Selamat datang di blog sederhana ini, kiranya menjadi berkat bagi kita semua

Kamis, 21 Juni 2012

Khotbah Minggu. 24 Juni 2012


KUASA ALLAH SUNGGUH BESAR
Ev. Ayub 38 : 1-11
38:1 Maka dari dalam badai TUHAN menjawab Ayub:
38:2 "Siapakah dia yang menggelapkan keputusan dengan perkataan-perkataan yang tidak berpengetahuan?
38:3 Bersiaplah engkau sebagai laki-laki! Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku.
38:4 Di manakah engkau, ketika Aku meletakkan dasar bumi? Ceritakanlah, kalau engkau mempunyai pengertian!
38:5 Siapakah yang telah menetapkan ukurannya? Bukankah engkau mengetahuinya? -- Atau siapakah yang telah merentangkan tali pengukur padanya?
38:6 Atas apakah sendi-sendinya dilantak, dan siapakah yang memasang batu penjurunya
38:7 pada waktu bintang-bintang fajar bersorak-sorak bersama-sama, dan semua anak Allah bersorak-sorai?
38:8 Siapa telah membendung laut dengan pintu, ketika membual ke luar dari dalam rahim?
38:9 ketika Aku membuat awan menjadi pakaiannya dan kekelaman menjadi kain bedungnya;
38:10 ketika Aku menetapkan batasnya, dan memasang palang dan pintu;
38:11 ketika Aku berfirman: Sampai di sini boleh engkau datang, jangan lewat, di sinilah gelombang-gelombangmu yang congkak akan dihentikan!

Ep. Markus 4:35-41
4:35 Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: "Marilah kita bertolak ke seberang."
4:36 Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia.
4:37 Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air.
4:38 Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: "Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?"
4:39 Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: "Diam! Tenanglah!" Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.
4:40 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?"
4:41 Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: "Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?"

Pengantar
Pada dasarnya, setiap manusia di dunia ini pasti pernah menghadapi kesusahan dalam hidupnya, hanya berat dan ringannya kesusahan itu yang membedakannya. Namun kita juga bisa katakan bahwa kesusahan itu tidaklah selamanya ada dalam hidup manusia, dengan kata lain bahwa dalam hidup ini, susah dan senang pasti silih berganti.  Seringkali kesusahan yang dianggap berat oleh sebagian orang, menyebabkan hilangnya pengharapan (hopeless), sehingga mengakibatkan adanya orang  yang sampai putus asa bahkan bunuh diri.

Lalu pertanyaannya, siapakah orang yang menghadapi kesusahan? Alkitab berkata bahwa Tuhan menerbitkan matahari dan menurunkan hujan bagi orang benar dan juga bagi orang jahat (Mat. 5:45), demikian juga halnya kesusahan dan penderitaan, tidak hanya dialami oleh orang jahat, tetapi orang benar pun bisa mengalaminya. artinya  Orang yang rajin beribadah maupun orang yang jarang beribadah, sama-sama bisa jatuh dalam kesusahan dan penderitaan.
Jika demikian halnya, lalu pertanyaan berikutnya adalah apakah untungnya menjadi orang benar, jika masih harus mengalami kesusahan dalam hidupnya? Apakah untungnya orang yang rajin beribadah, jika masih tetap susah dan miskin? Pertanyaan tersebut bisa kita jawab setelah kita memahami apa sebenarnya yang dimaksud dengan kesusahan dan penderitaan.
Dalam nats ini, Ayub adalah profil orang benar dan jujur (Ayub 1:1), namun ternyata juga mengalami kesusahan dan penderitaan yang amat sangat besar menurut ukuran manusia. (baca: Ayub 1:1-2:13). Untuk itu mari kita bahas hal ini lebih dalam supaya kita tidak salah memahami arti kesusahan dan penderitaan dalam hidup kita.

Penjelasan nats
  • Sebelum kita bahas nats ini, kita mau lihat dulu profil seorang bernama Ayub yang disebut dalam kitab ini.
  1. Ayub adalah orang saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Dengan singkat kita sebut bahwa Ayub adalah orang benar di hadapan Tuhan. (Ayub 1:1+8;2:3).
  2. Ayub adalah seorang yang sukses, dalam istilah orang batak, dia tergolong dalam kategori 3 H, yaitu memiliki hamoraon, hagabeon dan hasangapon. Hal ini terbukti bahwa dia memiliki 10 orang anak (7 laki-laki dan 3 perempuan, Ayub 1:2) inilah yang disebut hagabeon. Ayub juga memiliki 7000 ekor kambing domba, 3000 ribu ekor unta, 500 pasang lembu, 500 keledai betina, sehingga Ayub disebut orang terkaya dari semua orang di sebelah timur (Ayub 1:3), inilah yang disebut hamoraon. Ayub juga memiliki budak-budak dalam jumlah yang sangat besar, ini boleh masuk dalam kategori hasangapon.
  3. Pada suatu ketika, Allah mengijinkan Iblis mencobai Ayub untuk menguji imanya. (Ayub 1:12). Lalu anak-anaknya dan hartanya ludes, bahkan tidak berhenti sampai disitu, Ayub sendiri pun mengalami penderitaan yang sangat berat dengan barah yang busuk dari telapak kakinya sampai ke batu kepalanya.
  4. Dalam kondisi demikian Ayub tetap teguh imannya, walaupun banyak temannya, bahkan istrinya membujuk dia untuk meninggalkan Tuhan. (Ayub 2:9). Secara umum, kitab Ayub mulai dari pasal 4-37 merupakan pembicaraan antara Ayub dan teman-temannya, ketika teman-temannya tersebut membujuk Ayub untuk menghujat Allah yang disembahnya, sehingga ada suatu saat Ayub terpengaruh dan mulai ingin membela diri di hadapan Allah (Ayub 23:1-17), mengapa dia harus mengalami penderitaan tersebut, padahal selama ini dia mengganggap bahwa dirinya adalah orang benar dan Ayub pun mulai mengalami depresi dan tidak kuat lagi menanggung penderitaannya. Dia merasa bahwa Allah tidak adil sehingga dia berkata : "Demi Allah yang hidup, yang tidak memberi keadilan kepadaku, dan demi Yang Mahakuasa, yang memedihkan hatiku” (Ayub 27:2).
  • Ay. 1-3, Dalam keadaan demikianlah Allah berbicara kepada  Ayub melalui badai, kedatangan Allah adalah untuk menjawab pembelaan diri Ayub dalam penderitaannya. Allah menegaskan kuasaNya, bahwa tidak ada siapapun atau apapun yang bisa membatasi kuasa Allah. Sehingga Allah bertanya kepada Ayub :   "Siapa engkau, sehingga berani meragukan hikmat-Ku dengan kata-katamu yang bodoh dan kosong itu?” (Ay. 2, BIS ).  Pertanyaan ini adalah penegasan akan kuasa Allah yang tidak bisa dijawab oleh Ayub atau siapapun. Lalu dalam Ay. 3, Allah menegur Ayub supaya menjawab pertanyaan-pertanyaan selanjutnya secara gentlemen (sebagai laki-laki).
  • Ay. 4-7, Sepertinya Allah menantang Ayub untuk menjelaskan menurut pengetahuannya tentang perbuatan-perbuatan Allah yang besar dalam dunia ini. Allah memaparkan karyaNya mulai dari penciptaan sampai pengaturan dan pengelolaan alam semesta ini. Allah bertanya : Sudah adakah engkau ketika bumi Kujadikan? (Ay.4), Siapakah menentukan luasnya dunia? (Ay.5), Bagaimanakah tiang-tiang penyangga bumi berdiri teguh? Siapa meletakkan batu penjuru dunia dengan kukuh (Ay.6), Siapakah menutup pintu untuk membendung samudra, ketika dari rahim bumi membual keluar airnya? (Ay. 8, bnd Ayub 26:12).
  • Ay. 9-11, Lalu Allah menambahkan jawaban atas pertanyaanNya untuk menegaskan kuaaNya : “Akulah yang menudungi laut dengan awan dan membungkusnya dengan kegelapan. Aku menentukan batas bagi samudra dan dengan pintu terpalang Aku membendungnya. Kata-Ku kepadanya, 'Inilah batasnya. Jangan kaulewati! Di sinilah ombak-ombakmu yang kuat harus berhenti.”
  • Jika kita baca kitab ini sampai pasal 41, Allah dengan detail menjelaskan tentang kuasaNya kepada Ayub, sampai pada akhirnya Ayub tidak bisa menjawabnya dan mengakui kebesaran Allah sehingga Ayub pun mencabut  perkataannya dan menyesali dirinya di hadapan Allah. Ayub pun berkata :  “Aku tahu, ya TUHAN, bahwa Engkau Mahakuasa; Engkau sanggup melakukan apa saja…. Dahulu, pengetahuanku tentang Engkau hanya kudengar dari orang saja, tetapi sekarang kukenal Engkau dengan berhadapan muka. Oleh sebab itu aku malu mengingat segala perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu." (Ayub 42:2-6). Akhirnya Ayub pun dipulihkan Tuhan bahkan kekayaannya  bertanbah 2 kali lipat dari sebelumnya. Dia pun dikarunia anak-anak seperti sebelumnya bahkan sampai menikmati sisa hidupnya bersama-sama dengan anak cucunya.

Renungan
  • Jika kita renungkan penjelasan nats ini, mungkin kita sedikit lebih mengerti tentang kesusahan dan penderitaan. Yang paling penting kita mengerti adalah apa tujuan Tuhan ketika kita diijinkan mengalami kesusahan dan penderitaan? Dalam Yak. 1:13 dikatakan bahwa Allah tidak mencobai siapapun, artinya pencobaan tidak datang dari Allah. Tetapi Allah mengijinkan pencobaan datang untuk menunjukkan kuasa dan penyertaanNya dalam kehidupan manusia. Sebab lewat penderitaan, Allah bekerja menolong dan menyertai mereka yang senantiasa setia dan teguh imannya kepadaNya.
  • Pemulihan akan berlipat ganda bagi orang yang setia dan mau berseru kepada Tuhan. Tetapi kita harus sabar dan tekun, sebagaimana Roma 12:12 berkata : Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa”.
  • Badai kehidupan, akan selalu terjadi dalam kehidupan orang percaya, namun jika Tuhan beserta kita (Immanuel), maka kita tidak perlu takut, sebab kuasaNya sanggup menghentikan badai besar sekalipun (lht. nats Epistel, Mark 4:35-41).
  • Jangan menjadi orang Kristen yang bimbang dan gampang terpengaruh oleh bujukan dan hasutan dari kiri-kanan, tetapi tetap teguh dalam iman dan percaya bahwa Tuhan sanggung melakukan segala perkara. AMIN !

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

HTML