Selamat datang di blog sederhana ini, kiranya menjadi berkat bagi kita semua

Jumat, 04 Februari 2011

KHOTBAH MINGGU IV EPHIPANIAS, Minggu 06 Feb 2011


HIDUP DALAM IMAN
Ev. Matius 8 : 5-13
8:5. Ketika YESUS masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya:
8:6 "Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita."
8:7 YESUS berkata kepadanya: "Aku akan datang menyembuhkannya."
8:8 Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.
8:9 Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya."
8:10 Setelah YESUS mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel.
8:11 Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga,
8:12 sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi."
8:13 Lalu YESUS berkata kepada perwira itu: "Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya." Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya.

Pengantar

Kisah tentang Perwira ini dapat juga kita baca dalam Injil Lukas 7 : 1-10. Ayat-ayat ini berisi beberapa ajaran dari Yesus yang sangat penting untuk mengungkapkan makna iman serta Pribadi Yesus. Sangatlah penting untuk kita memahami dengan tepat apa arti "iman", dan juga memahami dengan lebih mendalam siapa itu Yesus di dalam kemuliaan dan kuasa-Nya. Ajaran tentang iman dan Pribadi Yesus adalah ajaran yang sama dan tunggal. Keduanya tidak dapat dipisahkan.
Hal yang dicatat di ayat-ayat ini terjadi di sebuah tempat di Israel yang disebut Kapernaum, di bagian utara Danau Galilea. Kita diberitahu tentang seorang perwira Roma yang memimpin 100 prajurit (centurion yang berarti komandan 100 prajurit, pent.). Perwira atau centurion adalah orang yang sangat penting di dalam angkatan perang Roma; mereka adalah tulang punggung pasukan Roma.
Ada pernyataan Yesus dalam ay. 10 yang berkata : "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel”. Pernyataan ini menunjuk kepada seorang Perwira Roma (bukan Yahudi) dan dinyatakan kepada orang-orang Yahudi. Pertanyaan kita adalah, ada apa dengan perwira Roma imannya sehingga Yesus sampai mengeluarkan ucapan seperti itu?
Setelah kita membaca keseluruhan nats ini kita menemukan bahwa Perwiran Roma ini memiliki iman untuk percaya bahwa Yesus dapat menyembuhkan pelayannya hanya dengan perkataan. Perwira itu berkata, "Katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh." Ya, memang ada ungkapan iman yang sangat nyata di sini. Akan tetapi bukan dia saja yang percaya bahwa Yesus dapat menyembuhkan dengan kata-kata.
Lalu, mengapa sampai Yesus berkata bahwa imannya tidak pernah ditemukan-Nya, sekalipun di antara orang Israel? Orang Israel diajarkan tentang firman Allah sejak masa kanak-kanak mereka, dan ini sudah berlaku dari generasi ke generasi. Jika Anda ingin menemukan iman, tentunya Anda berharap untuk menemukannya di tengah bangsa Israel. Anda tidak berharap untuk menemukannya di tengah bangsa asing yang tidak pernah diajarkan tentang Allah. Akan tetapi, Yesus mendapati di dalam diri orang asing yang satu ini, jenis iman yang tidak Dia temui di tengah kalangan orang Israel. Jadi, sangatlah penting bagi kita untuk mengetahui iman semacam apa yang dimiliki orang ini. Ini akan membantu kita untuk melihat apakah kita juga memiliki iman seperti itu.  

Penjelasan

Setelah membaca nats ini, kita perlu selidiki apa yang membuat iman seorang perwira Roma ini sepertinya  luar biasa?
-          Perwira Roma ini adalah seorang asing, namun hal yang luar biasa tentang dirinya adalah ia sangat peduli dengan hambanya. Budak bukanlah orang yang istimewa di zaman itu. Jika Anda punya uang maka Anda bisa membeli budak seperti membeli mobil. Tetapi kita bisa melihat bagaimana usaha perwira ini untuk memohon kesembuhan bagai hamba/budaknya. Dari sini kita sudah melihat ada sesuatu di dalam kepribadiannya. Dia adalah orang yang sangat pengasih.
-          Tidak banyak orang Yahudi yang mempercayai Yesus, akan tetapi orang asing ini tidak takut untuk mengakui kepercayaannya pada Yesus di depan orang Yahudi. Dia meminta teman-teman Yahudinya yang kebanyakannya mungkin tidak percaya pada Yesus, dan berkata, "Tolong! Maukah kalian pergi kepada Yesus mewakiliku, dan mengatakan pada-Nya bahwa hambaku sedang sakit? Aku percaya bahwa Dia memiliki kuasa untuk menyembuhkan hambaku." (Luk 7:3).
-          Mengapa perwira ini tidak datang sendiri? Dia berkata, "Aku tidak layak untuk memanggil-Mu datang." Apa maksudnya tidak layak? Padahal dia adalah seorang perwira yang kedudukannya cukup tinggi. Apa sebabnya rumahnya tidak layak untuk didatangi oleh seorang Yahudi? Orang Yahudi macam apa yang membuatnya merasa tidak layak untuk dikunjungi? Setiap orang Yahudi adalah jajahan dari orang Roma. Dia adalah orang Roma dan orang-orang Yahudi itu adalah bangsa jajahan. Jadi, hal apakah yang dilihat oleh perwira ini di dalam diri Yesus sehingga dia berkata, "Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku"?. Perwira ini memiliki kerendahan hati.
-          Lalu terjadilah percakapan yang luar biasa ini. Dia menjelaskan apa yang telah disaksikannya di dalam diri Yesus. Dia berkata, "Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya..." Perwira ini adalah orang yang terbiasa berurusan dengan kewenangan dan sangat terbiasa memberi perintah. Perwira ini mengerti bahwa perkataan Yesus memiliki kuasa.

Kesimpulan

Dari iman sang perwira, kita mempelajari :
1.      Iman yang penuh kasih bukan iman yang egois akan kepentingan sendiri.
Perwira di Kapernaum tersebut tidak memohon kepada YESUS untuk kepentingannya sendiri namun untuk kepentingan orang lain bahkan dinyatakan kepentingan "hamba", yang sebenarnya merupakan orang2 yang seringkali dilupakan/terlupakan keberadaannya.
Adakah orang Kristen ketika pembantu rumah tangganya sakit, berdoa minta kesembuhan bagi pembantunya?
2.      Iman yang rendah hati (menganggap diri tidak layak)
Perwira itu menganggap diri tidak layak menerima Tuhan di rumahnya, walaupun Tuhan YESUS sendiri yang sudah melayakkan dia dengan mau berkunjung ke rumahnya untuk menyembuhkan hambanya.
Iman yang rendah hati ini patut ditiru. Sering kali, kita sebagai orang Kristen menganggap diri kita layak dihadapan Tuhan, namun tindakan kita justru tidak layak.
Sadar diri atas ketidaklayakan kita akan menuntun kepada iman yang rendah hati.
3.      Iman yang benar-benar percaya (bergantung dan berserah diri)
Perwira di Kapernaum itu benar percaya walau YESUS tidak datang berkunjung ke rumahnya untuk menyembuhkan hambanya, melalui hanya perkataan YESUS saja maka hambanya akan sembuh.
Adakah orang Kristen di sini yang percaya bahwa dokter tidak usah memeriksa dan tidak usah melihat dirinya sakit tapi hanya perlu buka resep obat dan percaya dirinya akan sembuh atas resep tersebut? Tentu tidak ada, itu kebodohan.
Namun dari kebodohan tersebut, kita melihat betapa besar iman perwira tersebut. Orang dunia melihat iman itu bodoh, namun jika Anda memiliki iman yang bodoh itu yakni iman yang benar-benar percaya (bergantung dan berserah diri) pada Tuhan, maka Anda sudah mendekati iman yang besar itu.
4.      Iman yang melakukan apa yang diperintahkan ibarat melakukan perintah dari tuan atau atasan. (Iman seorang hamba)
Iman seperti ini adalah iman yang tidak akan mempertanyakan perintah tuan/atasannya dan juga tidak akan menolak/menentang perintah tuan/atasannya, apalagi berdalih untuk tidak berbuat. Jika banyak orang Kristen yang berdalih membenarkan diri untuk tidak melakukan perintah Tuhan, maka dirinya akan jauh dari iman yang seperti itu.

Jika keempat hal tersebut ada pada kita,  maka kita akan memiliki  iman yang hidup dan kita hidup oleh iman, sebagaimana dikatakan dalam Rom 1 : 17 :”Orang benar akan hidup oleh Iman”. Amin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

HTML