raja yang Mahabesar yang menguasai segala bangsa, yang mencintai hukum dan keadilan, yang menjawab seruan permohonan dan mau mengampuni, dan yang nyata kekudusanNya. Kepada Tuhan yang demikian, pemazmur mengajak umat untuk memuji Tuhan, meninggikan Tuhan dan menyembahNya. Namun tidak cukup hanya di situ, meninggikan Tuhan dan menyembah Tuhan memang sepertinya terkesan abstrak, karena itu pemazmur menjelaskan lebih lanjut bagaimana caranya meninggikan dan menyembah Tuhan. Pemazmur menyebutkan nama para pendahulunya seperti Musa, Harun dan Samuel sebagai orang-orang yang berseru kepada Tuhan dan berpegang pada peringatan-peringatanNya. Mereka terbukti menjadi orang yang selalu berdoa bagi bangsa yang dipimpinNya dan menjaga firman Tuhan tetap hidup dalam diri mereka sebagai para pemimpin bangsa. Mereka ini menjadi teladan bagaimana seseorang dapat menyatakan kebesaran dan kekudusan Tuhan, yaitu dengan cara hidup berpegang pada hukum/firman Tuhan. Renungan hari ini mengingatkan kita bahwa terkadang memang tidak sulit untuk mengakui kebesaran dan kekudusan Tuhan, kita dapat setuju dan mengaminkan dalam pikiran dan perkataan. Namun ternyata pengakuan itu tidak sejalan dengan cara hidup kita yang tidak kudus dan tidak membesarkan nama Tuhan. Tidak cukup hanya dengan mulut yang mengucap syukur, atau dengan kata-kata semata, melainkan dengan seluruh hidup kita yang mau berpegang pada firman Tuhan. Hanya dengan hidup seperti Kristus, kita mengakui bahwa Allah itu kudus dan Mahabesar. Apalah arti sebuah pengakuan yang tidak dibarengi dengan dalam keseharian. Mari menyeimbangkan dan saling menguatkan di antara keduanya: pernyataan dan penyataan. AMIN.
Ditulis kembali dari sumber khotbah : Pdt David F. Sibuea,M.Th.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

HTML