Selamat datang di blog sederhana ini, kiranya menjadi berkat bagi kita semua

Rabu, 23 Februari 2011

Sermon Epistel Minggu Sexagesima, 27 Feb 2011


PERCAYALAH, JANGAN KERASKAN HATIMU

Ep. Ibrani 3 : 15-19
3:15 Tetapi apabila pernah dikatakan: "Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman",
3:16 siapakah mereka yang membangkitkan amarah Allah, sekalipun mereka mendengar suara-Nya? Bukankah mereka semua yang keluar dari Mesir di bawah pimpinan Musa?
3:17 Dan siapakah yang Ia murkai empat puluh tahun lamanya? Bukankah mereka yang berbuat dosa dan yang mayatnya bergelimpangan di padang gurun?
3:18 Dan siapakah yang telah Ia sumpahi, bahwa mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Nya? Bukankah mereka yang tidak taat?
3:19 Demikianlah kita lihat, bahwa mereka tidak dapat masuk oleh karena ketidakpercayaan mereka

Pengantar

Dari sekitar 600.000 orang bangsa Israel yang keluar dari Mesir, hanya 2 orang diantaranya yang boleh sampai ke tanah perjanjian yaitu Josua dan Kaleb, Mengapa?
Selama 40 tahun mereka dalam perjalanan, banyak hal yang dilakukan oleh Tuhan untuk menolong mereka, namun seringkali mereka lupa akan hal itu. Mereka cenderung mengeraskan hatinya terhadap perintah Tuhan.
Itulah sebabnya surat Ibrani ini memberi contoh bagaimana orang Israel sebagai orang yang keras hati,  akhirnya harus mati di padang gurun dan tidak bisa masuk ke tanah perjanjian sebagai akibat dari kekerasan hati mereka.

Penjelasan

Nats ini mengajar kita untuk mau membuka hati terhadap pertobatan, setelah sekian lama kita mendengar firman Allah maka seharusnya kita sudah mengerti keinginan Allah dalam kehidupan kita. Jika belum maka kita tremasuk orang yang mengeraskan hati.
Bagaimanan orang yang mengeraskan hati :
-            Selalu Menolak Firman Allah.
Yeh. 33 : 11 berkata : “Sesungguhnya Allah tidak berkenan pada kematian orang fasik. Ia
menghendaki agar semua manusia bertobat dan diselamatkan”.
Mulanya, neraka dibuat oleh Allah untuk para malaikat yang berbuat dosa. Allah tidak menghendaki ada manusia yang masuk kedalamnya. Itu sebabnya, dengan segala usaha dan kasihNya, Ia berusaha menyelamatkan manusia. Tetapi kalau manusia terus mengeraskan hati, dan tidak mau mendengar Firman Allah, akhirnya Tuhan juga yang mengeraskan hatinya, sehingga manusia tidak dapat selamat. Allah adalah Allah yang penuh kasih. Tetapi Allah juga mempunyai batas kesabaran. Oleh sebab itu, jangan anggap ringan FirmanNya.
-            Tidak Mengerti.
Ketika melihat dan mengalami mujizat dalam perjalanan bangsa Israel keluar dari Mesir, namun mereka tidak mengerti akan keinginan dan maksud Tuhan. Banyak anak Tuhan yang telah mengalami pertolongan Tuhan,tetapi malah bingung. Seperti murid-murid, mereka melihat, bahkan mengalami sendiri mujizat secara jasmani, tetapi tidak dapat mengerti arti rohaninya. Di balik berkat jasmani yang Tuhan berikan, ada arti rohani yang harus kita mengerti.
-            Tetap Mau Melakukan Kehendak Sendiri.
Ketika orang-orang Isarel dipimpin oleh Musa, dan lewat Musa mereka mendengar perintah Tuhan, tetapi mereka tetap saja berbuat semaunya, melakukan kehendak mereka sendiri. Tuhan sudah memberi manna, mereka tetap bersungut-sungut, Dalam perjalanan mereka juga masih mau menyembah patung. Kita pun seperti itu, walaupun kita sudah sering mendengar firman bahwa Tuhan sanggup melakukan segala perkara, namun kita tetap berbuat sesuai dengan keinginan dan kehendak hati kita sendiri. Dan kadang-kadang kita paksa Tuhan untuk mengikuti kehendak kita, padahal Yesus sendiri berkata “Bukanlah kehendakKu, tetapi kehendakMulah yang jadi”.

Renungan

Melalui contoh kehidupan orang Isarel dalam ayat diatas jelas sekali bahwa Tuhan  telah memberikan perintah-perintahNya lewat Musa, namun mereka seringkali tidak mendengarnya, Tuhan dengan sabar mengikuti dan memenuhi keinginan mereka dengan maksud agar mereka mau berubah. Dan mengapa mereka menempuh waktu perjalanan yang amat lama sampai 40 tahun? Itu karena mereka mengeraskan hati, sdan Tuhan ingin memberi mereka waktu dan kesempatan untuk berubah.  Tetapi ternyata mereka tidak berubah, Tuhan juga memiliki batas kesabaran, dan oleh karena tetap mengeraskan hati maka satu generasi dari mereka tidak keluar dari sana.

Lalu bagaimana dengan kita?
Kehidupan kekristenan kita juga sedang ada dalam sebuah perjalanan rohani menuju tanah kanaan rohani yaitu Yerusalem baru? Oleh sebab itu mari kita jangan mengeraskan hati karena Tuhan boleh saja membawa kita melalui padang gurun kehidupan agar kita menjadi tahan uji, tekun dan berpengharapan. Percayalah, selagi kita mengeraskan hati maka kita tidak akan keluar dari sana. Kita akan terus hidup di dalamnya sampai kita melembutkan hati. Dan jika kita tidak mau juga melembutkan hati maka seumur hidup kita akan berada didalamnya sama seperti orang Israel yang seumur hidup mereka berada dan mati di padang Gurun. Kita harus percaya bahwa Allah sanggup mengeluarkan kita dari keterpurukan dan mengangkat kita masuk kedalam kerajaanNya.
Oleh karena itu Ay. 19 jelas berkata “Demikianlah kita lihat, bahwa mereka tidak dapat masuk oleh karena ketidakpercayaan mereka”. AMIN




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

HTML