Selamat datang di blog sederhana ini, kiranya menjadi berkat bagi kita semua

Rabu, 19 Mei 2010

FENOMENA BEGU GANJANG DAN PANDANGAN ORANG BATAK TENTANG BEGU GANJANG


Fenomena Begu Ganjang
Baru-baru ini penduduk Tapanuli Utara, dihebohkan oleh isu Begu Ganjang. Akibatnya Jumat 15 mei 2010, tiga orang sekeluarga dibakar hidup-hidup oleh massa di Muara, kemudian Selasa 18 Mei 2010 masyarakat Dusun Partangga Desa Hutauruk Kabupaten Tapanuli Utara melakukan tindakan penyerangan terhadap keluarga oknum PM karena dicurigai memelihara beguganjang yang mengakibatkan kematiaan beberapa orang warga belakangan ini.

Berikut contoh kasus serupa yang pernah terjadi di daerah ini :
  • Hutaginjang Kecamatan Pakkat, Kabupaten HUMBAHAS heboh karena warga menuduh seorang bapak memelihara begu ganjang dan dialah dituduh yang menyebabkan matinya warga di kampong-kampung sekitarnya. Untuk membuktikan itu mereka pergi ke Onan Ganjang kepada seorang dukun dan dukun itulah yang mengkonfirmasi bahwa dia memelihara begu ganjang.
  • Kasus yang kurang lebih serupa terjadi di salah satu desa di Tobasa, yaitu di Desa Lumban Bagasan, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir. Seorang warga yang sudah tua, EH [70 tahun], dituduh memelihara begu ganjang. EH pernah terlihat menari-nari dengan bertelanjang di halaman rumahnya pada tengah malam. Kejadian ini mendapat ingatan yang makin hidup karena ada warga yang meninggal mendadak serta anak-anak di sana sakit-sakitan. Isu itu diperkuat lagi ketika suatu malam, sekitar pukul 00.00 beberapa bulan lalu, seorang warga memergoki EH bugil dan berlari-lari kecil sembari menari di pekarangan rumahnya. Tak lama berselang, di sebuah dusun lain berjarak 500 meter dari rumahnya, dia lagi-lagi terlihat oleh warga melakukan hal yang sama. “Waktu itu dia menari sambil mengelilingi sebuah pohon aren,” kata sumber Blog Berita Dot Com. EH dituduh memelihara Begu Ganjang karena seorang guru meninggal di desa itu dan kematiannya mendadak tanpa penyakit sebelumnya. Beberapa anak-anak juga dikabarkan sering sakit-sakitan. Semua kejadian itu menurut warga adalah aneh dan perlu orang tersebut dicurigai. Mereka ribut, lalu meminta kepala desa “menyidang” EH. Pertemuan pun digelar. Kala itu EH mengakui bahwa dia memang pernah bugil sambil berlari-lari di halaman rumahnya. “Supaya badanku hangat saja, dan aku tidak pernah pelihara begu ganjang,” katanya. Namun warga desa tetap tidak percaya. Mereka mengumpulkan uang untuk menyewa seorang paranormal terkenal dari Kutacane, Aceh yang ahli mengenali Begu Ganjang.  Paranormal ini masih muda, berusia sekitar 25 tahun, seorang perempuan. Warga berhasil mengumpulkan uang Rp 7 juta untuk dia. Desa heboh, Sekitar 50 orang personal polisi dari Polsek Laguboti dan Polres Tobasa turun ke sana, Mulai pagi hingga sore hari Desa Lumban Bagasan pun ramai didatangi warga dari sejumlah desa dan kecamatan lain. Di sebuah rumah tetangga EH, sang paranormal bersiap-siap menjalankan ritualnya. Dia meminta EH berhadapan dengannya, disaksikan kepala desa dan beberapa orang saksi. Tapi EH tidak bersedia menemui si orang pintar. Akhirnya paranormal tidak jadi melakukan ritual, dan dia pulang setelah mendapat honor. Dan begitulah hampir setiap tahun kehebohan karena kasus begu ganjang terjadi di kabupaten-kabupaten di Sumut. 
  • Tahun 2009, Seorang nenek berusia 72 tahun dan anaknya tewas di bakar hidup-hidup oleh warga di Sibolga, 85 warga diamankan aparat Kepolisian untuk mempertangungjawabkan perbuatan tersebut. Peristiwa ini di picu warga yang menuding sang nenek mempunyai ilmu gaib atau begu ganjang dan memperkaya diri dengan cara sihir, hal ini membuat warga marah dan membakar keduanya dalam rumah. 
  • Masih banyak lagi kasus-kasus serupa yang terjadi khususnya di daerah Sumatera Utara, dan umumnya di Indonesia yang dikenal dengan istilah Santet.Kita coba melihat bagiamana Persepsi Orang Batak khususnya tentang Begu ganjang ( Santet).

Pandangan Orang Batak tentang Begu Ganjang

Keberadaan begu ini menurut salah satu situs orang Batak di internet [www.blogberita.com] diakui karena memang orang Batak mengenal tiga konsep “roh”, yaitu: Tondi, Sahala dan Begu.
  • Tondi adalah jiwa atau roh seseorang yang merupakan kekuatan, oleh karena itu tondi memberi nyawa kepada manusia. Tondi didapat sejak seseorang di dalam kandungan. Bila tondi meninggalkan badan seseorang, maka orang tersebut akan sakit atau meninggal, maka diadakan upacara mangalap (menjemput) tondi dari sombaon yang menawannya.
  • Sahala adalah jiwa atau roh kekuatan yang dimiliki seseorang. Semua orang memiliki tondi, tetapi tidak semua orang memiliki sahala. Sahala sama dengan sumanta, tuah atau kesaktian yang dimiliki para raja atau hula-hula. 
  • Begu adalah tondi orang telah meninggal, yang tingkah lakunya sama dengan tingkah laku manusia, hanya muncul pada waktu malam. Beberapa begu yang ditakuti oleh orang Batak, yaitu:


·         Sombaon, yaitu begu yang bertempat tinggal di pegunungan atau di hutan rimba yang gelap dan mengerikan.
·         Solobean, yaitu begu yang dianggap penguasa pada tempat tempat tertentu
·         Silan, yaitu begu dari nenek moyang pendiri huta/kampung dari suatu marga
·         Begu Ganjang, yaitu begu yang sangat ditakuti, karena dapat membinasakan orang lain menurut perintah pemeliharanya.
Demikianlah religi dan kepercayaan suku Batak yang terdapat dalam pustaha, yang walaupun sudah menganut agama Kristen, dan berpendidikan tinggi orang batak belum mau meninggalkan religi dan kepercayaan yang sudah tertanam di dalam hati sanubari mereka.

Begu ganjang adalah, konon, hantu peliharaan yang bisa disuruh pemiliknya untuk mencari kekayaan, dengan syarat mengorbankan nyawa manusia sebagai tumbal. Begu ganjang; kalau diterjemahkan bebas menjadi hantu panjang. Menurut cerita dari mulut ke mulut, begu ganjang di zaman dulu sengaja dipelihara oleh warga untuk menjaga ladang atau lahan pertanian. Di zaman sekarang fungsi begu ganjang berubah yaitu untuk mencari kekayaan. Si pemilik begu ganjang, konon, harus membunuh seseorang untuk memuluskan niat memperoleh harta itu. Katanya, begu ganjang bekerja pada malam hari khususnya pada jam 24.00 WIB sampai dengan kira-kira pukul 04.00 WIB. Begu Ganjang ini seringkali mengincar wanita yang baru melahirkan. Dalam berbagai kasus, orang yang memelihara begu ganjang sering dituduhkan pada warga pendatang.
Sebagian kecil orang bisa menyaksikan adanya roh dan begu ini. Namun karena tidak bisa banyak orang bisa membuktikannya, penglihatan-penglihatan macam ini sering kali diragukan. Para psikolog atau psikiater gampang menuduh penglihatan macam ini sebagai halusinasi penglihatan dan sering orang tidak mempercayainya secara verbal. Namun demikian, hampir semua individu orang Batak cukup yakin akan adanya begu ini.

Dalam psikologi dikenal Extra Sensory Perception (ESP), yaitu sejumlah pengalaman psikis (psychic) yang berhubungan dengan menerima (perceive) atau mengirim informasi (gambaran-gambaran) diluar proses atau saluran sensori yang normal.
Hampir semua buku yang membahas persepsi dalam psikologi menerangkan bahwa ada empat kemampuan umum dalam ESP ini yaitu telepathy, precognition, clairvoyance dan psychokinesis.
-          Telepathy adalah kemampuan untuk mengirim pikiran-pikiran seseorang kepada orang lain atau membaca pikiran-pikiran orang lain.
-          Precognition adalah kemampuan untuk meramalkan kejadian-kejadian atau mengetahui kejadian sebelum terjadi.
-          Clairvoyance adalah kemampuan untuk mengerti kejadian-kejadian atau objek diluar penglihatan.
-          Psychokinesis adalah kemampuan untuk menguasai benda lewat pikiran misalnya dengan menggerakkan benda-benda tanpa menyentuh mereka.
Kekuatan psikis atau ESP ini disebut psi phenomena  atau fenomena psi (Plotnik,:138; Moran, 1999).
Setengah penduduk Amerika, Negara dimana penelitian tentang ini dibuat, percaya bahwa ada persepsi ini namun para psikolog masih tetap bergulat untuk membuktikan persepsi ini dengan penelitian yang teruji. Dan sampai sekarang banyak psikolog tetap masih ragu akan ESP karena belum ada dukungan scientific tentang ini karena itu masih banyak dari mereka yang berminat untuk terus mengadakan penelitian tentang ini (Feldman, 2005:132-133). Perjuangan yang sama tetap hidup di daerah ini. Meskipun belum ada usaha penelitian yang keras secara metodologi seperti yang diadakan di Amerika, isu tentang adanya begu ganjang masih tetap hidup. Lebih jeleknya, efeknya untuk kehidupan bersama kita nampaknya lebih terasa karena banyaknya orang yang tiba-tiba sakit atau meninggal tanpa tahu alasan yang yang pasti. Walaupun demikian efek-efeknya untuk kebanyakan orang tetap menjadi sumber-sumber kecemasan dan ketakutan.
Memang sebagian besar konflik-konflik batin ini seringkali tidak ditampakkan dan nampak tenang di permukaan tetapi untuk seseorang atau keluarga api terus berkobar dan menyala. Karena itu pula secara diam-diam, orang yang sudah dipenuhi dengan “ego” ini secara diam-diam mencari penyelesaian dengan menggunakan energi negatif. Kalau keahlian itu tidak ada padanya sering kali hal ini dimintakan kepada orang pintar atau belajar dari orang pintar dan kalau kemampuan itu dia punya, dia akan berusaha mentransfer itu dengan segala usaha dan cara sehingga orang lain yang “dianggapnya” bersalah akan kena. Dengan kata lain, selain konfrontasi fisik (jarang sekali terjadi), penyelesaian seringkali dibuat dengan cara mistik atau guna-guna termasuklah di dalamnya dengan tenaga begu ganjang.
Praktek mar-beguganjang ini sangat sulit dibuktikan tetapi hampir semua orang yakin bahwa cara ini ada dan sangat mengerikan karena itu tidak hanya membuat penyakit aneh-aneh yang tidak bisa diobati dokter tetapi terlebih bisa membuat kematian tiba-tiba sebagaimana telah diceritakan sebelumnya.
Di daerah, hal ini semakin sulit dibuktikan karena memang kalau orang sakit masih jarang dibawa ke Rumah Sakit. Penduduk di daerah ini masih jarang mengadakan check up atau pemeriksaan yang teratur ke rumah sakit. Karena itu, kematian atau penyakit seseorang sering kali dianggap tiba-tiba dan penyebabnya sering dilemparkan kepada kuasa kegelapan. Padahal mungkin penyebab aslinya ialah karena dia mengidap penyakit yang belum diperiksakan secara medis sebelumnya. Tambah lagi, alat-alat pemeriksaan Rumah Sakit kita di daerah ini masih sangat terbatas. Sering tenaga medis mendiagnose suatu penyakit hanya berdasarkan stetoskop atau interview singkat.
Karena itu sulit sekali membuktikan kasus begu ganjang ini. Sulit sekali juga membuktikan bahwa orang tersebut memelihara beguganjang karena memang tidak bisa dilihat oleh mata dan disentuh oleh tangan. Yang ada adalah bahwa orang yang sakit secara tiba-tiba dan mengalami ketakutan-ketakutan aneh sering secara diam-diam pergi berobat ke orang pintar. Para orang pintar sering memberitahukan bahwa penyakit dan kematian orang tertentu dibuat oleh orang tertentu yaitu par-beguganjang. Orang pintar pun sering tidak menyebut secara langsung orangnya tetapi menunjuk pada ciri-cirinya. Tambah lagi, si korban yang sembuh justru sering diam-diam dan menghindari orang pembuat penyakit dan kematian tersebut.
Situasi macam ini mencipta kebencian baru, sakit hati dan dendam. Rasa sakit hati, dendam melemahkan sistim kekebalan tubuh. Bila hal ini tidak diatasi dengan cara yang positip yaitu dengan mengampuni seperti yang diminta oleh Yesus, maka suatu usaha baru untuk balas dendam akan terjadi. Kondisinya pun semakin lemah dan gampang sakit. Bila memang cara Tuhan tidak dipakai untuk mengatasi masalah ini maka akan ada kemungkinan untuk menggunakan mistik pula untuk membalaskannya atau bahkan dengan agressi, pembakaran atau pembunuhan atas orang yang dituduh par-begu ganjang seperti terjadi di Muara, Sipoholon, Kecamatan Pakkat, Humbahas dan Palipi, Tobasa tahun 2000. Hukum yang berlaku bagi orang yang tidak mengenal Tuhan ialah mata ganti mata dan gigi ganti gigi.
Dengan demikian, isu begu ganjang adalah isu yang cukup pelik apakah itu muncul karena ketakutan dari dalam yang luar biasa sehingga menghasilkan halusinasi begu ganjang atau itu terjadi karena orang lain yang mentransfer energi negatif dalam rupa begu ganjang sehingga membuat orang sakit dan mati tiba-tiba karena ketakutan dan shock?
Sayang sekali orang-orang yang memiliki ESP di Amerika belum bisa menerangkannya kekuatan mereka secara ilmiah. Ada kekuatan itu tetapi bagaimana pembuktiannya secara ilmiah masih tetap dinanti.
Para ahli ini membuat kita makin sadar bahwa ada kekuatan itu dan kekuatan itu masih perlu dipelajari sehingga suatu saat kita makin bisa mengenalinya, kalau bukan karena kita memiliki ESP sekurang-kurangnya karena secara ilmiah bahwa begu ganjang telah terbukti.
Tetapi satu hal yang harus kita ingat, terbukti atau tidak keberadaan beguganjang, kita punya keyakinan bahwa Roh yang ada pada kita lebih besar daripada roh yang di di dunia ini.
Sumber :
-          Pastor Dr Sirilus Manalu OFMCap. MA : Tuak dan Begu Ganjang
-          Sumber berita beberapa Media Online dan Surat Kabar Daerah dan Nasional
-          Tayangan Televisi Nasional





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

HTML