Selamat datang di blog sederhana ini, kiranya menjadi berkat bagi kita semua

Jumat, 24 September 2010

KHOTBAH MINGGU 26 SEPTEMBER 2010


HUKUM DAN KEADILAN

Nats     : Yoh 8 : 1-11
8:1 tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun.
8:2 Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka.
8:3 Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah.
8:4 Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.
8:5 Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?"
8:6 Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah.
8:7 Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."
8:8 Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.
8:9 Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya.
8:10 Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?"
8:11 Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."

Pendahuluan
Seorang pedagang barang plastik di sebuah pasar yang cukup besar di Jakarta, divonis sepuluh bulan penjara karena dianggap membuat keterangan palsu kepada polisi. Ia dituduh berbohong ketika mengatakan bahwa surat izin pemakaian tempat usaha atas kiosnya di pasar itu hilang. Sayangnya, belum sampai kasus ini dikaji lebih dalam, belum sampai diusut lebih jauh kebenarannya, vonis yang dijatuhkan sudah dijalankan. "Di Indonesia yang diusahakan memang cuma penegakan hukum, bukan keadilan. Hukuman buat orang kecil selalu tegas walau belum adil," begitu komentar seorang pengamat.

Hukum manusia memang bisa saja mengabaikan keadilan, tetapi tidak demikian dengan hukum Tuhan Tuhan. Yesus diperhadapkan dengan dilema ketika didesak mengadili perempuan yang berzina: membebaskannya berarti melanggar hukum Taurat, tetapi menghukum rajam sesuai hukum Taurat berarti melanggar hukum Romawi yang berlaku di daerah itu. Namun, Dia menanggapinya secara cerdik, "Siapa saja di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Bukan pezina itu yang diadili, melainkan orang-orang munafik yang ada di tempat itu, yang harus mengadili diri mereka sendiri.

Jika kita membaca Buku Yohanes dan ketiga evangelium lainnya (Matius, Markus dan Lukas), kita jelas melihat adanya perbedaan besar antara Yesus dengan Ahli-ahli Taurat Yahudi pada masa itu. Perbedaan itu ialah bahwa Yesus yang adalah Kebenaran (Johannes 14:6) dan pemuka-pemuka agama Yahudi (Farisi/Sadusi) yang sering berpura-pura (munafik), sehingga pertentangan antara kebenaran dan kemunafikan itulah yang ditunjukkan Yohanes dalam nats ini. Itulah yang kita lihat dalam nats ini tentang pertentangan antara Yesus dengan Ahli-ahli Taurat tentang sikap dan tindakan yang akan dilakukan terhadap seorang Perempuan yang berzinah.

Apabila kita mencermati posisi Pemuka-pemuka Agama Yahudi mulai dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru, kita melihat bahwa Pemuka Agama Yahudi bukan hanya bertugas di Bait Allah tetapi juga ikut mengatur segala sesuatu yang terjadi di masyarakat menjadi semacam Hakim (Judikatif) dan menjalankan aturan hukum sesuai dengan Hukum Taurat yang menjadi dasar acuan hukum pada masa itu.

Yesus sudah menyatakan dirinya sebagai Raja untuk menunjukkan bahwa Dia adalah Allah yang menjadi manusia untuk membawa damai dan kemerdekaan, itu sebabnya Ahli-ahli Taurat membawa seorang perempuan yang berjinah kepada Yesus untuk menguji peran Yesus sebagai Hakim, tetapi latarbelakang kedatangan mereka sebenarnya bukan untuk mencari kebenaran tentang perbuatan perempuan itu sesuai dengan hukum yang berlaku, melainkan tujuan mereka adalah untuk mencobai Yesus, seandainya keputusan yang dibuat oleh Yesus menyalahi ( tidak sesuai ) dengan aturan hukum yang berlaku saat itu.

Jika kita membaca Alkitab Perjanjian Lama, kita melihat bahwa agama Yahudi membuat banyak aturan-aturan di Bait Allah dan di masyarakat, yang harus ditaati mereka. Bahkan ada yang memberlakukan hukuman mati ( Ul. 21:21: Im 20:12), seperti yang kita lihat dalam nats ini, seorang perempuan penjinah harus dilempari batu oleh orang sekota sampai mati.

Nats ini terjadi pada masa Pesta Pondok Daun (Tabernacle), yaitu peringatan perjalanan nenek moyang orang Israel keluar dari Mesir ke Tanah Kanaan.  Sepanjang perjalanani, mereka membuat kemah tempat berteduh.  Untuk memperingati hal tersebut mereka membuat pesta selama tujuh hari tinggal di dalam kemah. Mereka membuat kemah di rumah, di halaman, di kebun dan di lembah-lembah. Ini adalah salah satu hari besar orang Yahudi yang dirayakan setiap tahun. Semua orang laki-laki dalam radius tiga mil di sekitar Yerusalem datang ke pesta itu, juga orang-orang dari luar Yerusalem termasuk perempuan. Momen inilah yang dipakai oleh Ahli-ahli taurat untuk mencobai Yesus.

Keterangan :
  1. Jebakan terhadap Yesus
Seperti yang telah dijelaskan di atas Pertentangan antara Tokoh-tokoh agama Yahudi dengan Yesus semakin meruncing. Memang dalam setiap kesempatan Yeus berbicara, Tokoh-tokoh Yahudi senantiasa ikut mendengarkan yang kelihatannya mereka sepertinya menjadi pendengar yang baik, namun sebenarnya dalam setiap kesempatan itu pula mereka selalu mencari kesalahan Yesus baik dalam perkataanNya  maupun perbuatan dan berharap secepatnya mereka bisa mendapatkan celah untuk menghentikan ajaran Yesus. Tetapi di kalangan masyarakat Yahudi banyak juga orang yang bisa menerima ajaran Yesus dan mengakui bahwa pengajaran Yesus membawa mereka kepada pengharapan., seperti itulah kesan yang mereka lihat sehingga banyak diantara mereka berkata ” Belum pernah seorang manusia berkata seperti itu ” ( Yoh 7:46 )   Tentang Firman Tuhan dikatakan dalam Ibrani 4:12 ”Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati”.
Itulah yang terjadi terhadap tokoh-tokoh agama Yahudi, mereka merasa bahwa Yesus seringkali menelanjangi kemunafikan mereka, sehingga mereka selalu mencari celah kesalahan Yesus.
Mereka membawa seorang perempuan berjinah ke hadapan Yeus, dengan harapan Yeusu akan memberikan pertimbangan atau keputusan tentang sanksi apa yang harus diberikan kepada perempuan itu. Menurut pikiran mereka, Yesus akan dihadapkan kepada kesulitan dalam memutuskan hal tersebut, karena menurut hukum Yahudi Perempaun itu harus dihukum mati dengan dilempari batu oleh seisi kota, sementara Yesus selalu mengajarkan Kasih dan pengampunan. Mereka berharap Yesus akan salah mengambil keputusan dan itu akan menjadi dasar mereka untuk menyingkirkan Yesus. Jika Yesus membebaskan perempuan itu demikian saja, mereka akan menuduh bahwa Yesus melanggar aturan hukum Yahudi, (bisa di adukan ke Sanhedein ), sebaliknya jika Yesus menyatakan bahwa perempuan harus dilempari dengan batu, mereka akan mengatakan bahwa Yesus telah melangkahi pemerintah Roma, sebab pada saat itu hanya pemerintah Roma yang berhak memutuskan hukuman mati. Menurut pikiran mereka Yesus akan dihadapkan kepada Pilihan yang sulit seperti buah simalakama.
 
2.      Yesus menginginkan Keadilan, bukan sekedar perlakuan Hukum

Untuk menghadapi ahli-ahli taurat yang penuh dengan pikiran jahat tersebut, Yesus tidak mau terjebak dalam konflik terbuka. Yesus tahu pikiran jahat mereka, sehingga sikap Yesus menghadapi hal demikian kita bisa lihat dalam nats ini bahwa Yesus diam dan menulis di tanah. Yesus menulis dengan jari-jariNya, tidak dijelaskan dalam Alkitab, Yesus menulis apa pada saat itu  

Melihat sikap Yesus, Ahli-ahli turat tidak sabar dan terus mendesak Yesus untuk memberi keputusan, akhirnya Yesus berkata sesuatu yang menyesakkan hati dan pikiran mereka, sesuatu jawaban yang tidak mereka duga sama sekali : "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.". dan Yesus melanjutkan menulis di tanah..

Mereka pun pergi satu-satu dengan berbagau macam pikiran yang berkecamuk. Dari cara Yesus menghadapi mereka jelas kita lihat bahwa Yesus mengingingkan pengampuan dan pertobatan, semua orang membutuhkan pengampunan dosa, sebagaiman tertulis dalam Yehezkiel 33:11 ”Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?",  

Sangat jelas kelihatan perbedaan orientasi Yesus dengan Ahli taurat tersebut, Mereka (ahli taurat) yang selalu ingin menjatuhkan hukuman dengan alasan sesuai dengan aturan (padahal sebenarnya mereka hanya ingin menunjukkan kekuasaan dan otoritas nereka ditengah bangsa Yahudi), tetapi Yesus  ingin menunjukkan Hukum yang tinggi yaitu Kasih dan Keadilan agar setiap orang berdosa kembali meninggalkan jalan-jalannya yang jahat supaya memperoleh kehidupan yang kekal. Orientasi Yesus adalah orang-orang berdosa, tetapi orientasi Ahli taurat adalah Hukum-hukum dan aturan yang berlaku, Itu sebabnya suatu waktu Yesus berkata  "Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat”, Menurut sikap Ahli taurat Agama bukan menjadi pengharapan dan kasih, tetapi agama menjadi suatu aturan hal yang harus ditakuti yang bisa membawa kepada kematian bukan kehidupan.
  
3.      Pesan Yesus untuk orang yang berdosa

Yesus tidak pernah pernah mentolerir perbuatan dosa, tetapi Yesus menginginkan pertobatan orang berdosa dengan meninggalkan jalan-jalannya yang sesat, Itulah pesan Yeus terhadap perempuan itu : Ay.11 : "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang". Artinya selama kita hidup, Tuhan masih memberi kesempatan bagi orang berdosa untuk bertobat. Kita tidak tahu kapan kita mati, oleh sebab itu saat ini adalah kesempatan yang ada yang harus kita mamfaatkan untuk memperbaiki diri, merubah tingkah laku kita yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Pengampunan yang diberikan oleh Yesus harus kita hargai dengan cara ”Jangan berdosa lagi”. Amin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

HTML