Selamat datang di blog sederhana ini, kiranya menjadi berkat bagi kita semua

Jumat, 24 April 2009

TIPS UNTUK MENGHILANGKAN KEPAHITAN

Adakah orang yang menyakiti hati Anda teramat dalam selama ini? Pikirkan sejenak sejak masa kecil hingga kemarin sore. Mungkin orangtua Anda sendiri, mungkin keluarga dekat, mungkin rekan sekerja, tetangga atau yang sama sekali tidak Anda kenal. Saya tidak bermaksud mengungkitnya untuk menambah rasa sakit yang Anda rasakan. Saya hanya ingin menawarkan sebuah anjuran untuk melepaskan akar kepahitan itu agar Anda dapat menjalani hidup ini dengan segala keindahannya tanpa beban non-salib. “Bagaimana mungkin saya melupakannya? Tindakannya begitu amat dalam menggores hati saya?”, mungkin Anda berkata dalam hati. Masalahnya adalah, “Apakah Anda mau bebas dari kepahitan?” Itu sepenuhnya pilihan Anda.

Mungkin lebih baik langsung saja kita bicarakan bagaimana menebas akar kepahitan itu. Ingatlah orang yang menyakiti Anda apa adanya (orangtua, teman, keluarga dekat, guru, pelayan gereja atau siapa saja). Jangan pikirkan semuanya sekaligus. Pikirkan satu orang saja dulu dan lanjutkan kepada orang yang lain nanti atau besok. Ini yang kiranya perlu Anda pertimbangkan: 1. Memahami dengan empati Sikap dan perilaku seseorang biasanya merupakan hasil dari berbagai ‘pembentukan’ mulai dari masa kecil. Orang yang diperlakukan tidak adil, penuh kekerasan, tidak dihargai, selalu dicela biasanya akan masuk dalam barisan ‘orang-orang sulit’, jika tidak memutus akar kepahitan. (Itu sebabnya kita perlu memutus akar kepahitan ini, supaya kita tidak terjebak dalam perangkap Iblis dengan melakukan dan mewariskan apa yang justru tidak kita sukai). Jadi, kalau ada orang yang menyakiti Anda, berusahalah memahami keberadaan orang itu. Kemingkinan besar ia perlu ditolong. Ia hanya mengeluarkan apa yang ada dalam dirinya. Dengan memahami keberadaan orang yang menyakiti kita, kita akan lebih mudah mengampuninya apakah dia minta maaf atau tidak. 2. Melihat kebaikan Sejelek-jeleknya manusia, ‘pasti’ ada kebaikannya. Dengan fokus pada kebaikan orang rasa tidak senang bahkan rasa benci akan berkurang jika tidak sirna secara keseluruhan. Kita tidak sempat (mungkin lebih tepat ‘tidak rela’) melihat kebaikan orang karena hati kita begitu kuat dicengkeram kebencian. Dalam keadaan demikian, malah kita ‘membutuhkan’ keburukan orang lain agar dapat kita daftarkan dan sebarkan kepada orang lain sebagai ‘bukti pendukung’ betapa orang itu kejam dan menonjolkan sikap kebinatangbuasannya. Sekali lagi, kali ini lihat dengan jernih kebaikan-kebaikannya. Apalagi kalau orang yang menyakiti Anda adalah orangtua sendiri, Anda tentu lebih mudah melihat kebaikan-kebaikannya meskipun dia memperlakukan Anda dengan keras bahkan kasar di masa lalu dan hingga hari ini setelah Anda berkeluarga masih dianggap anak-anak. 3. Tolak sikap dan perilaku buruknya, terima dan kasihi orangnya Sulit? Tentu! Bahkan, mungkin salah satu yang paling sulit dalam merawat hubungan baik dengan sesama. Tetapi tidak ada jalan lain. Kita ingat bahwa perubahan Zakheus bukan karena dibenci oleh orang-orang disekitarnya, melainkan karena dikasihi oleh Yesus. Kasihi mengubah orang lain. Sifat pemarah, tidak peduli, pelit, pemfitnah, pembohong, penipu harus kita benci, tetapi orangnya tetap kita terima sebagai manusia dan mengasihinya dengan kasih Tuhan. Dalam hubungan dengan orangtua yang menyakiti kita misalnya, kita tetap “menghormati mereka” tanpa ‘menghormati perlakuan buruk mereka”.

..

4. Renungkan kontribusi Anda Mungkin Anda tidak suka yang satu ini. Tetapi ia merupakan bagian tidak terpisahkan. Sudah sifat alami kita untuk lebih banyak melihat masalah pada orang lain. Dari kepahitan yang kita alami, kita perlu meneliti hidup kita sejauh mana kita memberi ‘sumbangan’ terhadap kepahitan itu sendiri. Ini tidak dimaksudkan agar kita menyalahkan diri sendiri bahkan benci diri. Sedikitnya dua hal penting di sini. Pertama, dengan melihat ‘kontribusi’ kita pada masalah yang kita hadapi, kita lebih toleran kepada orang lain. Kedua, kita bisa mengubah diri mulai saat ini dalam bersikap dan bertindak. .

5. Mengingat tanpa memikirkan Kita tidak berkuasa melupakan sesuatu. Sebab, ketika kita berusaha melupakan sesuatu, justru pada saat yang sama kita mengingatnya. Sama halnya dengan perbuatan orang lain yang menyakiti kita, mungkin sulit atau bahkan tidak mungkin kita lupakan. Tidak apa-apa! Yang penting ialah, jangan ‘pikirkan lebih jauh’. Jangan ulas secara rinci apalagi menambahkan bumbu ke dalamnya sehingga semakin enak dan asyik memikirkannya. Iblis pasti bertepuk tangan jika Anda mengolahnya terus dalam benak Anda. Ketika Anda mengingat sesuatu yang menyakiti Anda, pikirkan yang lebih bermanfaat. Anda punya ‘kuasa’ untuk memilih mana yang Anda pikirkan. Jangan mau menjadi budak masa lalu Anda. Itu akan melumpuhkan kehidupan Anda hari ini dan mengaburkan masa depan. 6. Melayani Tuhan tidak mungkin mengikuti ego Pikirkan hal ini secara mendalam. Anda mungkin mengklaim diri sebagai pelayan Tuhan. (Sesuai dengan Ef 4:11-12, semua orang percaya terpanggil mengemban tugas pelayanan gereja. Fungsi pelayanan memang berbeda, tetapi semua adalah pelayan). Bagaimana mungkin Anda ‘melayani’ Tuhan dalam waktu yang sama Anda ‘mengikut’ ego sendiri. Pelayan Tuhan mestilah pengikut Tuhan. Agar pelayanan kita berbuah sebagaimana diharapkan oleh Sang Pemilik pelayanan itu, marilah kita minta pertolonganNya untuk ‘menjinakkan’ ego kita yang rewel itu. 7. Nafas pengampunan Secara teknis, Anda boleh melakukan latihan pernafasan pelepas asap kebencian dan kemarahan. Sadarilah pernafasan Anda. Hirup udara secara perlahan melalui hidung. Rasakan betapa sejuknya pemberian Tuhan yang masih gratis ini (Mudah-mudahan tidak akan pernah kita bayar seperti layaknya listrik dan air). Anda menghirup kebaikan Tuhan yang menghidupkan. Resapkan hal ini dalam hati. Keluarkan udara melalui mulut. Rasanya hangat. Bayangkan yang keluar itu seperti ‘asap’ --asap kebencian, kemarahan dan kepahitan. Dan yang paling penting, mari kita undang Roh Kudus diam dan bertakhta dalam hati kita. Segala kepahitan pun akan dengan sendirinya tidak tahan mendekati kuasa Roh yang berkuasa dan bertahta dalam hidup kita.

Sumber : Victor Tinamabuan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

HTML