Selamat datang di blog sederhana ini, kiranya menjadi berkat bagi kita semua

Kamis, 30 September 2010

Bahan Khotbah Minggu 3 Oktober 2010

Hai Istri tunduklah kepada Suamimu
Hai Suami, Kasihilah Istrimu


Nats : Efesus 5:22-33

5:22 Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan,
5:23 karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.
5:24 Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.
5:25 Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya
5:26 untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman,
5:27 supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.
5:28 Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri.
5:29 Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat,
5:30 karena kita adalah anggota tubuh-Nya.
5:31 Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.
5:32 Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.
5:33 Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya


PENDAHULUAN

Pernikahan bukanlah sekedar lembaga perkawinan, apalagi kalau dianggap bahwa munculnya suami-isteri / keluarga hanyalah sekedar bakat naluriah yang terjadi di dunia manusia, sama seperti binatang yang berpasangan hanya untuk prokreasi / punya anak. Kita sering tidak mau mengerti pernikahan dari sudut Pencipta pernikahan itu sendiri dan selama manusia tidak mau taat pada Tuhan, manusia tidak pernah mengerti.

Paulus membukakan satu prinsip yang begitu agung tentang pernikahan, “Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga  keduanya itu menjadi satu daging.” (ay.31).

KETERANGAN

Kalau kita membaca Efesus 5 mulai dari ayat ke 22, kita akan dihadapkan kepada polemik-polemik. Kita tidak pernah mengerti bahwa pernikahan sesungguhnya adalah hubungan antara Kristus dengan jemaat dan itu berarti, pernikahan bukanlah sekedar adanya perasaan cinta di antara seorang laki-laki dengan perempuan. Pernikahan adalah satu representatif/ perwakilan dari hubungan Kristus dengan jemaat, sehingga di saat kita dengan isteri kita maju ke depan altar, itu berarti kita sedang mewakili Kristus dengan jemaat dan hubungan antara Kristus dengan jemaat itu harus di tonjolkan/ dinyatakan melalui kehidupan pernikahan. Oleh karena itu, orang seharusnya dapat melihat hubungan antara Kristus dengan jemaat lewat pernikahan. Namun yang sungguh disayangkan adalah kalau orang Kristen ketika menikah tidak mengetahui konsep ini. Akibatnya, begitu banyak orang Kristen yang ketika masuk dalam pernikahan tidak mengerti mengapa pernikahan harus sedemikian uniknya dan mengapa gereja / kekristenan begitu serius mengurus pernikahan karena memang di dalamnya bukan sekedar pernikahan melainkan ada representasi antara Kristus dengan jemaat. Jikalau menikah menggambarkan representasi Kristus dan jemaat, maka apakah yang harus dimunculkan di dalam pernikahan Kristen?

1.      Pernikahan harus bersifat agung dan sakral karena pernikahan merupakan suatu relasi yang bersifat spiritual. Isteri taat mutlak kepada suami seperti jemaat taat mutlak kepada Kristus dan suami mengasihi isteri seperti Kristus mengasihi jemaat. (ay.22-25)
Keagungan pernikahan harus dimulai dari sejak pertama kali kita menikah dan dijaga di dalam perjalanan pernikahan. Kita tidak boleh membiarkan pencemaran terjadi di dalam pernikahan kita. Kenyataannya, kita sering tidak mengerti hal ini sehingga seringkali “Keagungan Pernikahan” (the glorious married)  digantikan dengan “Kemewahan Pernikahan” (the glamour married). Banyak pernikahan yang terlalu mewah tetapi tidak terdapat keagungan di dalamnya. Pernikahan tidak tergantung dari berapa mewahnya tetapi betapa agungnya. Agung dan mewah merupakan dua hal yang berbeda.
Kita sering menghadiri pesta pernikahan yang dirayakan secara besar-besaran dan mewah dengan menampilkan hiburan artis-srtis top dan makanan-makanan mewah, sehingga para undangan terfokus kepada hiburan dan makanan tersebut dan bahkan sering mengacuhkan mempelai yang seharusnya menjadi fokus perhatian. Dalam adat Batak misalnya, proses adat seringkali jauh lebih diperhatikan daripada keberadaan mempelai. Dalam keadaan tersebut seluruh acara itu sangat menghina mereka yang menikah seolah-olah mereka hanya hiasan di depan saja.
Prinsip pertama dalam pernikahan adalah bahwa ibadah pernikahan haruslah sungguh-sungguh agung, dijaga dan dipelihara. Seluruh jalan­nya acara harus dijaga agar orang yang datang dapat melihat keagungan pernikahan itu.
Kita berada di dalam tantangan dunia yang besar. Bagaimana kita mau membangun pernikahan yang agung jikalau kita sudah memulainya tanpa keagungan? Jikalau kita sudah melecehkan pernikahan kita sendiri maka kita tidak mungkin dapat membangunnya dengan baik. Bukan mengatakan bahwa adat/pesta pernikahan tidak penting, tetapi yang lebih penting adalah sakralitas dari pernikahan itu sendiri.

2.      Pernikahan juga mengandung aspek pertanggung-jawaban dari kita sebagai duta besar Allah di dalam dunia ini. Jikalau dunia ingin melihat mengenai bagaimana Allah kita, mereka seharusnya dapat melihatnya dari hubungan suami-isteri orang Kristen. Seorang anak yang mau melihat siapa Allahnya seharusnya dapat melihatnya dari hubungan orang tuanya. Melalui hubungan suami-isterilah dunia dapat melihat secara konkrit hubungan antara Kristus dan jemaat. Jikalau kita gagal merepresentasikan hubungan ini maka yang rusak bukan hanya kita melainkan nama Kristus dan jemaat.
Jikalau banyak orang Kristen yang menikah dan kemudian bercerai maka statistik akan berbunyi bahwa banyak pernikahan Kristen yang pada akhirnya hancur, sehingga hal itu menunjukkan bahwa moralitas Kristen tidak baik.
Oleh karena itu pernikahan Kristen haruslah merupakan sesuatu yang di­perjuang­kan baik-baik, dengan takut dan gentar. Ini tidak terjadi secara otomatis. Banyak suami-isteri yang merasa pernikahan mereka lambat laun menjadi begitu membosankan dan serasa hanya berputar-putar, karena mereka sebenarnya tidak tahu apakah itu tujuan pernikahan. Jikalau mereka tahu betapa pentingnya arti pernikahan mereka, maka suami-isteri akan bersama-sama mencari bagaimana mereka dapat menjadi duta besar yang bertanggung-jawab.

3.      Pernikahan orang kristen harus ditandai dengan sifat kekal. Hubungan Kristus dengan jemaat tidak dapat dihentikan dan tidak mengenal istilah kontrak, demikian pula hubungan suami-isteri berlangsung sampai kematian memisahkan (Mat 19:6 : Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia). Di dalam hubungan seperti ini janganlah kita mengharapkan kesempurnaan tetapi lebih merupakan proses yang harus digarap terus-menerus sehingga menjadi sempurna.

Apabila kita mengerti ketiga aspek ini maka kita mengerti apa artinya jika dikatakan bahwa pernikahan Kristen bukanlah sembarang pernikahan tetapi menjadi suatu representasi dari hubungan Kristus dan jemaat. Kita perlu membagi kebenaran ini kepada sesama orang Kristen karena terlalu sedikit orang Kristen yang mengerti hal ini.

SIKAP ISTRI

Dalam ay. 22 dikatakan : “Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan” Keluarga kristen harus men­cer­min­kan satu gambaran re­pre­sentasi yang be­­gitu agung, an­tara Kristus de­ngan jemaat. Dan ide ketaatan kepada Kristus inilah yang menjadi sum­ber dari­­pada ketaatan se­orang istri ke­pa­da suaminya, sa­tu penundukan diri yang berpusat ke­pada Kristus. Opi­ni-opi­­ni umum yang begitu kuat meng­hantam konsep pemikiran dan ke­pu­tusan ter­pen­­ting da­­lam hi­­dup kita seringkali menyebabkan suatu tekanan bagi wanita, sehingga akhirnya me­­reka ber­pi­kir­an bahwa ti­dak akan ada pria yang mau menikah dengannya jikalau ia tidak men­dan­­dani diri de­ngan segala macam per­­hiasan duniawi. Dan disitu membuat ide seorang is­teri se­jati yang dicari pria sa­ngat paradoks di­gu­mul­kan di tengah dunia. Dan saat ini kita melihat bahwa konsep penundukan dalam Efesus kem­­bali diungkapkan oleh Petrus di dalam I Ptr 3:1: “De­mi­ki­an juga ka­­­mu, hai isteri-isteri, tun­duk­lah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang ti­dak ta­­at ke­­­pa­­da Firman, mereka ju­ga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya.” Kon­sep ketaatan disini bu­kanlah ketaatan yang di­­sa­lahtafsirkan atau yang sengaja ditekankan oleh orang-orang dunia, khu­­­­susnya kaum fe­mi­nis­me. Ayat itu menegaskan de­­ngan sangat prak­ti­ka bagaimana seorang istri tunduk pada sua­mi, bu­kan dengan cara me­nge­pang-ngepang rambut dan segala macam ak­se­­so­ri yang dikenakan me­­lain­­­­kan dengan memiliki ke­indahan batiniah (inner beauty) dan ke­sa­leh­an hi­dup sebagai anak Tuhan. Apa yang digambarkan di da­lam I Petrus hanya merupakan satu ilustrasi, yang ide­nya ingin memperlihatkan dandanan dan keindahan lahiriah yang tampak diluar saja. Alkitab mem­be­ri­kan satu peringatan keras, bagaimana se­orang wanita dapat men­ja­di se­orang wanita sejati. Dr. Wayne Grudem, seorang profesor yang cukup terkenal saat ini me­nga­­­­ta­kan: “Penundukan se­orang isteri kepada suaminya bukanlah penundukan yang membabi-bu­ta melainkan penundukan yang menjadi kodratnya dia untuk mau takut dan taat kepada Kristus.” Ja­di, seorang isteri yang sejati harus kembali kepada esensi yang se­ja­ti, dengan kemurnian hati­nya ia menggarap pribadinya serta memiliki ke­relaan untuk taat kepada Allah. Ketika ia mulai mau menundukkan diri kepada Kristus sebagai pu­sat kehidupannya maka itu akan memunculkan si­kap penundukan kepada suaminya dan kondisi kodrat kewanitaan itu disebut Woman­hood. Kon­sep ini sudah muncul se­jak di jaman Abraham (sebelum orang Ya­hu­di ada), dimana Sara be­gitu tunduk kepada Abraham dan memanggil suaminya sebagai tu­annya.

Selanjutnya kita akan melihat beberapa hal bagaimana seorang isteri taat kepada sua­mi­nya:

a.       Penundukan yang bukan karena dipaksakan melainkan penundukan dari spi­ri­tual.
Ketika seorang wanita hanya memperhatikan aspek eksternal dan gagal membentuk diri ma­ka itu menghancurkan dirinya. Saya mendengar cerita tentang seorang gadis yang kelihatannya ba­ik dan berparas cantik, namun telah membatalkan pernikahannya dengan seorang laki-laki ka­re­na ada lelaki lain yang lebih keren, yang menawarkan rumah dan mobil. Dengan mudahnya ia ber­paling dari pacarnya karena pacarnya tidak mampu memberikan rumah dan mobil kepadanya. Na­mun akhirnya ketika gadis itu sudah dibawa pergi kurang lebih satu bulan lamanya, ia akhirnya di­tinggalkan begitu saja. Maka beberapa orang yang dulunya adalah teman pacarnya bertekad ingin membalas sakit hati temannya dengan mengerjainnya. Maka ketika saya membaca tentang hal ini, saya sekali lagi mengaminkan apa yang pernah dikatakan oleh Pdt. Stephen Tong, yaitu bah­wa cantik itu bahagia sekaligus bahaya. Hal ini bukanlah hal yang boleh dipermainkan tetapi ha­rus kembali kepada esensi yang sejati, yaitu bagaimana kita mempunyai kerinduan me­nun­duk­kan diri, yang di­mu­lai dari ketakutan kita akan Allah.
b.      Bagaimana melalui penundukan seorang isteri, ia dapat memenangkan sua­mi­nya. Ayat ini mengimplikasikan bahwa isterinya sudah bertobat dahulu sebelum suaminya ber­to­bat. Berarti di dalam konsep ini kita melihat bahwa ada isteri yang da­pat taat kepada Tuhan dulu dan baru setelah itu bagaimana ia memenangkan suaminya. Da­lam kasus seperti ini kita melihat bahwa ternyata menundukkan diri kepada suami itu bukan sem­ba­rangan, tidak berarti harus tunduk sekalipun diajak berdosa, tetapi tunduk di dalam konsep positif yang mengacu kepada kebenaran. Sehingga bagaimana ki­ta menundukkan diri dalam arti kita mau mengerti apa yang ia inginkan, pikirkan dan putuskan la­lu kita merespek dan menghormati dengan sungguh-sungguh apa yang menjadi keputusan sua­mi kita. Hal ini tidak menutup kemungkinan sang isteri memiliki sua­tu pemikiran sendiri. Tetapi ke­ti­ka sang suami mulai memikirkan suatu ide, walaupun mungkin isteri belum setuju (ada baiknya sua­mi menjelaskan hal itu sedapatnya) maka isteri seharusnya ti­dak terus memaksakan idenya te­tapi me­miliki upaya serius untuk mau tahu apa yang sebenarnya di­pikirkan oleh suaminya

c.       Seorang istri bukan berarti tunduk secara pasif (semua beban dilempar ke­pa­da suami) karena itu merupakan satu bentuk dari pemberontakan, tetapi tunduk aktif dengan mem­berikan ide dalam mencari pemikiran, yang dipikirkan dari sudut pemikiran suami. Ketika sang suami sedang memikirkan suatu gagasan/masalah, bagaimana sang istri memberikan input yang terbaik buat suaminya, sehingga suaminya dapat mengaktualisasikan apa yang ia gu­mul­kan. Sehingga peran istri disini mengisi, khususnya bagian-bagian detail yang tidak ter­pikir­kan oleh suami. Seorang pria cenderung untuk berpikir secara global, oleh sebab itu seorang istri harus mempunyai ketajaman analisa alternatif, kesulitan dan dampak yang lain yang akan di­hasilkan dari pergumulan tersebut. Dan itu menjadikan seorang isteri support kepada apa yang sua­minya inginkan secara positif. Memang kita akan melihat bahwa suami yang memutuskan te­tapi dibelakangnya ada isteri yang memberikan pertimbangan terbaik bagi keputusan tersebut. Di­dalam otobiografi tokoh-tokoh penting di dunia akan kita dapati bahwa keputusan-keputusan ter­se­but terjadi karena mereka memiliki istri yang sangat mendukung, namun sebaliknya dibalik para penjahat yang hebat juga terdapat isteri yang sangat merusak. Sehingga kita sekarang me­nge­tahui bagaimana posisi seorang isteri akan sangat berpengaruh bagi suaminya. Seperti Sarah yang selalu memberikan input, dan dukungan didalam Abraham menjalankan ide dan pe­layan­an­nya, dan ia tidak pernah menghalangi apa yang menjadi garis perjalanan dan tugas Abraham.

d.      Di dalam menundukkan diri, seorang isteri harus memperlengkapi diri guna meng­imbangi suaminya. Banyak orang yang berpendapat bahwa jika­lau isteri akhirnya hanya harus tunduk kepada suami, maka ia tidak perlu capek-capek ber­se­ko­lah atau memiliki suatu kemampuan. Hal seperti ini dapat muncul jikalau kita belum mengerti se­cara tepat akan ide submissiveness dan orang tersebut tidak mampu berpikir secara tajam. Ke­tika kita mengetahui bagaimana sang suami membuat suatu arah besar (global) maka disitu fung­si sang isteri untuk membangun dukungan-dukungan dengan mengisi pertimbangan-pertimbang­an yang cermat dibelakangnya. Sehingga kita dapat membayangkan betapa pentingnya seorang isteri mempunyai ketajaman pemikiran, kemampuan menganalisa dan kemampuan ketrampilan yang memadai bagi perjalanan suaminya. Sehingga makin suami di dalam posisi tinggi maka is­teri juga membutuhkan perimbangan yang cukup tinggi untuk menjalankan keseimbangan, men­jadi penolong yang sepadan (Ams 31).

e.       Ide penundukan diri bukan ide kemunafikan. Khususnya saat ini, sepertinya ki­ta diajar untuk hidup secara multileveling sehingga akhirnya kepribadian kita menjadi pecah dan ki­­ta selalu harus memposisikan diri. Alkitab menekankan bahwa itu bukan sekedar penampilan diluar saja tetapi suatu penampilan atau tindakan yang secara alami muncul dari dalam diri kita. Jikalau itu hanya dibentuk dari aspek luar, itu akan men­­jadikan kita orang Kristen ahli taurat dan itu membuat kita akhirnya munafik. Ketaatan yang ber­­pusat kepada Kristus itu adalah ketaatan yang keluar sebagai suatu kerelaan hati dan ke­taat­an yang sungguh, sehingga didalamnya tidak ada kemunafikan dan kepura-puraan sama sekali. Ke­­tika Sara memanggil Abraham “tuan” maka itu menunjukkan bahwa tidak ada satu orangpun yang memaksanya untuk melakukannya dan kecenderungan hatinya untuk benar-benar mau men­­tuankan suaminya.

SIKAP SUAMI

Dalam ay. 25 dikatakan, “Hai sua­­mi, ka­­sihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah me­nye­­­­­rahkan diriNya baginya.”. Alkitab me­mang mengajarkan su­pa­­­­ya wanita tun­duk kepada suaminya namun itu bukan berarti bahwa suami boleh menindas is­te­ri­­nya, sebab ke­ti­ka wanita tunduk ke­­pada suaminya maka pe­nun­­dukan isteri kepada sua­mi ter­se­but harus di­res­poni oleh sikap ke­dua yaitu bagaimana suami men­­cintai isterinya sebagaimana Kristus mengasihi je­­maat. Dengan demikian di dalam bagian ini  kita melihat bagaimana suami-is­teri yang boleh be­re­lasi dengan indah, ditata me­­­nurut satu konsep yang berbeda sama sekali dengan ide yang ada di tengah dunia. Seperti yang digambarkan di Efesus 5, seorang suami se­­jati ketika berelasi de­­ngan isterinya harus kembali kepada esensi yang benar yaitu ke-­kepala-an yang ber­pusat kepada Kristus. Sehingga bagaimana seorang suami berelasi de­ngan is­trinya, itu ha­rus meng­gambarkan relasi antara Kristus (sebagai kepala) de­ngan jemaat (se­ba­gai tu­buhnya), dan ia ha­rus memperlakukan isterinya seperti mem­­­perlakukan tubuhnya sen­diri. Penekanan ke-kepala-an seorang suami ada­­lah adanya satu pe­­ra­watan, perlindungan, pengarahan dan cinta kasih yang sesungguhnya. Jadi se­ba­­gai seorang ke­­pala rumah tangga seorang suami mempunyai tanggung-jawab menjadi kepala atas selu­­ruh tubuhnya.
Dunia selalu mencoba memikirkan bagaimanakah seorang pria sejati itu; ba­­gai­ma­­na seorang pria itu seharusnya berlaku dan siapa yang berhak disebut sebagai pria sejati itu? Plato me­nga­takan bahwa manusia pria adalah orang yang ha­­­rus me­­ngerti de­ngan rasional, sa­ngat berkemampuan dan mengambil keputusan secara ra­sio­nal serta ukur­an kesuk­sesan­nya di­tentukan oleh rasionya. Hal seperti ini menjadi aneh karena se­­ca­ra du­nia faktual, pria dikenal se­bagai manusia yang memiliki rasio lebih, namun di dalam re­la­si suami-isteri as­pek rasional ti­dak pernah ditonjolkan menjadi satu inti alami pria sejati. Se­ring­kali rasio menjadi satu hal yang ter­lalu diagungkan dan seolah tidak ada tempat bagi pe­ra­sa­an dan emosi. Padahal Alkitab justru mengajarkan supaya kita mencintai dan mengasihi istri kita dan bu­kan secara rasional saja melainkan itu merupakan satu keutuhan mulai dari rasio, emosi, pe­ra­sa­­an, ke­hen­dak hingga tindakannya.
Dalam dunia modern sekarang ini, Pria sejati modern sering digambarkan dengan indikasi beberapa hal :
-          Menurut kon­sep Hollywood adalah pria yang “macho,” yang keren, merokok, badannya ga­gah dan kekar se­perti yang banyak ditanamkan melalui film-film. Dan disini konsep pria men­ja­di sangat rendah ka­re­na ha­nya dilihat se­ba­tas aspek tubuh (jasmaniah saja), sehingga ti­dak he­ran kalau banyak wa­nita yang tidak mencari pria sejati melainkan mencari tukang pu­kul. Dan Hollywo­od mem­berikan dua war­na berbeda dalam dunia en­ter­taiment, disatu format ditampilkan pria yang macho, namun ka­­re­na efek feminisme juga masuk dalam du­nia entertaiment maka tipe pria men­­­­jadi feminim, be­ram­but panjang, baby face dan ka­lau perlu memakai anting-anting.
-          Kon­sep pria sejati yang pa­­ling umum adalah mampu menyediakan uang yang banyak. Dunia kita ber­upa­­ya untuk me­na­nam­­kan konsep yang merusak kodrat kita dan akhirnya para pria men­jadi gila dan berjuang keras me­­menuhi apa yang diidekan oleh dunia dan tidak kembali kepada kodratnya yang sejati.

Selanjutnya kita akan mencoba melihat beberapa hal yang menjadi esensi pria sejati da­­lam firman Tuhan:
-          Pria yang takut akan Tuhan dan menjadi kepala yang berpusatkan ke­­pada Kristus.
Ketika seorang pria tidak mem­pu­nyai takut akan Tuhan, itu memberi segala peluang bagi dosa dan itu berarti ia sudah masuk ke dalam esensi dosa yang sesungguhnya. Pria sejati ada­lah pria yang tahu siapa dirinya di ha­dap­an Tuhan, Allah­nya dan bagaimana dia me­re­pre­sen­tasikan Kristus di tengah masyarakat. Ke-kepala-an sejati ada­lah yang berpusat kepada Kristus dan sebuah keluarga yang sejati ada­lah keluar­ga yang dibangun oleh seorang kepala rumah tangga yang takut akan Kristus. Da­lam Korintus di­ka­ta­kan, kepala dari wanita adalah pria/suaminya, kepala dari pria adalah Kristus, dan kepala dari Kristus adalah Allah. Jadi ketika seorang pria ingin menjadi suami/kepala yang ba­ik, ia harus tahu bah­wa diatasnya masih ada kepala yang sejati yaitu Kristus. Itu alasan ketika seorang suami ti­dak takut kepada Allah dan hanya takut kepada manusia maka yang paling kasihan adalah is­teri­nya. Alkitab memandang pernikahan bukan sekedar antara suami-isteri melainkan pernikahan ter­sebut harus merepresentasikan hubungan Kristus dengan je­maat.
-          Pria yang sungguh-sungguh mencintai isterinya. Alkitab mengatakan bagai­ma­na se­orang suami mengasihi isteri seperti Kristus mengasihi jemaat. Kata “mengasihi” disini tidak meng­­­gunakan “eros” (sekalipun suami-isteri) tetapi dalam aspek ini menggunakan bentuk “agape” yai­tu sa­­tu kasih yang unconditional. Ketika seorang suami mencintai isterinya, maka ia mencintai de­­ngan sesungguhnya, dengan satu sikap gentleman dan satu hati yang benar-benar mau me­mi­kir­­­kan yang terbaik bagi isterinya. Berarti seorang suami yang sejati ketika isterinya tunduk maka itu bukan kesempatan baginya untuk menindasnya melainkan bagaimana ia memikirkan yang ter­ba­ik yang bisa diberikan bagi isterinya. Bahkan seperti Kristus hingga rela menyerahkan nya­wa­Nya menjadi tebusan bagi jemaat. Suami bukan menunjukkan kekuatannya hanya untuk me­nye­­la­matkan diri tetapi untuk membela isteri dan anak-anaknya karena ia bertanggungjawab untuk me­­­­lakukan yang terbaik bagi isteri dan anak-anaknya. Dan itulah yang menjadikan ke­luar­ga itu akan indah sekali karena seorang isteri yang tunduk mutlak kepada suaminya tidak akan merasa bah­­­wa penundukan dirinya dimanipulasi melainkan ia akan merasa puas untuk tunduk kepada sua­minya. Itu sebab lebih ba­­ik kita mencari orang yang mencintai kita daripada yang kita cintai, ka­rena itu akan membuat kita be­la­­jar bagaimana mengerti seluruh relasi ini dengan baik.
-          Pria itu menguduskan dan menyucikan isterinya sehingga ia nantinya da­pat meng­aktualisasikan dirinya sebagai seorang wanita sejati. Ef 5:26 mengatakan, “Untuk meng­gu­dus­­kannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman.” Pria yang sejati ketika ia benar-benar menjalankan dengan takut dan berpusat kepada Kristus, be­nar-be­­nar mencintai isterinya, maka ada efek ketiga yang menjadi esensi paling besar yaitu ia akan meng­­guduskannya, menyucikannya (me­murni­kan/membersihkan), dan memandikannya dengan air dan firman. Be­berapa penafsir mengkaitkan ini dengan budaya Yahudi/Yunani/ bahkan di pulau Jawa, bagaimana seorang isteri yang ke­ti­ka akan me­nikah  dimandikan dahulu. Itu meng­gam­barkan satu kemurniannya yang akan menjadi ba­­gian bersatu di dalam relasi eks­klu­sif dengan suaminya. Dan ketika dikuduskan seperti itu, pe­ngu­­dusan tersebut bukan dikerjakan oleh si is­teri melainkan isteri telah memasukkan diri dan pe­mi­sahan tersebut dikerjakan oleh suaminya. Dengan demikian, jikalau terjadi prob­lem ter­ha­dap is­te­ri­nya maka suami tetap memiliki andil didalamnya. Ketika isteri sudah me­nun­duk­kan diri dan me­­ma­sukkan diri kepada suaminya, maka keberadaan isteri ini berada di dalam sa­tu per­lin­dung­an, pe­­nyucian daripada suaminya. Ini menjadi panggilan yang luar biasa rumit di dalam kita me­ngerti ten­tang pria sejati. Peranan suami di dalam me­ngasihi isteri menjadi bagian yang terbesar supaya si isteri tidak merasa perlu untuk mencari se­suatu diluar lagi. Isteri yang be­nar-benar terpisahkan di da­lam relasi dengan suaminya, maka disitu ia merasa dipuaskan di da­lam seluruh ketotalitasan hidupnya. Isteri tidak akan pernah puas/betah dirumah sekalipun di­lim­pahi oleh banyak material, dipuaskan secara seksualitas, ataupun hal-hal lain. Seorang isteri yang baik, bahkan siapapun dia sekalipun sangat materialistik, di dalam hati nuraninya tidak akan meng­ingkari bahwa ia akan menikmati ke­puas­an tertinggi ketika suaminya mencintainya dengan sung­guh-sungguh. Oleh sebab itu pria yang sejati bukanlah pria yang tidak mempunyai perasaan dan tidak mampu tersenyum melainkan seorang pria yang mampu mengasihi istrinya. Dan  kriteria dasar seorang pria yang sukses adalah pria yang dapat menjadikan isterinya seorang wanita sejati dengan takut akan Tuhan. 

KESIMPULAN 

- Tunduk bukan berarti mengikuti total seluruh keinginan suami, tetapi taat dalam konsep kebenaran 
- Sebagai "Kepala" suami wajib mengasihi istri, berarti membawa istri kedalam kasih Tuhan
- Ide Kesetaraan gender tidak boleh melupakan konsep kristen terhadap pernikahan

*Bahan diambil dari berbagai sumber.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

HTML