Selamat datang di blog sederhana ini, kiranya menjadi berkat bagi kita semua

Rabu, 01 Desember 2010

DESEMBER & NATAL DI WAKTU KECIL

Setiap memasuki bulan Desember, ingatan ku selalu kembali ke masa kecil ku di sebuah kampung kecil yang 100 % penduduknya beragama Kristen dimana setiap keluarga disibukkan dengan persiapan-persiapan Natal.
Dalam keterbatasan ekonomi penduduknya yang mayoritas petani, semua orang tua berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya agar bisa tampil dengan bangga di saat Natal. Masing-masing tidak mau ketinggalan dengan  yang lain. Walaupun harus jual beras untuk beli baju baru untuk anaknya, tetapi dilakukan dengan sukacita untuk menyambut Natal.
Memang tradisi Natal sangat kental bagi masyarakat Kristen di pedesaan seperti itu. Sebagai anak sekolah minggu, kita hanya mengharapkan adanya baju baru di saat Natal itu. Jarang sekali kita dibelikan baju baru di waktu-waktu yang lain selain menjelang Natal. Iming-iming baju baru itu membuat kita sangat bersemangat untuk “manguji”. Bahkan kita tidak sabar menunggu hari itu tiba, setiap hari menghapalkan “sipajojoron” dengan bersemangat. Kadang-kadang jika bertemu dengan namboru, tulang atau ompung, selalu saja kita ditantang untuk mengucapkan “sipajojoron” kita di hadapan mereka dengan iming-iming hadiah uang atau apalah dan sebagai anak kecil kita berlomba-lomba untuk mengucapkannya dengan Intonasi dan tekanan suara yang keras supaya dianggap lebih bagus. Makna “sipajojoron” itu tidaklah terlalu penting, jika bisa diucapkan dengan lancar, suara keras dan jelas, itulah yang terbaik.
Pada hari “H”, ketika malam akan natal tiba, kita sudah sibuk mulai pagi mempersiapkan segala sesuatu, merapikan baju natal, dll. Seakan tidak sabar menunggu “giring-giring” berbunyi menandakan bahwa kita sudah harus bersiap-siap ke gereja. Adalah sangat mengesalkan apabila ketika “giring-giring” berbunyi, orang tua kita belum pulang dari “hauma” dan belum mempersiapkan baju “baru” untuk kita pakai. Bahkan karena tidak sabar, tidak jarang kita menyusul ke “hauma” memanggil Bapak-Ibu untuk segera pulang, “Bapa, Oma….nunga manghuling giring-giring, hatop ma hamu mulak !”. Seringkali kita menangis jika melihat teman yang sudah siap dengan “pakaian kebanggaannya”, sementara kita belum bersiap apa-apa. Biasanya setelah siap untuk berangkat ke gereja, kita masih harus “ujicoba” atau “gladi resik” untuk menguji kemampuan kita melafalkan aayat-aayat dengan berdiri di depan cermin dan bergaya seakan-akan kita di depan altar gereja.
Ketika Malam Natal menjelang, semuanya sudah berkumpul di gereja, masing-masing seakan memamerkan model “baju baru” dan membandingkannya satu dengan yang lain. Ada yang bangga karena merasa paling bagus, ada yang minder karena merasa bajunya kurang bagus dibanding temannya,  Ada yang bajunya kebesaran (orang tua sengaja membeli Size lebih besar, supaya bisa dipakai sampai tahun berikutnya). Tidak ketinggalan, orang-orang tua juga membanding-bandingkan baju anaknya dengan anak yang lain.
Bagi orang tua, adalah suatu kebanggaan bila anaknya mampu melafalkan “sipajojoron” nya dengan lancar, sebaliknya orang tua akan sangat malu bila anaknya tidak hafal ayatnya atau lupa atau dilafalkan dengan salah atau anaknya tidak berani untuk tampil ke depan altar (padahal di rumah sudah sangat hafal dan lancar). Tidak jarang orang tua mencubit anaknya jika salah atau tidak mau tampil ke depan. Memang, penampilan kita waktu di rumah tidak selalu sama ketika tampil di depan altar dengan pandangan ratusan mata orang tua dan para jemaat yang menyaksikan. Rasa percaya diri anak amat sangat menentukan penampilannya di depan altar.
Akhirnya, Ibadah Malam Natal pun ditutup, masing-masing pulang ke rumah dengan berbagai perasaan yang berkecamuk, ada yang bangga dan sukacita, ada yang kesal, bahkan ada anak yang menangis karena dimarahin terus oleh ibunya, baju baru pun sudah kusut, tidak peduli lagi apakah pakaian “baju baru” kita masih rapi atau tidak, mungkin ada yang sudah kotor belepotan.
Yang jelas Moment penting itu sudah berakhir, di rumah sudah menunggu “gaba-gaba” yang terbuat dari daun/ranting pohon “anturmangan” yang disusun dan ditancapkan ke sebuah batang pisang dilengkapi dengan lilin-lilin yang diletakkan diatas batang “sanggar” dan “arung”.
Mungkin ada diantara keluarga yang menyediakan hidangan istimewa dan menyantapnya bersama-sama, tetapi ada juga pulang ke rumah langsung tidur dan terlelap dan bermimpi agar Natal tahun berikutnya segera tiba.

Kamus :
Manguji. Latihan Natal
Sipajojoron, ayat hapalan untuk diucapkan pada saat Natal secara berurutan
Giring-giring, lonceng gereja
Hauma, sawah
Gaba-baga, pohon natal
Anturmangan, sej pohon cemara yang bergetah banyak.
Sanggar, sej rumput pimping
Arung, sej rumput bambu yang berbuku dan berlubang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

HTML