Selamat datang di blog sederhana ini, kiranya menjadi berkat bagi kita semua

Sabtu, 14 November 2009

Rekayasa versus Rekayasa


Kasus Cicak & Buaya (KPK & POLRI) yang banyak diberitakan media, dalam pengamatan saya mempertontonkan banyak hal yang memuakkan, lucu, aneh dan tak masuk akal. Pernyataan-pernyataan yang dilontarkan para pejabat, politikus, pengamat dan para ahli hukum sekalipun banyak diwarnai kemunafikan.


Mari kita lihat satu persatu :
  • Terbunuhnya Nazaruddin Zulkarnain diduga melibatkan konspirasi tingkat tinggi antara Antasari Azhar ( Ketua KPK pada saat itu ), Wiliardi Wizar ( Perwira Polisi ) dan Sigit HW. Motifnya hanya karena sorang "caddy" cantik? (Tidak masuk akal)
  • Testimoni Antasari tentang suap di tubuh KPK? (kenapa baru sekarang?)
  • Kasus Century yang melibatkan Susno Duaji, diselidiki KPK, Susno yang merasa terusik menangkap Pimpinan KPK dengan dasar testimoni Antasari dan Laporan Anggodo Wijoyo (Pembalasan)
  • Kasus Anggoro (PT.Masaro), diduga menjadi dasar pemerasan yang melibatkan Anggodo Wijoyo yang mengaku memberikan dana ke KPK lewat Ari Muladi, terus ke Ade Raharja (KPK), belakangan kesaksian dirobah menjadi lewat Yulianto (misterius). (Jaringan Markus)
  • Anggodo yang sudah mengaku memberi uang karena diminta (diperas?), hanya dimintai kesaksian (bukan tersangka penyuapan, ada apa?)
  • Rekaman telepon Anggodo, Wisnu (kejaksaan), yang menyebut-nyebut nama Susno, bahkan ada nama RI-1 menjadi infotaiment yang ditampilkan dalam sidang MK yang mulia. Dimana para pendengarnya (peserta sidang MK) ada yang tersenyum-senyum, ada mangut-manggut, ada yang tertawa, ada yang berkomentar keras...(semuanya munafik)
  • Kesaksian Wiliardi Wizar yang menyebut bahwa pembunuhan Nazaruddin Zulkarnain adalah perintah atasan demi tugas negara, semakin membuat bingung para awam. Rekayasa apalagi ini?
Akhirnya kita sebagai rakyat awam hanya bisa menonton dan termangu, sebegitu hebatkah elite Indonesia mempermainkan hukum dan melakukan rekayasa-rekayasa kasus, mana yang benar mana yang bohong? hukum sudah tidak mampu lagi menilainya. Akhirnya kita hanya berharap pada rumput yang bergoyang, kemana arah angin akan membawanya terayun kesanalah kita berpaling. Hanya Dia yang Mahatahu.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

HTML