Selamat datang di blog sederhana ini, kiranya menjadi berkat bagi kita semua

Senin, 06 September 2010

TIPS ETIKA BERTENGKAR DALAM RUMAH TANGGA


Hari ini, hari ke-2  saya dan isteri tidak bertegur sapa, setelah Sabtu Malam kami bertengkar untuk hal yang sebenarnya tidak perlu dipertengkarkan. Kegiatan luar rumah  yang menjadi sumber persoalan tidak seharusnya menjadi masalah apabila bisa dikomunikasikan dengan bahasa yang lebih lembut. Tatapi apa boleh buat, pertengkaran sudah terjadi, Sekarang yang tersisa hanya ketidaknyamanan antara kami berdua. Mogok bicara antara sepasang insan yang terikat pernikahan ternyata sangat menyebalkan. Terkadang anak jadi perantara untuk menyampaikan keinginan kita masing-masing.
Dalam situasi ini saya merenung bahwa seharusnya  kita bersyukur kepada Tuhan bahwa hingga hari ini  Dia masih memberi waktu buat kita. Hidup kita akan berakhir, hanya jadwal eksekusi  yang berbeda beda, ada yang minggu lalu, kemarin, tadi pagi, dan saya ? istri saya ? Anda ? Entah kapan, yang jelas waktu yang tersisa sepantasnya dimaksimalkan untuk berbuat kebaikan.
Diantara kebaikan itu adalah membangun sinergi yang baik antar dua kekasih yang diikat erat janji suci, suami daa isteri. Bertengkar adalah fenomena yang sulit dihindari dalam kehidupan berumah tangga, kalau ada seseorang berkata : "Saya tidak pernah bertengkar dengan isteri saya !" Kemungkinannya dua, boleh jadi dia belum beristeri, atau ia tengah berdusta. Memang kadang-kadang saya dengan istri saya sering menikmati saat bertengkar, walaupun memang lebih menikmati saat tidak bertengkar
Bertengkar itu sebenarnya sebuah keadaan diskusi, hanya saja dilakukan dalam situasi emosi tingkat tinggi. Kalau tahu etikanya, dalam bertengkarpun kita bisa mereguk hikmah, betapa tidak, justru dalam pertengkaran, setiap kata yang terucap mengandung muatan perasaan yang sangat dalam, yang men- cuat dengan desakan energi yang tinggi, pesan pesannya terasa kental, lebih mudah dicerna ketimbang basa basi tanpa emosi.
Baiklah, hari ini saya ingin share bagaimana suami istri dalam melangsungkan sebuah pertengkaran,  saya telah jalani pernikahan kami selama 21 tahun, dan berhasil membangun keadaan yang senantiasa lebih asyik daripada sebelum terjadi pertengkaran.
Tulisan ini hanyalah untuk berbagi, karena saya merasa masih gagal melakukannya, jadi mari kita sama-sama merenungkannya.
Ketika kita sepakat untuk  memulai hidup baru, berarti kita harus telah bersedia berbagi masa depan dengan suami/istri, kita harus mulai membicarakan seperti apa suasana rumah tangga ke depan. Salah satu diantaranya adalah tentang apa yang harus dilakukan kala kita bertengkar, sebelumnya kita harus membuat pada sebuah Memorandum of Understanding, bahwa kalau pun harus bertengkar maka harus ada syarat-syarat dan ketentuannya sbb :


1.      Beri kesempatan kepada yang lebih dulu marah 
        Kalau bertengkar tidak boleh bersama-sama, cukup seorang saja yang marah-marah, yang terlambat mengirim sinyal nada tinggi harus menunggu sampai yang satu reda. Untuk urusan marah pantang bersama-sama, seorangpun sudah cukup membuat rumah jadi meriah. Ketika istri marah dan suami mau menyela, segera istri berkata "STOP" ini giliran saya ! maka suami harus diam sambil merenung. Sambil menahan senyum berkata dalam hati : "kamu makin cantik kalau marah,makin energik ..." Dan dengan diam itupun suami erasa telah beramal, telah menjadi jalan bagi tersalurkannya luapan perasaan hati yang dikasihi... "duh kekasih .. bicaralah terus, kalau dengan itu hatimu menjadi lega, maka di padang kelegaan perasaanmu itu aku menunggu ...." Demikian juga kalau pas kena giliran suami "yang olah raga otot muka", suami harus menganggap bahwa distorsi hati, nanah dari jiwa yang tersinggung adalah sampah, ia harus segera dibuang agar tak menebar kuman, dan suami tidak berani marah sama siapa-siapa kecuali pada ister, maka kini giliran istri yang harus bersedia jadi keranjang sampah. pokoknya khusus untuk marah, memang tidak harus bersama-sama, sebab ada sesuatu yang lebih baik untuk dilakukan secara bersama selain marah 
2.     Fokus kepada permasalahan
        Marahlah untuk persoalan itu saja, jangan ungkit yang telah berlalu lama. Siapapun kalau diungkit kesalahan masa lalunya, pasti terpojok, sebab masa silam adalah bagian dari sejarah dirinya yang tidak bisa ia ubah. Siapapun tidak akan suka dinilai dengan masa lalunya. Sebab harapan terbentang mulai hari ini hingga ke depan. Dalam bertengkar pun kita perlu menjaga harapan, bukan menghancurkannya. Sebab pertengkaran di antara orang yang masih mempunyai harapan, hanyalah sebuah foreplay, sedang pertengkaran dua hati yang patah asa, menghancurkan peradaban cinta yang telah sedemikian mahal dibangunnya. Kalau suami terlambat pulang dan istri marah, maka kemarahan atas keterlambatan itu sekeras apapun kecamannya, adalah "ungkapan rindu yang keras".  Tapi bila itu dikaitkan dengan seluruh keterlambatan saya, minggu lalu, awal bulan , kemarin dan dua bulan lalu, maka itu membuat saya terpuruk jatuh.  Bila kopi yang disajikan istri tidak manis,  sepedas apapun saya marah, maka itu adalah "harapan ingin disayangi lebih tinggi". Tapi kalau itu dihubungkan dgn kesalahannya kemarin dan tiga hari lewat, plus tuduhan "Sudah tidak suka lagi ya dengan saya", maka suami telah menjepitnya dengan hari yang telah pergi, suami menguburnya di masa lalu, dan telah membunuhnya, membunuh cintanya. Padahal kalau cintanya mati, saya juga yang susah ... OK, marahlah tapi untuk kesalahan semasa, saya tidak hidup di minggu lalu, dan ia pun milik hari ini .....
3.      Jangan melibatkan pihak ketiga 
         Kalau Marah jangan bawa bawa keluarga ! Saya dengan isteri saya terikat pernikahan 21 tahun, tapi kita dengan orang tua masing-masing juga telah mengalami masa yang sama dengan itu. Seharusnya, seseorang itu tidak menanggung kesalahan fihak lain. Saya tidak akan marah bila cuma saya yang dimarahi, tapi kalau orang tua diajak serta, maka itu akan berakibat persoalan semakin dalam.  Begitupun istri, semenjak saya menikahinya, saya telah belajar mengabaikan siapapun di dunia ini selain dia, karenanya mengapa harus bawa bawa oranglain ke kancah "awal cinta yang panas ini". Orang bijak berkata : "Teman seribu masih kurang, musuh satu terlalu banyak". Memarahi orang yang mencintai saya, lebih mudah dimaafkan dari pada ngambek pada yang tidak mengenal hati dan diri saya.." Dunia sudah diambang pertempuran, tidak usah ditambah tambah dengan memusuhi mertua  & orang tua !
4.      Jangan di depan anak-anak
        Kalau marah jangan di depan anak anak ! Anak kita adalah buah cinta kasih, bukan buah kemarahan dan kebencian dia tidak lahir lewat pertengkaran kita, karena itu, mengapa mereka harus menonton komedi liar rumah kita. Anak yang melihat orang tua nya bertengkar, bingung harus memihak siapa. Membela ayah, bagaimana ibunya. Membela ibu, tapi itukan bapak saya ...ketika anak mendengar ayah ibunya bertengkar : Ibu : "Saya ini cape, saya bersihkan rumah, saya masak, dan kamu datang main suruh begitu, emang saya ini babu ?!!!" bapa : "Saya juga cape, kerja seharian, kamu minta ini dan itu dan aku harus mencari lebih banyak untuk itu, saya datang hormatmu tak ada, emang saya ini kuda ????!!!! Anak : "...... Yaaa ...ibu saya babu, bapak saya kuda .... terus saya ini apa ?"  Kita harus berani berkata : "Hentikan pertengkaran !" ketika anak datang, lihat mata mereka, dalam binarannya ada rindu dan kebersamaan. Pada tawanya ada jejak kerjasama kita yang romantis, haruskah ia mendengar kata basi hati kita ???
5.       Kalau marah jangan sampai matahari terbenam ! .... 
        Nah andai setelah malam kita cemberut lagi, setelah malam kita tatap isteri kita dengan amarah. Maka kita telah mendustaiNya, padahal nyawamu ditanganNya ...... OK, marahlah sepuasnya, tapi ketika matahari terbenam janganlah amarahmu belum padam.... ???
6.     Saling Memaafkan
        Kalau kita saling mencintai, kita harus saling memaafkan, memang dalam hidup ini, selama ada cinta, bertengkar hanyalah "proses belajar untuk mencintai lebih intens" Ternyata ada yang masih setia dengan kita walau telah kita maki maki.
7.        Ingat nostalgia masa lalu
        Untuk meredakan amarah, kembalikan memori kita kepada nostalgia masa lalu yang indah, saat kita berdua merasakan indahnya cinta, kehangatan dan bagaimana kita melewati masa sulit bersama-sama. Niscaya hal itu akan meredakan amarahmu dan mengembalikan cinta yang sempat terhilang.
8.       Ingatlah Efesus 4:26 Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

HTML