Selamat datang di blog sederhana ini, kiranya menjadi berkat bagi kita semua

Jumat, 24 Juli 2015

Review Perjalanan Pulang Kampung


60 Jam di Lintas Sumatera Tigaraksa - Sibolga
Libur Lebaran 2015, kerinduan akan kampung halaman membuat kami sekeluarga harus menempuh perjalanan darat selama ± 60 jam dari Tigaraksa, Tangerang menuju Sibolga, Tapanuli Tengah.
Semangat untuk berangkat telah ada sejak sebulan sebelumnya, sehingga persiapan untuk itu pun sudah benar-benar matang. Ijin cuti dari pekerjaan dan sekolah anak-anak kami telah dikantongi melebihi cuti bersama Hari Raya 2015.
Jumat malam, 10 Juli 2015 Pkl. 10.00 Wib perjalanan dimulai dari rumah di Tigaraksa, dengan mengendarai mobil Avanza G tahun 2011, kami sekeluarga (7 orang) melalui Tol Balaraja barat menuju Merak Banten yang ditempuh sekitar 2 Jam (Di Rest area Tol Balaraja – Merak mampir untuk isi Bensin Fulltank, 33 liter). Tiba di Pelabuhan Penyeberangan Merak Pkl. 12.05 Wib, langsung masuk ke area Pelabuhan setelah membeli Tiket Penyeberangan seharga Rp. 347.000. Setelah menunggu sekitar setengah jam, mobil kami pun meluncur masuk ke dalam kapal Roro dan diarahkan mengambil pakir di bagian lantai 2 kapal penyeberangan tersebut. Setelah parkir dengan baik, kami sekeluarga keluar dari dalam mobil dan naik ke bagian atas kapal untuk beristirahat. Setelah menunggu sekitar seteangah jam, Kapal Roro pun bergereak meninggalkan dermaga Pelabuhan Merak sekitar Pkl. 01.00 dini hari.
At cafetaria Kapal Roro
Ternyata fasilitas istirahat penumpang kapal Roro tersebut cukup memadai, ada ruangan-ruangan tidur yang bisa diisi sekitar 20 orang, dan ada cafetaria besar dengan kursi dan meja kapasitas 200 orang. Saya, istri dan anak bungsu kami Grace (umur 10 tahun) langsung mengambil tempat di ruangan untuk tidur, sementara anak-anak saya yang lain (Niel, Kiki, Ridho dan Echa) nongkrong di kafetaria. Sebelumnya saya membayangan akan bisa tidur nyenyak di dalam kapal untuk bisa fit mengendarai mobil setelah mendarat di Bakahueni, ternyata mata saya tidak bisa diajak kompromi untuk tidur, lalu saya keluar ruangan dan berjalan-jalan sekitar kapal. Lalu saya melihat di dalam satu ruangan ada orang yang menawarkan jasa pijit (jangan negatif dulu, tukang pijit nya laki-laki semua kog). Saya pun langsung minta dipijit kaki dengan harapan akan kuat untuk menginjak kopling, rema dan gas selama perjalanan. Pemijitan berlangsung selama setengah jam dan saya pun merasa kaki saya segar, tarif jasa pijit Rp. 30.000,-.
Sekitar Pkl. 03.30 subuh, seluruh penumpang diminta meninggalkan ruangan tidur karena kapal akan segera sandar di Pelabuhan Bakahueni. Kami pun turun ke tempat parkir mobil dan menunggu antrian turun dari kapal sekitar 30 menit. Sekitar Pkl. 04.00, mobil kami pun keluar dari perut kapal Roro dan menyentuh tanah daratan sumatera.
Pagi itu, sudah hari Sabtu, 11 Juli 2015, Pkl. 04.00 pagi, hari masih gelap dan kami pun mengawali perjalanan lintas sumatera. Dalam kondisi masih gelap dan jalanan sepi kami pun mulai menyusuri jalan lintas timur sumatera melewati Ketapang, Way Jepara, Seputih banyak, Menggala hingga Tulang bawang sepanjang kurang lebih 240 Km. Dengan kecepatan  50-60 km/jam kami tiba di Tulang Bawang sekitar Jam 08.30 Pagi. Kemudian berhenti di Sebuah SPBU untuk istirahat dan sarapan (sarapan telah disiapkan dari rumah, nasi, lauk dan Pop Mie), sekaligus mengisi bensin (Sekitar 30 liter).       
Setelah istirahat sekitar 1 jam, kami melanjutkan perjalanan menuju Palembang   melewati Teluk Gelam, Kayu Agung, Indralaya hingga Palembang menempuh perjalanan sepanjang lebih kurang 230 km. Karena jalan banyak yang berlubang, perjalanan menjadi lebih lambat dan tiba di Palembang sekitar Pkl. 15.30 Wib.
Memasuki Kota Palembang, anak-anak ingin menikmati suasana di Jembatan Ampera dan kami pun berhenti di pinggi sungai Musi, berfotoria (anak saya menyebutnya Selpott alias Selfie), kemudian menikmati Empek-empek Palembang, kemudian makan malam di Riverside Restaurant yang tepat berada dipinggir sungai Musi. Restaurant penuh dengan pengunjung yang ingin berbuka puasa di tempat tersebut dan kami pun terpaksa menunggu waktu berbuka untuk memulai makan (karena ngak enak makan sendiri sementara yang lain masih menunggu bunyi bedug).
Dipinggir Sungai Musi, Jembatan Ampera Palembang



Sekitar 3,5 jam di sekitar Jembatan Ampera, Pkl. 19.00 Wib kami melanjutkan perjalanan meningalkan  Kota Palembang , Untuk keluar dari Kota Palembang ternyata harus melalui kemacetan di dalam kota sekitar 1 Jam. Setelah lepas dari kota Palembang memasuki Jalan Lintas Timur Sumatera, kami menyusuri kegelapan malam hingga tiba di Sungai Lilin sekitar Pkl. 23.00 Wib. Kecapekan, mata mulai berat dan ngantuk mulai menyerang ditambah jalan sepi membuat kami memutuskan untuk berhenti Istirahat di sebuah SPBU sekaligus mengisi bensin (±20 liter). Kami pun tertidur di dalam mobil, istri saya mengambil tikar dan tidur di luar. Pkl. 01.00 Wib, saya terbangun dan memutuskan untuk melanjytkan perjalanan menuju Jambi. Di pagi hari yang masih gelap kami meyusuri jalan lintas timur sumatera dengan beberapa mobil pemudik yang juga memberanikan diri melintasi jalan tersebut. Jalan berlubang mewarnai perjalanan kami melewati SungaiLilin, Bayung Lincir hingan Simpang Tempino Jambi, sekitar 177 Km. Dalam perjalanan tersebut terkadang kami merasa ngeri karena sering kali tidak ada satu mobil pun yang lewat (Sebelumnya ada orang yang mengingatkan supaya tidak melewati jalur Palembang – Jambi pada malam hari, karena jalan rusak dan perampokan sering terjadi wilayah tersebut). Namun Tuhan menyertai kam hingga tiba di Simpang Tempino sekitar Pkl. 04.00 Wib. Dari Tempino kami tidak menuju Kota Jambi, tetapi mengambil jalan lintas ke Muara Bulian, Muara Tebo dan Muara Bungo sepanjang  lebih kurang 250 Km. Jalan Tempino - Muara Bulian rusak dan berlubang.   
Minggu, 12 Juli 2015, Sekitar Pkl. 08.00 pagi kami tiba di Muara Tebo dan beristirahat di sebuah SPBU, istri dan anak-anak mandi dan saya pun menyempatkan diri untuk tidur sejenak. Kemudian  sekitar Pkl. 09.00 kami melanjutkan perjalanan ke Muara Bunga sekitar 50 Km dari Muara Tebo. Tiba Muara Bungo lebih kurang Pkl. 10.00. Kami pun memasuki Jalan Lintas Tengah Sumatera dan berhenti di sebuah Rumah Makan Padang (ternyata tetap buka, meskipun bulan puasa). Disana kami sarapan sekaligus makan siang (Makan Jam 10 pagi itu sarapan atau makan siang?).
Melanjutkan perjalanan menuju Bukit tinggi melintasi Jalan Lintas Tengah Sumatera, setelah melewati propinsi Jambi, ternyata jalan lintas sepanjang Sumatera Barat sangat mulus, berbeda dengan jalan lintas Sumatera Selatan – Jambi. Kemudian kami melintasi wilayah Sumatera Barat (Sungai Dareh, Kiliran Jao, Kotabaru, Danau Singkarak, Pd. Panjang)  sepanjang lebih kurang 300 Km hingga tiba di Bukit Tinggi sekitar Pkl. 17.00 Wib.  Dalam perjalanan melewati Danau Singkarak, anak saya yang paling besar, Niel,  saya minta untuk mengganti saya menjadi Driver hingga sampai di Bukit Tinggi.
Jam Gadang, Bukit Tinggi




Setibanya di Bukti Tinggi kami langsung menuju lokasi Jam Gadang untuk berfoto ria, kemudia mencari rumah makan di sekitar lokasi tersebut. Kami pun menikmati makan malam di warung padang sederhana (bukan namanya Sederhana,  tapi warungnya yang sederhana). Ternyata menurut anak-anak rasa makanannya kurang memuaskan. Namun apa boleh buat, sudah terlanjur masuk dan makan seadanya. Kemudian setelah makan, kami pun mencari oleh-oleh khas Padang, Kerupuk Sanjai.
Setelah menikmati keindahan Kota Bukit Tinggi sekitar 3 jam, sekitar Pkl. 20.00 Wib kami pun melanjutkan perjalanan menuju Padang Sidempuan, dari Kota bukit Tinggi turun melewati jalanan sempit dan berkelok menuju Bonjol dan Lubuk Sikaping. Dalam perjalanan melewati jalan menurun dan berkelok, ada insiden senggolan antara Bus ALS arah Padang Sidempuan dengan mobil truk yang menanjak ke arah Bukit Tinggi. Insiden itu sempat membuat kemacetan di jalur tersebut.
Pkl. 24.00, kami melewati Lubuk Sikaping setelah menempuh perjalanan sekitar lebih kurang 100 Km dari Bukit Tinggi. Saya berhenti di sebuah warung makan, memesan kopi lalu tertidur pulas di sebuah pondok lesehan.
Senin, Pkl. 03.00, saya dibanguni anak-anak untuk melanjutkan perjalanan. Di pagi hari yang masih gelap, kami pun kembali menyusuri jalan sepi melewati   Lubuk Sikaping-Bonjol-Panti-Rao-Muarasipongi-Kota Nopan-Penyabungan-Padang Sidempuan, sekitar 170 km, tiba di Padang Sidempuan sekitar Pkl. 07.00 pagi, langsung melewati Kota Padang Sidempuan menuju Sibolga, mampir sebentar membeli sarapan sebelum Batang Toru.
Akhirnya, Pkl. 08.00 Wib tiba di Sibolga setelah menempuh perjalanan selama lebih kurang 60 jam (termasuk istirahat dan wisata) dari Tigaraksa Tangerang, dengan jarak lebih kurang 1750 km, menghabiskan Bahan bakar bensin lebih kurang 135 liter. Nice Trip and Great Adventure……Hilang lelah setelah bertemu dengan Omak dan adik sekeluarga.............Happy Full !!!
Kel. Op. Niel Nainggolan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

HTML